0
News
    Update Haji
    Home Berita Featured Haji Kisah Inspirasi Kisah Inspiratif Semarang Spesial

    Kisah Penjual Nasi di Semarang, Sisihkan Rp 10.000 Sehari demi Berangkat Haji - Kompas

    4 min read

     

    Kisah Penjual Nasi di Semarang, Sisihkan Rp 10.000 Sehari demi Berangkat Haji


    SEMARANG, KOMPAS.com – Di sudut rumah sederhana di kawasan Mangkang, Kota Semarang, Jawa Tengah, lembar demi lembar buku panduan haji dibuka dengan sangat hati-hati. 

    Setiap halaman seolah menjadi pengingat perjalanan panjang yang telah dilalui selama belasan tahun.

    Bagi Supriyatun (63), momen ini bukan sekadar persiapan ibadah. Ini adalah titik akhir dari penantian panjang yang dimulai sejak 2012, saat ia dan sang suami mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji.

    Kini, setelah lebih dari satu dekade menabung dari hasil berjualan nasi dan uang pensiun, kesempatan itu akhirnya datang. 

    Masuk Makkah Wajib Izin, Kecuali 6 Golongan Ini

    Baca juga: 1.460 Calon Jemaah Haji Demak Dipastikan Siap Berangkat Mulai 1 Mei 2026 meski Timur Tengah Memanas

    Tahun ini, Supriyatun dan suaminya, Sutarno, dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci.

    “Saya sudah berjualan nasi selama 40 tahun. Menunya macam-macam ada soto, mangut, rames dan gorengan. Harganya juga murah, rames cuman Rp 5.000, soto Rp 6.000,” kata Supriyatun, Senin (13/4/2026).

    Sehari-hari, ia berjualan di Pasar Mangkang sejak pukul 05.30 hingga 11.00 WIB.

    Dari penghasilan sederhana itu, ia menyisihkan sebagian untuk tabungan haji, meski nominalnya tidak selalu besar.

    “Setiap hari saya selalu menitipkan uang ke bank keliling untuk tabungan haji, kadang Rp 10.000, kadang Rp 20.000. Kalau ada kebutuhan mendesak, saya ambil sebagian dulu,” paparnya.

    Selain dari hasil berdagang, tabungan haji mereka juga berasal dari uang pensiun sang suami yang merupakan mantan ASN di lingkungan Pemerintah Kota Semarang. 

    Baca juga: Jemaah Haji 2026 dari Sulsel Dapat Dua Layanan Baru, Ini Manfaat Nusuk dan Fast Track

    Meski telah purna tugas, sang suami tetap aktif bertani dan beternak untuk menambah penghasilan.

    Dalam beberapa pekan terakhir, Supriyatun dan suami mulai mematangkan persiapan. 

    Selain mengikuti manasik haji, keduanya rutin menjaga kebugaran fisik dengan berjalan kaki setiap pagi di sekitar rumah.

    “Sudah setengah tahun saya sering mengikuti manasik haji setiap minggu di Islamic Center Semarang. Kondisi saya dan suami juga dinyatakan sehat oleh puskesmas,” paparnya.

    Pasangan ini dijadwalkan berangkat pada 29 April 2026 bersama kloter 27. Sebelumnya, mereka sempat dijadwalkan berangkat pada 2023, namun tertunda akibat pandemi Covid-19.

    Baca juga: Arab Saudi Batasi Akses ke Mekkah Mulai 13 April, Hanya Jemaah Haji Berizin yang Boleh Masuk

    Menjelang keberangkatan, Supriyatun juga menyiapkan berbagai bekal makanan dari rumah sebagai pengingat suasana kampung halaman.

    “Ada serondeng, sambal pecel, abon kering tempe, kering teri. Saya bakal bawa dari rumah, jaga-jaga kalau di sana tidak cocok,” imbuhnya seraya tersenyum.

    Di balik kesederhanaannya, tersimpan harapan besar yang ia bawa ke Tanah Suci. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarga dan orang-orang terdekat.

    “Harapannya, saya bisa mendoakan semua, anak-anak, cucu dan tetangga agar diberikan kesehatan dan kelancaran rezeki, sehingga mereka juga bisa menunaikan ibadah haji,” lanjutnya.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Rumah Ditembok di Tangsel, Penjual Naikkan Harga 2 Kali Lipat gara-gara Pembeli Tak Lunasi Utang

    Komentar
    Additional JS