Berawal dari Jualan Gudeg di Bawah Pohon Rambutan, Suami Istri di Sleman Wujudkan Impian Naik Haji - Kompas
Berawal dari Jualan Gudeg di Bawah Pohon Rambutan, Suami Istri di Sleman Wujudkan Impian Naik Haji
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Sepasang suami istri Rahudin Hasan (61) dan Siti Koringah (52) tengah mempersiapkan diri untuk berangkat menunaikan ibadah haji.
Suami istri warga Kabupaten Sleman ini akhirnya dapat pergi ke Tanah Suci setelah menabung dari hasil jualan gudeg.
Rahudin Hasan menceritakan dahulu bekerja sebagai tukang kebun di salah satu sekolah dasar (SD).
Pada tahun 2009, ia memberanikan diri untuk mulai berjualan gudeg di bawah pohon rambutan.
Penembakan Jamuan Malam, Trump: Pelaku Tidak Terkait dengan Iran!
Bapak berusia 52 tahun ini berjualan gudeg demi menambah penghasilan lantaran gajinya sebagai tukang kebun hanya cukup untuk dua minggu.
Baca juga: Cerita Nenek Masiem Berangkat Naik Haji Setelah 11 Tahun Menabung dari Hasil Panen Padi
Selain itu Ia juga membutuhkan uang untuk biaya sekolah anaknya yang saat itu akan masuk SMP.
"Bukan butuh tambahan lagi, tapi gaji sebulan itu cuma bisa untuk hidup dua minggu. Kemudian anak saya kan waktu itu kelas 6 SD, mau masuk SMP. Gimana ini mau masuk SMP nggak punya uang sama sekali."
"Kemudian kami beranikan diri jualan gudeg," ujar Rahudin saat ditemui di tempatnya berjualan gudeg dan jajanan pasar di Jalan Tajem-Kadisoka, Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Kamis (16/04/2026).
Rahudin mengatakan modal awal berjualan gudeg tersebut sebesar Rp 1.000.000. Ia rela utang agar memiliki modal untuk berjualan gudeg.
"Saya beranikan diri utang uang Rp 1 juta untuk modal. Kemudian saya jualan gudeg di bawah pohon rambutan itu," tuturnya.
Baca juga: 15 Tahun Nabung Recehan di Galon, Warga Gresik Ini Akhirnya Naik Haji
Meski hanya di bawah pohon rambutan, jualan gudeg Rahudin dan Siti ternyata cukup laris. Banyak pelanggan yang merasa cocok dengan rasa gudeg buatannya.
"Alhamdulillah laris, banyak yang cocok masakan saya. Jadi gudegnya sini nggak terlalu manis, jadi alhamdulillah banyak yang cocok. Terutama dari luar daerah itu banyak yang cocok," ungkapnya.
Rahudin berjualan gudeg dengan tenda di bawah pohon rambutan dari pukul 03.30 WIB sampai dengan pukul 11.00 WIB. Ia pun harus membongkar tenda jualanya saat sudah tutup.
"Kalau sini kan deket perumahan sama sama tetangga-tetangga yang butuh sarapan kalau pagi itu. Jadi saya jualan pagi dari jam 03.30 WIB sampai jam 11.00 WIB."
"Itu pertama kali di sini kan belum ada yang jualan gudeg ternyata bisa langsung banyak yang suka masakan saya," bebernya.
Seiring berjalanya waktu, Rahudin dan Siti memilih untuk pindah tempat. Mereka berjualan di sebuah ruko di Jalan Tajem-Kadisoka, Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman.
Baca juga: Menabung dari Jualan Pisang Goreng, Nenek Hamisa Akhirnya Berkesempatan Naik Haji
Lokasi ruko saat ini tidak jauh dari tempatnya berjualan dahulu.
Tak hanya gudeg, di ruko tersebut keduanya juga berjualan aneka jajanan pasar.
Naik haji dari hasil menabung hasil jualan
Rahudin dan Siti rutin menyisihkan uang untuk ditabung. Itu keduanya lakukan demi mewujudkan mimpinya berangkat haji.
"Mendaftar haji itu tahun 2012. Waktu itu saya nabung. Terus kami mendaftar," ujar Rahudin.
Istri Rahudin, Siti, menuturkan selalu menyisihkan dari uang belanja untuk ditabung di rumah. Setelah terkumpul, uang tersebut kemudian dimasukkan ke bank.
"Kami kan belanja terus nanti kalau ada sisa itu cuma ditabung dulu di rumah, disisihkan dulu. Nanti kalau sudah ada berapa terus nanti baru dimasukkan ke bank," ucap Siti.
"Soalnya kalau kita langsung juga nggak bisa. Pokoknya yang penting kita sisihkan dikit-dikit," imbuhnya.
Baca juga: Kisah Penjual Kerupuk di Jombang Siap Naik Haji, Rutin Menabung Receh Sejak 1983
Siti menyampaikan sudah cukup lama menyisihkan uang untuk ditabung. Namun dirinya tidak mengingat berapa lama menyisihkan uangnya tersebut.
Nominal uang disisihkan untuk ditabung juga tidak tentu. Namun setiap hari dirinya pasti menyisihkan uang untuk ditabung.
"Nggak tentu, soalnya kalau belanjanya itu kadang banyak nanti uangnya yang disisihkan cuma dikit, kan untuk uang kembalian juga."
"Pokoknya kami itu sistemnya cuma hari ini dapet berapa, belanjanya berapa, terus nanti kami sisihkan saja. Kira-kira ya Rp 50 (ribu) sampai Rp 100 (ribu)," urainya.
"Ya alhamdulillah ada tambahan dari titipan snack-snack (jajanan pasar) itu juga bisa nambah-nambah untuk nabung," imbuhnya.
Siti menuturkan, mereka memang sudah lama memiliki keinginan berangkat haji. Ia bersama suaminya juga sempat pesimistis bisa berangkat haji lantaran biaya semakin mahal.
Baca juga: Cerita Pemilik UMKM di Banyuwangi, dari Bumbu Rujak hingga Antarkan Ibu Naik Haji Tanpa Antre
"Insyaallah udah lama. Padahal kami dulu pernah, apa mungkin bisa ke sana soalnya biaya juga mahal terus, kami cuman jualan kayak gini, apa mungkin. Alhamdulillah Gusti Allah maringi (memberikan) kelancaran," ujarnya.
Persiapan berangkat haji dan jualan tutup sementara
Rahudin dan Siti tidak menyangka jualan gudeg di bawah pohon rambutan yang awalnya untuk menambah penghasilan membawanya mewujudkan impian berhaji.
Keduanya masuk kloter 3 yang akan berangkat pada 24 April 2026.
"Ya rasanya juga gimana ya, kaget, terharu. Soalnya kan kayanya tidak mungkin lho secepat ini. Nggak menyangka pokoknya bisa sampai ke sana. Pokoknya itu kalau nggak dari Allah SWT itu nggak mungkin," tutur Siti.
Rahudin dan Siti juga telah menyampaikan kepada para pelanggannya bahwa jualan akan tutup sementara. Hal itu mereka lakukan agar, para pelanggan tidak kecele ketika datang ke warung jualannya.
Rahudin mengaku sudah melakukan berbagai persiapan sebelum berangkat pada 24 April 2026.
"Persiapannya fisiknya ikut manasik, ikut tes kesehatan, tes kebugaran. Kemudian masalah pengetahuan untuk haji ya kami ikuti terus manasiknya," ucap Rahudin.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang