Kultum Ramadhan: Senyum, Sedekah Termudah yang Sering Terlupa - NU Online
Kultum Ramadhan: Senyum, Sedekah Termudah yang Sering Terlupa
Sering kali kita merasa sedekah itu identik dengan uang. Harus punya harta lebih, harus ada isi dompet dulu, baru bisa berbagi. Akhirnya ketika kondisi keuangan sedang seret, kita merasa seolah tak punya apa-apa untuk disedekahkan. Niat ingin berbuat baik ada, tapi tangan terasa kosong.
Padahal, Islam sebagai agama yang penuh kasih dan kemudahan tidak pernah membatasi sedekah hanya pada materi. Ada sedekah yang tidak membutuhkan uang sama sekali, tidak perlu transfer, tidak perlu amplop. Cukup dengan sesuatu yang sangat sederhana, yang setiap hari sebenarnya kita miliki: senyuman.
Senyum adalah sedekah. Sederhana, ringan, tapi sering terlupa. Kita kadang pelit tersenyum, terutama saat lelah, sibuk, atau sedang banyak masalah. Padahal bisa jadi, senyum kita adalah penguat bagi orang lain yang sedang rapuh. Bisa jadi, senyum kita adalah cahaya kecil di hari seseorang yang sedang gelap.
Rasulullah saw bersabda:
كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ، وَإِنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ، وَأَنْ تُفْرِغَ مِنْ دَلْوِكَ فِي إِنَاءِ أَخِيكَ.
Artinya “Setiap perbuatan baik adalah sedekah. Dan sesungguhnya termasuk perbuatan baik adalah engkau menjumpai saudaramu dengan wajah yang ceria (tersenyum), serta engkau menuangkan air dari embermu ke dalam wadah milik saudaramu.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)
Dalam sebuah hadits, Rasulullah memberikan kabar gembira bagi siapa saja yang mungkin tidak memiliki kelebihan harta. Beliau mengajarkan bahwa sedekah bukan hanya soal rupiah, dinar, atau materi. Setiap kebaikan, sekecil apa pun, dicatat sebagai pahala sedekah di sisi Allah SWT.
Di antara contoh yang beliau sebutkan adalah “wajhin thalqin” wajah yang ceria, berseri, dan ramah. Bayangkan, hanya dengan bertemu teman, tetangga, atau saudara dengan senyuman yang tulus, itu sudah bernilai ibadah. Pahalanya sama seperti kita bersedekah. Betapa luasnya rahmat Allah kepada hamba-Nya.
Hal ini dijelaskan pula oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari bahwa hadits ini memberi isyarat bahwa sedekah tidak terbatas pada sesuatu yang bersifat materi saja. Sedekah tidak hanya milik orang kaya atau mereka yang berkecukupan. Justru setiap orang mampu melakukannya, dalam banyak keadaan, tanpa kesulitan yang berarti.
Artinya, pintu sedekah itu sangat luas. Tidak punya uang? Kita masih punya senyum. Tidak punya harta lebih? Kita masih punya tenaga untuk membantu. Tidak bisa memberi materi? Kita masih bisa memberi doa, kata-kata baik, dan sikap yang menenangkan.
Simak penjelasan berikut;
وَفِي هَذَا الْكَلَامِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّ الصَّدَقَةَ لَا تَنْحَصِرُ فِي الْأَمْرِ الْمَحْسُوسِ مِنْهُ فَلَا تَخْتَصُّ بِأَهْلِ الْيَسَارِ مَثَلًا، بَلْ كُلُّ وَاحِدٍ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يَفْعَلَهَا فِي أَكْثَرِ الْأَحْوَالِ بِغَيْرِ مَشَقَّةٍ.
Artinya “Di dalam perkataan (hadits) ini terdapat isyarat bahwa sedekah tidaklah terbatas pada hal-hal yang bersifat materi (fisik) saja. Oleh karena itu, sedekah tidak hanya khusus bagi orang-orang yang kaya (berkecukupan) semata. Sebaliknya, setiap orang mampu melakukannya dalam sebagian besar keadaan tanpa ada kesulitan yang berarti.” (Fathul Bari [Beirut: Darul Ma’rifah, t.th] juz X, halaman 448).
Dengan demikian, sedekah memiliki dimensi yang luas. Jika kita tidak punya uang untuk didonasikan, kita masih punya aset lain berupa sikap dan tenaga. Melakukan kebaikan seperti tersenyum atau membantu orang lain adalah hal yang ringan dan bisa dilakukan kapan saja.
Islam tidak membatasi pahala sedekah hanya untuk orang kaya (ahlul yasar). Ini menunjukkan keadilan Allah swt agar orang miskin pun bisa meraih derajat yang sama di akhirat melalui kebaikan non-materi.\
Dalam penggalan hadits lain, riwayat Abu Dzarr juga disebutkan:
تَبَسُّمُكَ في وَجْهِ أخِيكَ لكَ صَدقةٌ
Artinya “Senyummu di hadapan saudaramu bagimu adalah sedekah” (HR. At-Tirmidzi)
Dalam kitab Faidhul Qadir, uz III, halaman 275, secara panjang, Syekh Abdurrahman Al-Munawi menjelaskan bahwa arti dari senyuman dalam hadits ini adalah bahwa menampakkan keceriaan dan kegembiraan saat bertemu dengan saudara sesama Muslim akan membuatmu diberi pahala sebagaimana pahala sedekah.
Sebagian orang arif berkata: “Senyuman dan wajah berseri adalah bekas dari cahaya hati”, sebagaimana firman Allah:
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌ . ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌ
Artinya “Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan gembira ria” (QS. Abasa: 38-39).
Senada dengan itu, Imam Al-Ghazali mengingatkan dengan kalimat yang sangat menyentuh:
“Orang yang merugi itu tidak tahu bahwa sifat wara’ (takwa) itu bukan pada kening yang berkerut, bukan pada wajah yang kusam, bukan pada pipi yang dipalingkan, bukan pada punggung yang membungkuk, dan bukan pada ujung pakaian yang diangkat. Sesungguhnya wara’ itu ada di dalam hati.”
Pesan ini seolah menampar kita dengan lembut. Jangan sampai kita terjebak pada simbol-simbol kesalehan fisik. Mengira semakin cemberut berarti semakin takwa. Mengira semakin jarang tersenyum berarti semakin menjaga diri.
Padahal takwa yang sejati justru melahirkan kerendahan hati. Hati yang bersih akan memancar pada wajah yang teduh. Hati yang dekat dengan Allah akan tercermin dalam sikap yang ramah kepada sesama. Maka jika ibadah kita membuat wajah semakin cerah, itu tanda kebaikan. Jika ilmu kita membuat kita semakin mudah tersenyum dan menghargai orang lain, itu tanda keberkahan. Karena pada akhirnya, kesalehan bukan untuk ditampilkan dengan wajah yang masam, tetapi dirasakan dalam hati dan ditebarkan dalam bentuk kebaikan.
Mari kita selalu menunjukkan wajah yang teduh dengan senyuman, Jangan sampai ibadah kita membuat kita merasa lebih baik dari orang lain, hingga kita lupa cara tersenyum. Karena sedekah yang paling murah, namun paling berkesan, adalah memberikan kenyamanan bagi orang lain saat menatap wajah kita. Wallahu a’lam.
------------
Muhammad Zainul Millah, Wakil Katib PCNU Kab. Blitar.