Kultum Ramadhan: Bulan Puasa, Sekolah Akhlak untuk Keluarga Bahagia - NU Online
Kultum Ramadhan: Bulan Puasa, Sekolah Akhlak untuk Keluarga Bahagia
Bulan Ramadhan selalu datang membawa suasana yang berbeda. Udara terasa lebih teduh, masjid lebih ramai, dan hati umat Islam lebih mudah tersentuh. Namun sejatinya, Ramadhan bukan hanya tentang perubahan suasana, melainkan tentang perubahan jiwa. Ia adalah madrasah akhlak, sekolah pembentukan karakter, yang paling nyata dampaknya justru di dalam rumah tangga.
Puasa mengajarkan lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga. Sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, seseorang dilatih untuk mengendalikan diri. Dalam konteks keluarga, pengendalian diri adalah fondasi utama keharmonisan.
Tidak sedikit konflik rumah tangga muncul bukan karena persoalan besar, tetapi karena emosi yang tak terkendali dan kata-kata yang melukai. Ramadhan hadir untuk melatih kesabaran itu. Jika rasa haus saja mampu kita tahan, seharusnya amarah pun mampu kita redam. Jika makan saja bisa ditunda, maka keinginan untuk membalas dengan kata-kata kasar pun seharusnya dapat dikendalikan.
Tidak heran, Allah Swt memberikan peringatan kepada kaum mukminin agar mereka tetap mengawasi keluarganya. Sebagaimana yang tercantum dalam surat At-Tahrim ayat 6:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Syekh Ali ash-Shabuni dalam Shafwatut Tafasir, jilid 3, halaman 386, menjelaskan bahwa surat At-Tahrim ayat 6 menekankan tanggung jawab kepala keluarga. Kepala keluarga bertugas memastikan istri dan anak-anaknya tetap berada di jalan kebaikan, sehingga terhindar dari perilaku yang bisa membawa mereka kepada api neraka.
(يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُواْ قُوْا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً) أَيْ يَا مَنْ صَدَقْتُمْ بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهِ وَأَسْلَمْتُمْ وُجُوَهَكُمْ لِلّٰهِ، احْفَظُوْا أَنْفُسَكُمْ، وَصُوْنُوْا أَزْوَاجَكُمْ وَأَوْلَادَكُمْ، مِنْ نَارٍ حَامِيَةٍ مُسْتَعِرَةٍ، وَذَلِكَ بِتَرْكِ المَعَاصِي وَفَعْلِ الطَّاعَاتِ، وَبِتَأْدِيْبِهِمْ وَتَعْلِيْمِهِمْ
Artinya: “(Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka) maksudnya ialah ‘wahai kalian orang-orang yang membenarkan adanya Allah dan rasul-Nya serta wahai kalian orang-orang yang menundukkan pandangan kepada Allah, jagalah keluarga kalian, lingungilah istri dan anak-anak kalian dari api yang panas dan berkobar, dengan cara (memerintahkan mereka) meninggalkan maksiat dan melakukan ketaatan (kepada Allah), serta mendidik dan mengajarkan (ilmu) kepada mereka.”
Seperti yang dijelaskan oleh Ash-Shabuni, bahwa salah satu upaya yang harus kita tempuh untuk memelihara keluarga dari api neraka ialah dengan mendidik dan mengajarkan mereka ilmu.
Maka perlu diketahui, bahwa momen Ramadhan atau bulan puasa ini merupakan saat yang cocok untuk kita gunakan sebagai masa untuk membina akhlak keluarga secara umum. Sebab banyak alternatif kegiatan yang aplikatif untuk digunakan.
Setidaknya terdapat tiga cara yang dapat kita lakukan untuk membina akhlak keluarga di bulan Ramadhan, yakni:
1. Mengajak mereka untuk berlaku dermawan
Cara pertama ini dapat kita lakukan dengan cara-cara sederhana, dimulai dari kebiasaan di rumah. Misalnya kita sebagai orang tua menyisihkan sebagian rezeki untuk sedekah secara terbuka dan disaksikan oleh segenap anggota keluarga, khususnya anak-anak, kemudian menjelaskan bahwa tindakan tersebut merupakan upaya berbagi kepada sesama dan bentuk syukur atas nikmat Allah.
Selain itu kita juga bisa menjelaskan kepada mereka bahwa meningkatkan kedermawan di bulan Ramadhan merupakan kebiasaan yang selalu dilakukan oleh Rasulullah Saw. Sebagaimana sabda Rasulullah;
أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ
Artinya: Sungguh Ibnu Abbas ra telah berkata, Nabi Saw adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan, dan masa paling dermawannya ialah pada bulan suci Ramadhan. (HR. Bukhari)
2. Mengajak keluarga hidup dalam disiplin
Selanjutnya, disiplin dalam Islam juga merupakan cerminan dari perilaku terpuji. Karena dengannya segala aktivitas bisa dikerjakan sesuai dengan porsi dan waktunya. Maka dalam bulan puasa, rutin melakukan sahur dan berbuka adalah latihan disiplin yang dapat kita terapkan untuk membentuk akhlak keluarga.
Adapun disiplin dalam sahur dapat ditanamkan dengan menjelaskan kepada segenap anggota keluarga, bahwa sahur dan menyegerakan berbuka adalah amalan yang dicintai oleh Rasulullah Saw.
Alasan Nabi gemar bersahur, sebab di dalam aktivitas tersebut, terdapat keberkahan dari Allah Swt. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits:
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
Artinya: Dari Anas Ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Muslim)
Selanjutnya, alasan Nabi Saw itu gemar menyegerakan berbuka, sebab dalam aktivitasnya tersebut, ia seakan-akan menjemput kebaikan yang disediakan oleh Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits:
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
Artinya: Dari Sahl bin Sa’d, bahwa Nabi Muhammad bersabda: “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”
3. Mengajarkan anak dan istri untuk berkata jujur
Kemudian, cara ketiga ini dapat kita lakukan dengan cara mengingatkan mereka, bahwa menjaga lisan untuk tidak berkata kotor merupakan bagian dari puasa. Sebab puasa adalah perisai bagi siapa saja yang menjalankannya dan Nabi Saw melarang untuk berkata kotor di dalamnya. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ: الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا: فَلَا يَرْفُثْ، وَلَا يَجْهَلْ،
Artinya: Dari Abu Hurairah, Sungguh Nabi Saw telah bersabda: “Puasa adalah perisai. Maka apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, janganlah ia berkata kotor dan janganlah pula bertingkah bodoh.” (HR. Bukhari)
Tiga cara sederhana yang telah dijelaskan sebelumnya dapat kita gunakan untuk mendidik keluarga di bulan puasa Ramadhan ini. Dengan membiasakan sikap dermawan, melatih kedisiplinan saat melaksanakan sahur dan berbuka, serta menjaga lisan untuk tidak berkata kotor, kita sudah berupaya menanamkan nilai-nilai terpuji kepada keluarga. Sehingga dengannya keluarga bisa terpelihara dari api neraka.
Dari pembahasan ini juga dapat kita sama-sama simpulkan, bahwa Bulan Puasa Ramadhan bisa menjadi madrasah atau sekolah yang berguna untuk menempa akhlak keluarga. Wallahua’lam bisshawab.
-----------
Muhaimin Yasin, Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman