Kultum Ramadhan: Puasa dan Bijak Mengelola Keuangan - NU Online
Ramadhan adalah bulan yang selalu kita nantikan. Bulan penuh ampunan, penuh pahala, dan penuh kesempatan untuk memperbaiki diri. Di dalamnya ada ibadah puasa yang bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih kita untuk mengendalikan diri.
Puasa sejatinya bukan sekadar menahan makan dan minum. Ia mengajarkan kita menahan hawa nafsu, termasuk nafsu berlebihan dalam membelanjakan harta. Jika siang hari kita mampu menahan lapar, maka seharusnya kita juga mampu menahan keinginan yang tidak perlu.
Di Indonesia, Ramadhan terasa begitu istimewa. Ada tradisi membangunkan sahur, ngabuburit mencari takjil, tadarus di masjid, hingga berburu baju baru menjelang Idul Fitri. Semua itu indah dan menghidupkan suasana. Namun tanpa disadari, euforia ini sering membuat pengeluaran meningkat drastis.
Belanja takjil berlebihan hingga terbuang, memasak lauk terlalu banyak saat sahur, atau terlalu sering memesan makanan online padahal bisa memasak sendiri, semua itu contoh kecil yang lama-lama menjadi besar. Akhirnya, setelah Ramadhan usai, kita justru mengeluh karena keuangan terkuras.
Padahal Islam sudah mengingatkan dengan sangat tegas. Dalam Al-Qur’an, tepatnya QS. Al-Isra’ ayat 26–27, Allah berfirman:
وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا ۚ اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِ
Artinya; “Janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan”
Ayat ini memberi peringatan keras: boros bukan sekadar kebiasaan buruk, tetapi sifat yang mendekatkan kita pada perilaku setan.
Boros dalam pandangan Islam bukan soal besar atau kecilnya jumlah uang, tetapi soal tepat atau tidaknya penggunaan. Ulama tafsir seperti Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam kitab Shafwatut Tafasir menjelaskan:
لَوْ أَنْفَقَ إِنْسَانٌ مَالَهُ كُلَّهُ فِي الْحَقِّ لَمْ يَكُنْ مُبَذِّرًا، وَلَوْ أَنْفَقَ مُدًّا فِي غَيْرِ حَقٍّ كَانَ مُبَذِّرًا.
Artinya; “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya di jalan yang benar, maka ia tidak dianggap boros; dan seandainya ia menginfakkan sedikit saja bukan pada tempatnya, maka ia termasuk orang yang boros.”
Artinya, ukuran boros itu bukan nominalnya, melainkan niat dan kebutuhannya.
Agar lebih mudah, kita bisa belajar dari konsep prioritas kebutuhan yang dijelaskan oleh Abu Ishaq Asy-Syathibi dalam kitab Al-Muwafaqat. Ia membagi kebutuhan manusia menjadi tiga:
1. Daruriyyat (Kebutuhan Primer)
Ini adalah kebutuhan pokok yang harus ada agar hidup dan ibadah berjalan baik. Dalam Ramadhan, contohnya bahan makanan secukupnya untuk sahur dan berbuka: beras, lauk sederhana, sayur, buah, dan air minum. Bahkan prinsip ini sejalan dengan panduan gizi seimbang dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Jika kebutuhan primer ini tidak terpenuhi karena uang habis untuk hal lain, maka keseimbangan ibadah dan kesehatan terganggu.
2. Hajiyyat (Kebutuhan Sekunder)
Kebutuhan yang memudahkan hidup, tetapi tanpa itu kita masih bisa berjalan. Misalnya sesekali membeli makanan siap saji karena lelah. Itu boleh. Namun jika terlalu sering, padahal bisa memasak sendiri, pengeluaran akan membengkak.
3. Tahsiniyyat (Kebutuhan Pelengkap)
Ini sifatnya penyempurna. Seperti membeli aneka takjil viral setiap hari atau berburu menu berbuka yang sedang tren di media sosial. Tidak dilarang, tetapi jangan sampai menjadi prioritas apalagi mengalahkan kebutuhan pokok dan sedekah.
Di sinilah letak ujian puasa yang sebenarnya. Bukan hanya kuat menahan lapar, tetapi juga kuat menahan keinginan. Ramadhan seharusnya menjadi bulan latihan hidup sederhana, bukan bulan “balas dendam” dalam berbelanja.
Mari jadikan Ramadhan sebagai momentum memperbaiki cara kita mengelola keuangan. Dahulukan yang primer, pertimbangkan yang sekunder, dan batasi yang pelengkap. Dengan begitu, kita tidak hanya mendapatkan pahala puasa, tetapi juga keberkahan dalam harta.
Semoga Ramadhan kali ini tidak hanya membuat kita lebih sabar, tetapi juga lebih bijak. Karena orang yang mampu mengendalikan keinginannya, dialah yang benar-benar menang.
---
Muhaimin Yasin, Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman