Kultum Ramadhan: Keutamaan Bersedekah kepada Keluarga Terdekat - NU Online
Bersedekah merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Sedekah, tidak hanya bernilai ibadah di sisi Allah SWT saja, tetapi juga bentuk kepedulian sosial kepada sesama. Melalui sedekah, kita bisa belajar membersihkan harta dan menumbuhkan empati terhadap orang lain.
Keutamaan sedekah menjadi semakin besar ketika memasuki bulan Ramadhan. Pada bulan ini, semua amal kebajikan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah swt, termasuk pahala sedekah. Karenanya, tidak heran jika pada bulan Ramadhan semangat bersedekah terasa begitu kuat. Berbagai bentuk kebaikan dilakukan, mulai dari memberi makan orang yang berpuasa, membantu fakir miskin, hingga menyalurkan sedekah melalui berbagai program sosial.
Namun di balik semangat berbagi yang begitu besar itu, kita seringkali salah dalam memprioritaskan perihal kepada siapa seharusnya sedekah itu didahulukan. Tidak jarang, kita begitu bersemangat bersedekah kepada orang-orang yang jauh, tetapi justru lalai terhadap orang-orang terdekat yang hidup bersama kita.
Prioritas dalam Bersedekah
Perlu diketahui bahwa dalam Islam kita tidak hanya diajarkan tentang anjuran bersedekah, tetapi Islam juga memberikan tuntunan yang jelas tentang urutan dan skala prioritas dalam berbagi. Berkaitan dengan hal ini, Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالاً فَخُوراً
Artinya, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak ya tim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.” (QS. An-Nisa’: 36).
Jika kita perhatikan susunan ayat tersebut, kita akan menemukan pelajaran penting tentang skala prioritas dalam berbuat kebaikan. Ayat ini diawali dengan perintah menyembah Allah SWT dan tidak mempersekutukan dengan apa pun.
Setelah itu, Allah langsung menyebut perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Setelah orang tua, Allah menyebut “dzawil qurba”, yaitu kerabat dekat. Penyebutan kerabat dekat yang diletakkan setelah orang tua ini mengajarkan kepada kita bahwa lingkaran kebaikan itu seharusnya dimulai dari yang paling dekat.
Siapa Saja Kerabat Terdekat?
Menurut Syekh Alauddin Abil Hasan al-Khazin (wafat 741 H), kerabat dekat adalah adalah mereka yang memiliki hubungan nasab atau pertalian darah dengan kita, baik dari pihak ayah maupun ibu. Ini mencakup saudara kandung, paman dan bibi (baik dari pihak ayah maupun ibu), keponakan, kakek dan nenek, serta sepupu. Al-Khazin berkata:
قَوْلُهُ تَعَالىَ: وَبِذِي الْقُرْبَى، أَيْ وَأَحْسِنُوْا إِلىَ ذِي الْقَرَابَةِ، وَهُوَ ذَوُو رَحِمٍ مِنْ قِبَلِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ
Artinya, “Firman Allah Ta’ala: ‘wa bidzil-qurbâ’ (dan kepada kerabat dekat), yaitu berbuat baiklah kepada orang yang memiliki hubungan kerabat, yaitu mereka yang memiliki hubungan rahim (kekerabatan) dari pihak ayah dan ibunya.” (Lubabut Ta’wil fi Ma’anit Tanzil, [Beirut: Darul Kutub Ilmiah, 1415 H], jilid I, halaman 522).
Mereka inilah yang seharusnya menjadi prioritas utama kita. Mereka memiliki hak yang besar atas perhatian dan kepedulian kita, termasuk dalam urusan sedekah dan bantuan harta. Artinya, sebelum tangan kita menjangkau yang jauh, seharusnya kita terlebih dahulu menyentuh yang dekat. Barulah setelah itu, Allah menyebut kelompok-kelompok lain seperti anak yatim, orang miskin, tetangga dekat dan jauh, hingga ibnu sabil.
Kenapa Harus Memprioritaskan Kerabat Dekat?
Jika kita bertanya, “Mengapa sedekah kepada kerabat ini harus diprioritaskan dibandingkan yang lain?”
Maka jawabannya karena di dalam sedekah kepada kerabat terdapat nilai kebaikan yang lebih lengkap. Rasulullah menjelaskan bahwa sedekah kepada orang miskin bernilai satu sedekah, sedangkan sedekah kepada kerabat bernilai dua kebaikan sekaligus, yaitu sebagai sedekah dan sebagai upaya menjaga silaturahmi.
Nabi bersabda dalam salah satu haditsnya:
الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَإِنَّهَا عَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ إِنَّهَا صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ
Artinya, “Sedekah kepada orang miskin bernilai satu sedekah, sedangkan sedekah kepada keluarga terdekat bernilai dua kebaikan, yaitu sebagai sedekah dan sebagai silaturahmi.” (HR. Ahmad).
Oleh karena itu, marilah kita jadikan momentum Ramadhan ini untuk lebih memprioritaskan sedekah kepada keluarga terdekat. Jangan sampai kita terlena dengan gemerlapnya sedekah di tempat yang jauh, sementara keluarga kita sendiri justru kekurangan dan membutuhkan uluran tangan.
Dengan bersedekah kepada keluarga, kita tidak hanya mendapatkan pahala yang berlipat ganda, tetapi juga keberkahan dalam hidup serta mempererat tali silaturahmi yang sangat dianjurkan dalam agama kita.
Demikianlah kultum Ramadhan tentang keutamaan bersedekah kepada keluarga terdekat. Semoga apa yang telah kita bahas bersama dapat menjadi pengingat bagi kita semua untuk senantiasa memprioritaskan keluarga dalam setiap kebaikan yang kita lakukan, terutama di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.
Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita dan memberikan keberkahan kepada keluarga kita semua. Amin ya rabbal ‘alamin.
--------------
Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.