Kisah Awal Mula Seorang Manusia Diwajibkan Berpuasa - Tebuireng Online
Kisah Awal Mula Seorang Manusia Diwajibkan Berpuasa
Khutbah oleh: Dr. KH. Musta’in Syafi’i, M. Ag.
Ketika seseorang meninggalkan bulan Ramadhan tidak menunjukkan peningkatan ketakwaan, maka tentu sebagai muslim harus senantiasa mawas diri. Apakah sifat pemarah sudah pudar? Apakah sifat rakus korupsi sudah hilang? Apakah menghibah sudah tidak dilakukan? Silahkan interopeksi diri.
اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَسْلِيمًا كَثِيْرًا
اتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Satu-satunya ayat yang dilandasi dengan syariat umat terdahulu adalah puasa. Tidak hanya kalian (umat Muhammad) yang diwajibkan puasa, umat-umat sebelumnya juga demikian. Sehingga jangan mengeluh ketika menjalankan ibadah puasa, misalnya “merasa haus, lapar”, sikap seperti ini tidak sopan. Oleh karena itu, puasa ini dianggap sebuah media untuk meningkatkan prestasi ketakwaan.
Baca Juga: Hati dan Lisan Penentu Baik Buruknya Seorang Hamba
Ketika seseorang meninggalkan bulan Ramadhan tidak menunjukkan peningkatan ketakwaan, maka tentu sebagai muslim harus senantiasa mawas diri. Apakah sifat pemarah sudah pudar? Apakah sifat rakus korupsi sudah hilang? Apakah menghibah sudah tidak dilakukan? Silahkan interopeksi diri.
Pada ayat ini, model puasa yang paling klasik yaitu merujuk nabi Adam a.s dan Hawa. Keduanya merasakan kenikmatan surga, hingga tiada larangan apa pun, kecuali satu hal yakni memakan buah Khuldi. Akan tetapi keduanya tercoba memakannya. Akibatnya mereka dideportasi dari surga. Padahal mereka hanya mencicipi saja. Seorang nabi yang hanya mencicipi buah saja itu mengundang amarah Allah sampai dibuang dari surga, apalagi seseorang yang serakah mengambil hak orang lain lewat korupsi. Karena perbuatan Nabi Adam a.s di surga tersebut, maka beliau membersihkan dirinya dengan berpuasa terus-menerus, serta setiap malam bermunajat kepada Allah. Para ulama tafsir menganggap itulah awal mula syariat puasa.
Pada pembicaraan lain, dalam tradisi tafsir kata al-siyam berarti puasa menahan makan dan minum. Sementara al-saum adalah puasa berbicara. Nah, yang baik adalah menahan keduanya. Kemudian bagaimana sikap Allah kepada orang yang berpuasa?
Baca Juga: Bagi Santri Ramadhan adalah Syahrul Ilmi
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu mengenai Aku maka (beritahu kepada mereka): sesungguhnya Aku (Allah) sentiasa hampir (kepada mereka); Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu. Maka hendaklah mereka menyahut seruanku (dengan mematuhi perintahKu), dan hendaklah mereka beriman kepadaKu supaya mereka menjadi baik serta betul.
Bulan Ramadhan ini jangan disia-siakan, terus lah berdoa. Karena baru kali ini Allah menyebut diri-Nya dengan dlamir mutakallim sampai tujuh kali berturut-turut. Yaitu, pertama “hamba-Ku” (عِبَادِى), kedua, “sesungguhnya Aku” (فَإِنِّى), ketiga, “Aku perkenankan permohonan” (أُجِيبُ), keempat, “berdoa kepadaKu” (دَعَانِ), keenam, “karena Aku” (لِى), ketujuh, “kepada-Ku” (بِى). Satu ayat Allah memperlihatkan kedekatannya dengan menggunakan dlamir mutakallim tujuh kali.
Baca Juga: Jangan Melupakan Nisfu Sya’ban
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Ditranskrip oleh: Yuniar Indra Yahya
Editor: Rara Zarary
