Kisah Tukang Es Puter Naik Haji, Meski Tabungan Mungil Tekadnya tak Pernah Ikut Mengecil - Republika
Kisah Tukang Es Puter Naik Haji, Meski Tabungan Mungil Tekadnya tak Pernah Ikut Mengecil
Selalu ada bagian yang disisihkan untuk ongkos ke Tanah Suci.
Republika/Fernan Rahadi Suasana di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi saat jamaah melaksanakan ibadah umrah sebelum dimulainya musim haji 2026, Sabtu (18/4/2026) waktu setempat.
REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON — Tulisan “Es Puter” bercat merah masih terlihat mencolok di atas gerobak kecil milik Ili (62 tahun) yang warnanya mulai kusam. Gerobak itu ditopang sepeda motor yang sudah renta.
Gerobak tersebut sedang terparkir di halaman rumah mungilnya di Jalan Dewi Sartika, Kelurahan Sumber, Cirebon, Selasa (14/4/2026) siang. Dari gerobak sederhana itu, jalan menuju Baitullah perlahan dirintis oleh Ili, penjual es krim yang kini memasuki usia senja.
Siang itu, terik matahari menyelimuti halaman; seekor kucing rebah di lantai, sementara angin tipis menyusup di antara pintu dan jendela terbuka. Di dalam rumah, suasana terasa lebih hidup. Yayah (49), istri Ili, sibuk menata perlengkapan haji seperti kain ihram, tas, sandal, ember kecil, hingga charger telepon genggam .
Rumah itu memang sempit, namun teduh; di sudut ruang, barang-barang tersusun seperti penanda bahwa penantian panjang kian mendekati muara. Ili datang ke Cirebon dari Ciamis dengan bekal seadanya, mengikuti kakaknya sambil mencari cara agar dapur tetap berasap. Sebagai perantau “wong cilik”, ia bertahan lewat es mung-mung, jajanan tradisional pesisir yang akrab di lidah warga.
Jajanan tersebut dibuat dari santan, gula, dan tepung, lalu diputar manual dalam tabung berisi es batu dan garam hingga membeku. Rasanya gurih manis, membekas di lidah siapa pun yang mencicipinya.
Harganya terjangkau, sekitar Rp2.000–Rp5.000 per porsi. Anak-anak hingga orang dewasa mengenali bunyi bel kecil dari gerobak Ili yang saban siang melintas. Setiap pagi, ili menyusuri gang dan berhenti di sekitar sekolah. Salah satunya SD Kartini, tempat sebuah niat besar tumbuh tanpa aba-aba, lalu menetap dalam dada.
Ia mengenang momen sekitar 2005, saat berjualan dan melihat rombongan calon haji melintas di depan sekolah. Pakaian putih dan wajah penuh harap itu membuat hatinya bergetar.
“Ya saya lihat rombongan haji, saya ingin juga seperti orang lain, ingin ke Baitullah,” ujar Ili, lirih saat berbincang dengan ANTARA.
Halaman 2 / 2
Menabung sisa dagangan
Sejak saat itu, ia mulai menabung dari sisa dagang. Kadang Rp10 ribu, esok harinya bisa Rp20 ribu. Nilainya kecil, tetapi tekadnya tak pernah ikut mengecil.
Hari ramai memberi lebih, hari sepi menguji kesabaran. Musim hujan menjadi masa paling berat ketika pembeli berkurang, sementara kebutuhan rumah tangga tetap berjalan.
Di tengah jatuh bangun itu, usahanya sempat berkembang. Pada 2010, ia memiliki 19 karyawan, dan gerobak dorong beralih ke sepeda motor agar jangkauan dagangan lebih luas.
Namun tabungan haji tetap berjalan dengan ritme yang sama. Selalu ada bagian yang disisihkan untuk ongkos menuju Tanah Suci.
Hampir delapan tahun setelah niat itu tumbuh, Ili berhasil membeli nomor porsi haji pada 2013, penanda bahwa kesabaran memiliki jalannya sendiri menuju takdir.
“Tadinya nggak nyangka. Menabung sedikit demi sedikit, tetapi alhamdulillah bisa sampai lunas,” ujarnya sambil tersenyum kecil yang sukar disembunyikan.
Kini, penantian panjang itu hampir usai. Ili dijadwalkan berangkat pada 19 Mei 2026 bersama Yayah, yang setia mendampinginya selama bertahun-tahun.
Menjelang keberangkatan, haru kerap terpancar di wajahnya. Penjual es krim itu merasa telah tiba di titik yang dulu hanya ia titipkan dalam doa.“Bahagia banget, seperti orang lain sama, macam bos-bos. Saya jualan es,” ucapnya.
Di Tanah Suci nanti, ia tak membawa banyak permintaan. Doanya sederhana: agar anak cucu, keluarga, dan teman-temannya mendapat panggilan yang sama.
Ketua KBIHU Al-Washliyah Kabupaten Cirebon Sofyan menyebut kisah Ili sebagai suluh kecil yang layak dilihat banyak orang, terutama mereka yang merasa haji terlalu jauh digapai.
Sofyan menilai keberhasilan itu menyimpan pelajaran penting. Jalan berhaji kerap lahir dari ketekunan yang sunyi, serta ikhtiar kecil yang dirawat tanpa ingin dipuji.
sumber : Antara
Berita Terkait
Hari Ketujuh Operasional Haji, 34.657 Jamaah Indonesia Sudah Diberangkatkan
Ihram - 6 jam yang lalu
Tangis Haru Khoirunnisa Akhirnya Bisa Sampai ke Raudhah
Ihram - 8 jam yang lalu
12.205 Orang Masuk Daftar Tunggu Jamaah Haji dari Papua Barat dan Papua Barat Daya, Terlama 22 Tahun
Ihram - 8 jam yang lalu
Jamaah dengan Komorbid Diimbau Jaga Kondisi Fisik untuk Persiapan Puncak Haji
Ihram - 10 jam yang lalu
Cita Rasa Nusantara Disajikan Dapur Uhud Taiba, Obati Kerinduan Jamaah Masakan Kampung
Ihram - 22 jam yang lalu