Kisah Jemaah Haji Palembang, 40 Tahun Menabung dari Hasil Mengajar Ngaji untuk Berangkat ke Tanah Suci - Kompas
Kisah Jemaah Haji Palembang, 40 Tahun Menabung dari Hasil Mengajar Ngaji untuk Berangkat ke Tanah Suci
KOMPAS.com - Di tengah ratusan calon jamaah haji yang memadati kompleks Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang, Sabtu (25/4/2026), ada sosok Sofiah S (72) yang terlihat tenang menanti jadwal keberangkatan.
Perempuan lanjut usia asal Gang Mulya Plaju itu menjadi salah satu jamaah Kloter 4 Embarkasi Palembang.
Perjalanan hajinya tahun ini menyimpan kisah panjang penuh kesabaran dan perjuangan untuk bisa menunaikan rukun islam kelima.
Baca juga: Kisah Mbah Sarjo, Penyandang Disabilitas Netra Berhaji dengan Jual Kebun
Selama puluhan tahun, ia menabung sedikit demi sedikit dari hasil mengajar mengaji demi mewujudkan impian ke Tanah Suci.
4 Negara Mayoritas Muslim Bersatu Hadapi Israel, Godok Aliansi Mirip NATO
Sofiah tergabung dalam rombongan 304 jamaah Kloter 4 Embarkasi Palembang bersama KBIH Al Multazam.
Bagi dirinya, keberangkatan haji bukan sekadar perjalanan ibadah, melainkan puncak perjuangan panjang yang dimulai sejak usia 30 tahun.
Baca juga: Cerita Penjual Ikan Keliling di Gowa, Berangkat Haji dari Hasil Menabung Mulai Rp 30 Ribu per Hari
Sofiah Menabung Selama 40 Tahun dari Hasil Mengajar Ngaji
Sejak muda, Sofiah bekerja sebagai guru privat Al-Qur'an. Profesi yang dijalani sejak usia 20-an itu menjadi sumber penghasilan utama.
Menariknya, ia tidak pernah mematok tarif kepada para muridnya dan menerima bayaran seikhlasnya.
“Aku nabung untuk naik haji ini 40 tahun. Dari usia 30 tahun mulai nabung. Sudah dapat 26 juta aku setorke dan daftar sekitar tahun 2013. Lanjut nabung lagi untuk nambahin hingga berangkat ini. Sehari kadang kadang 50 ribu, seadanya dapet. Kita juga kan ngajar ngaji ikhlas. Ada diambil tidak ada dak masalah,” ujar Nenek Sofiah saat ditemui di sela keberangkatan di Kompleks Jakabaring Sport City Palembang.
Baca juga: Pakai Jalur "Fast Track", Kloter Pertama Jemaah Haji Tiba di Madinah pada 22 April
Dalam kesehariannya, sejak selepas Dhuhur hingga pukul 17.00 WIB, Sofiah berkeliling dari rumah ke rumah di kawasan komplek Pertamina untuk mengajar mengaji. Dalam sehari, ia bisa mendatangi sembilan rumah murid.
"Namanya anak-anak, kadang rewel. Ada yang minta makan dulu, ada yang mau buat PR dulu. Ya kita harus sabar, yang penting mereka semangat mengaji," tambahnya.
Simpan Uang di Bawah Kasur Sebelum Disetor ke Bank
Hasil mengajar yang diterimanya tidak selalu besar. Dalam sebulan, uang yang terkumpul kadang hanya sekitar Rp800 ribu. Namun, ia tetap disiplin menabung demi cita-cita berhaji.
Baca juga: Sambut Kloter Pertama, Asrama Haji Bekasi Siapkan Fasilitas Ramah Lansia dan Disabilitas
"Saya simpan sedikit demi sedikit di bawah kasur. Kalau sudah banyak, baru saya bawa ke bank," kenangnya.
Ketekunan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada 2013, Sofiah berhasil menyetorkan Rp 26 juta sebagai setoran awal pendaftaran haji.
Setelah itu, ia terus menabung untuk melunasi biaya hingga akhirnya berangkat pada 2026.
Artikel ini telah tayang di Sripoku.com dengan judul "Kisah Guru Ngaji di Palembang, Sofiah 40 Tahun Menabung di Bawah Kasur Demi Bisa Berangkat Haji".
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Perjalanan Menuju Raudhah, Tangis dan Selawat Menggema