0
News
    Home Featured Khotbah Jum'at Khutbah Jum'at Spesial

    Khutbah Jumat: Intropeksi Bagi Para Suami - Lirboyo net

    9 min read

     

    Khutbah Jumat: Intropeksi Bagi Para Suami

    Anda sebagai suami mungkin sering mengeluh: ‘Kenapa rumah ini tidak sakinah padahal semua keputusan sudah ada di tangan saya?’ Jawabannya adalah: Ketenangan tidak datang dari kekuasaan, tapi………. simak selengkapnya di khutbah Jum’at ini.

    Baca juga: Khutbah Jumat: Apa yang Harus Terjadi Setelah Ramadhan?

    Khutbah Pertama

    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى، لِيَسْكُنَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ، وَجَعَلَ بَيْنَهُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً، نَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

    أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى رَأْسُ كُلِّ خَيْرٍ.

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

    Pernikahan dalam Islam bukan sekadar kontrak hukum, bukan pula tempat ego salah satu pihak berkuasa. Ia adalah mitsaqan ghalizha — perjanjian suci yang dibangun di atas cinta, kasih sayang, dan tanggung jawab bersama.

    Namun, di banyak rumah tangga, cinta sering dikalahkan oleh ego, dan kasih sayang terkubur oleh rasa berkuasa. Masih banyak suami yang merasa menjadi “raja” di dalam rumah, sementara istri dijadikan “rakyat” tanpa hak bersuara.

    Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

    خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي.

    “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

    Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

    Imam al-Ghazali dalam at-Tabr al-Masbuk fi Nashihat al-Muluk pernah mencatat sepuluh keadaan yang menggambarkan ketimpangan relasi suami-istri, bukan untuk dirayakan, tapi untuk direnungkan.

    Mari kita dengarkan sejenak, barangkali salah satunya masih kita lakukan tanpa sadar.

    Pertama, suami bisa menceraikan kapan saja, sementara istri harus berjuang melalui pengadilan.

    Suami bisa mengucap talak kapan saja, sedangkan istri harus menggugat ke pengadilan untuk bisa lepas dari pernikahan yang tak sehat. Ini bukan soal siapa lebih kuat, tapi soal keadilan dalam akses keluar dari relasi yang tak lagi sehat. Maka, jika punya kuasa untuk menceraikan, gunakan dengan penuh tanggung jawab, bukan emosi sesaat.

    Kedua, suami bebas mengambil milik istri, sedangkan istri harus izin jika mengambil milik suami.

    Dalam tradisi fikih klasik, suami bisa mengambil barang milik istri, tetapi istri tak boleh mengambil barang suami tanpa izin. Ini tentu menyisakan ketimpangan relasi. Padahal, dalam semangat Islam yang rahmatan lil ‘alamin, relasi suami-istri mestinya dibangun di atas saling menghargai, bukan saling menguasai. Bukankah rumah tangga dibangun atas saling menghargai, bukan saling menguasai?

    Ketiga, suami boleh beristri lebih dari satu, tapi istri hanya boleh setia pada satu.

    Poligami yang syariat perbolehkan dengan syarat-syarat ketat tidaklah mudah. Tapi seringkali kita sekalian lihat sebagai hak istimewa, bukan tanggung jawab besar. Padahal, istri hanya diperbolehkan setia kepada satu suami. Jika benar cinta dan adil, setialah sebagaimana dia setia.

    Baca juga: Khutbah Jumat: Pernikahan di Bulan Syawal

    Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

    Keempat, suami bebas keluar rumah, sementara istri seolah kehilangan kebebasan bahkan untuk sekadar menengok tetangga.

    Imam al-Ghazali mencatat bahwa perempuan dalam pernikahan seolah kehilangan kebebasannya, bahkan untuk sekadar keluar rumah. Sementara suami bisa ke mana saja tanpa perlu lapor. Dalam praktik mubadalah, suami sebaiknya menjadikan ini sebagai alarm: sudahkah aku menjadi ruang aman dan bebas bagi istriku?

    Kelima, istri sering takut pada suami, tapi suami tak pernah takut pada istri.
    Ini bentuk ketimpangan emosional. Perempuan sering dituntut patuh dan tunduk, sementara laki-laki bebas bersikap tanpa rasa takut. Padahal, rumah tangga seharusnya bukan tempat kekuasaan, tapi tempat aman untuk saling menjadi manusia yang bisa salah dan belajar bersama.

    Baca juga: Khutbah Jumat: Keutamaan Bulan Syaban

    Ma’asyiral muslimin,

    Perempuan pindah dari rumahnya, meninggalkan keluarga, bahkan kampung halamannya demi membangun rumah bersama kita. Maka jangan jadikan rumah itu sebagai penjara, tapi tempat istirahat yang penuh kasih.

    Ingatlah, istrimu bukan asisten pribadi, bukan pelayan, bukan mesin penghasil anak.
    Ia adalah amanah Allah, yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban dengan sangat rinci di akhirat.

    Baca juga: Khutbah Jumat: Mengambil Hikmah di Balik Hujan

    Khutbah Kedua

    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

    أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى رَأْسُ كُلِّ خَيْرٍ.

    Jamaah Jumat rahimakumullah,

    Rasulullah ﷺ bukan hanya pemimpin, tapi juga suami yang lembut.
    Beliau membantu pekerjaan rumah, menjahit bajunya sendiri, bahkan menambal sandalnya tanpa merasa rendah.

    Dalam sebuah riwayat, Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

    كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ.

    “Rasulullah biasa membantu pekerjaan keluarganya. Dan jika waktu salat tiba, beliau segera keluar untuk salat.” (HR. Bukhari)

    Bandingkan dengan banyak suami hari ini yang merasa “terlalu tinggi” untuk sekadar membantu di dapur. Padahal, Nabi yang maksum pun mau melakukannya.
    Maka, wahai para suami, jika engkau ingin meneladani Nabi, mulailah dari kelembutan di rumah.

    Ingatlah, kelebihan bukan berarti keistimewaan —tapi tanggung jawab.
    Jika suami diberi kekuatan, gunakan untuk melindungi, bukan menindas. Jika diberi hak, gunakan untuk menegakkan keadilan, bukan membungkam pasangan.

    Karena rumah tangga yang sakinah bukan dibangun dengan kuasa, tetapi dengan kasih dan pengertian. Jangan sampai pernikahan menjadi tempat kehilangan kemanusiaan.

    Baca juga: Khutbah Jumat: Birrul Walidain, Investasi Dunia dan Akhirat

    فَاتَّقُوا اللّٰهَ أَيُّهَا الْأَزْوَاجُ،

    Ingatlah, istrimu adalah manusia, bukan kepanjangan tanganmu.
    Dia adalah teman seperjalanan menuju surga, bukan budak perjalanan hidupmu.
    Perlakukan ia dengan adil dan lembut, niscaya Allah memberkahimu dengan rumah tangga yang tenteram.

    اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ بُيُوْتَنَا دَارَ السَّكِيْنَةِ وَالْمَوَدَّةِ وَالرَّحْمَةِ.

    اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَزْوَاجَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَارْزُقْنَا قُلُوْبًا رَحِيْمَةً وَنُفُوْسًا سَلِيْمَةً.

    اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَسْكُنُوْنَ بُيُوْتَهُمْ بِالْحُبِّ وَالْعَدْلِ، لَا بِالْقَهْرِ وَالْغَضَبِ.

    رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.

    اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
    وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

    Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo


    Komentar
    Additional JS