Puasa Sudah Berlalu, Sudahkah Kita Mendapat Hikmahnya? - NU Online
Puasa Sudah Berlalu, Sudahkah Kita Mendapat Hikmahnya?
Khutbah Jum’at oleh: KH. Achmad Roziqi, Lc. M.HI.
Puasa merupakan jalan untuk menaikkan adab kita, meningkatkan karakter kita, dan di antaranya itu dengan latihan merasakan lapar. Puasa menghantarkan kita menjadi pribadi yang muttaqin, maka di antara indikator muttaqin yang mampu mengendalikan emosi dan amarahnya.
اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَسْلِيمًا كَثِيْرًا لَانَبِيَّ بَعْدَ لَه الله اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان، وسلم تسليمًا اَمَّا بَعْدُ اُوْصِي نَفْسِيْ وَاِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ
Jamaah Jumat Rahimakumullah
Ramadhan sudah berlalu, mari kita muhasabah diri kita semua. Sudahkah kita mendapatkan hikmah dari ibadah puasa? Kalau belum merasa mendapat hikmah, maka mari kita tingkatkan ibadah kita lagi. Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari pernah menuliskan tentang puasa Ramadhan. Pada tulisannya beliau menerangkan hikmah puasa.
Baca Juga: Kisah Awal Mula Seorang Manusia Diwajibkan Berpuasa
Pertama, melalui puasa kita terbiasa dengan berlapar-lapar, karena lapar dapat menumbuhkan dan menguatkan akhlak yang baik, serta budi pekerti yang mulia. Dari situ dapat dipahami bahwa adab lagi-lagi menjadi tujuan prioritas dari ibadah yang kita lakukan. Lagi-lagi perubahan karakter yang lebih baik menjadi sesuatu yang diharapkan. Sehingga kalau melihat adabul ‘alim wal muta’allim gambaran tentang proporsi ilmu dengan adab. Beliau mengutip dawuh dari Imam Ruwaim RA, beliau mengatakan ya bunayya ij’al ilmaka milhan, wa adabaka daqiqan.
Beliau mengajarkan bahwa proporsi adab itu harus lebih baik, lebih banyak, lebih tinggi dibanding ilmu. Ini bukan untuk mengajak bodoh, bukan mengajak untuk tidak semangat belajar, ini bukan untuk mengajak kita bermalas-malasan dalam talabul ilmi. Tetapi hal ini justru menjadi orientasi kita sebagai santri yang tidak hanya ingin menjadi orang pintar, tidak hanya ingin mendapat nilai, melainkan juga jauh dari ilmu itu kita juga mementingkan adab kita, kita juga mementingkan perubahan perilaku kita.
Semakin tinggi ilmu yang kita dapatkan, mestinya kita imbangin dengan semakin tinggi akhlak, adab, serta karakter yang kita miliki. Sehingga Imam Ruwaim mengingatkan bahwa proporsi ilmu dengan adab, sebagaimana gambaran proporsi garam dengan adonan. Sehingga puasa ini merupakan jalan untuk menaikkan adab kita, meningkatkan karakter kita, dan di antaranya itu dengan latihan merasakan lapar.
Baca Juga: Jangan Melupakan Nisfu Sya’ban
Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari melanjutkan dawuhnya, tetapi banyak di antara kita melakukan kesalahan karena menukar siang menjadi malam, dengan mengisi perut sebanyak mungkin di malam hari. Hal ini menyebabkan tumbuh sifat yang tidak baik, yakni lekas marah. Hadratussyaikh mengingatkan dalam tulisan ini betapa bahaya berlebihan dalam berbuka. Sehingga karena perilaku israf tersebut dapat menyebabkan seseorang menjadi mudah marah.
Ketika Allah Swt, memberikan panduan bahwa puasa menghantarkan kita menjadi pribadi yang muttaqin, maka di antara indikator muttaqin yang mampu mengendalikan emosi dan amarahnya. Allah menggambarkan siapa orang yang muttaqin? Wal kadzimin al-ghaida, wal ‘afina ‘an al-nas. Mereka adalah orang yang sebenarnya mampu meluapkan emosinya, akan tetapi ia memilih untuk mengendalikannya. Termasuk orang-orang yang membuka pintu maaf kepada orang lain. Dan hari ini kita sangat membutuhkan dua sikap penting ini. Ramadhan harus menjadikan diri kita sebagai pribadi yang mudah memaafkan dan tidak lekas marah. Di antaranya dengan mengontrol nafsu berbuka kita.
Baca Juga: Bagi Santri Ramadhan adalah Syahrul Ilmi
Kedua, hikmah selanjutnya dari puasa adalah memberi perasaan kepada orang kaya betapa beratnya tanggungan orang miskin yang seringkali tak dapat menikmati makanan. Sehingga ketika orang kaya merasakan sakitnya lapar dan dahaga, maka terbesit muncul keingingan berbagi. Lagi-lagi ini sesuai dengan karakter muttaqin yakni al-ladzina yunfiquna fi al-sarra’ wa al-dharra’. Yakni orang-orang yang semangat hidupnya adalah memberi dan berbagi, bukan untuk memperkaya diri sendiri. Andaikan seluruh rakyat Indonesia memiliki semangat memberi, maka negara ini tentu tidak akan kehilangan sumber daya alamnya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Penyusun Transkip: Yuniar Indra Yahya
Editor: Rara Zarary
