Teladan Perjuangan Tokoh Wanita dan Kriteria Memilih Istri - Lirboyo
Teladan Perjuangan Tokoh Wanita dan Kriteria Memilih Istri
Wanita memiliki peranan yang sangat penting dalam mendukung kesuksesan seorang lelaki dalam berbagai aspek kehidupan, terlebih dalam perjuangan dakwah Islam. Sejarah telah memberikan teladan yang begitu kuat. Salah satunya adalah Ummul Mukminin, Sayyidah Khadijah al-Kubra, yang dengan penuh ketulusan mendampingi dan menopang dakwah Rasulullah ﷺ di masa-masa awal Islam yang penuh tekanan.
Perjuangan RA. Kartini
Ada pula RA. Kartini yang menjadi tokoh emansipasi wanita Indonesia yang memperjuangkan kesetaraan gender dan hak pendidikan bagi perempuan pribumi. Melalui surat-suratnya yang dibukukan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”, ia menggugat adat kolonial yang mengekang perempuan serta mendirikan sekolah untuk memajukan perempuan. Untuk mengingat perjuangan beliau, maka pada hari ini (21 April) diperingati Hari Kartini.
Baca juga: Kejadian Luar Biasa dalam Islam: Membedakan Mukjizat, Karamah, dan Tahayul
Teladan Ibu Nyai Dlomroh Lirboyo
Teladan serupa juga dapat kita temukan pada bilik-bilik pesantren yang salah satunya tumbuh dalam sosok Ibu Nyai Dlomroh, istri dari KH. Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo. Dengan keteguhan hati, beliau turut berjuang mendukung suaminya, bahkan rela bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga, agar sang suami dapat fokus mendidik para santri.[1] Dari sini tampak jelas bahwa di balik lelaki hebat, seringkali ada wanita kuat yang menopang dari belakang.
Baca juga: Hukum Menghutangkan Kas Organisasi atau Kas Masjid
Fitnah terbesar laki-laki
Namun demikian, Islam juga memberikan peringatan yang tidak kalah penting. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa fitnah terbesar bagi lelaki setelah beliau wafat adalah wanita, sebagaimana dalam hadits:
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita.”
Pernyataan ini bukan untuk merendahkan wanita, melainkan sebagai peringatan tentang besarnya pengaruh yang dimilikinya. Bahkan dalam penjelasan setelahnya, Syaikh Abu al-Hasan al-Harawi dalam kitabnya menjelaskan bahwa:
لَكِنِ الْمَرْأَةُ إِذَا كَانَتْ صَالِحَةً تَكُونُ خَيْرَ مَتَاعِهَا
“Wanita bisa menjadi sebaik-baik perhiasan dunia—apabila ia shalihah.”[2]
Di sinilah letak kunci persoalan: kualitas agama dan akhlak.
Imam al-Ghazali dalam karya monumentalnya menjelaskan dampak serius jika seseorang menikahi wanita yang lemah agamanya. Ia menggambarkan bahwa kehidupan rumah tangga akan dipenuhi kegelisahan dan ketidakstabilan. Jika suami membiarkan kemungkaran yang terjadi, ia ikut terjerumus dalam dosa. Namun jika ia menegur dan menentang, konflik pun tak terhindarkan dan hidup menjadi terasa sempit. Hingga pada akhirnya, sang suami tidak bisa memenuhi peran sebagai penjaga istri dan keluarga dari api neraka sebagaimana yang tertuang dalam QS. At-Tahrim ayat: 6.[3]
Karena itu, Rasulullah ﷺ memberikan pedoman yang sangat jelas:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِمَالِهَا وَجَمَالِهَا وَحَسَبِهَا وَدِينِهَا، فَعَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Wanita dinikahi karena empat hal: hartanya, kecantikannya, nasabnya, dan agamanya. Maka pilihlah yang beragama, niscaya engkau beruntung.”
Pesan ini bukan sekadar nasihat moral, tetapi prinsip strategis dalam membangun rumah tangga yang kokoh.
Hikmah menikahi wanita salihah
Lebih dalam lagi, Dr. Mushtafa Khin, dkk. dalam kitab Fiqh al-Manhaji menjelaskan hikmah mengapa agama dan akhlak disebutkan secara khusus dalam memilih pasangan. Menurutnya, agama memiliki sifat menguat seiring berjalannya waktu—ia tumbuh dengan ibadah, ujian, dan kedewasaan spiritual. Sementara akhlak akan semakin matang melalui pengalaman hidup dan interaksi sehari-hari.
Artinya, ketika dua orang dipersatukan atas dasar agama dan akhlak, hubungan mereka tidak hanya bertahan—tetapi berkembang. Cinta tidak mudah pudar, dan kasih sayang tidak cepat retak.[4]
Perbaiki dan benahi dulu dirimu
Dengan kata lain, jika kecantikan adalah daya tarik awal, maka agama dan akhlak adalah fondasi jangka panjang. Tanpa fondasi itu, bangunan rumah tangga mungkin terlihat indah di awal, tapi rawan runtuh saat diterpa ujian.
Namun, sebelum menilai seberapa salih/salihahnya pasangan, pastikan juga kita layak mendapatkan pasangan yang sepadan dalam agamanya. Karena pada dasarnya, dalam Al-Quran juga dijelaskan:
اَلْخَبِيْثٰتُ لِلْخَبِيْثِيْنَ وَالْخَبِيْثُوْنَ لِلْخَبِيْثٰتِۚ وَالطَّيِّبٰتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَالطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبٰتِۚ
“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula).” (QS. An-Nur ayat: 6). Wallahu a’lam.
[1] Untuk mengetahui alasan mengapa Bu Nyai Dlomroh rela menjadi tulang punggung keluarga. Baca buku: Nyai Dlomroh: Tokoh Perempuan Inspiratif di Balik Pondok Pesantren Lirboyo, (Kediri: Lirboyo Press), hal. 49-55.
[2] Alī bin (Sulṭān) Muḥammad, Abū al-Ḥasan Nūr al-Dīn al-Mullā al-Harawī al-Qārī, Mirqāt al-Mafātīḥ Syarḥ Misykāt al-Maṣābīḥ (Beirut: Dār al-Fikr, 2002), jil. 1, hlm. 47.
[3] Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad al-Ghazālī al-Ṭūsī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, t.t.), jil. 2, hlm. 37.
وَإِنْ كَانَتْ فَاسِدَةَ الدِّينِ بِاسْتِهْلَاكِ مَالِهِ أَوْ بِوَجْهٍ آخَرَ لَمْ يَزَلِ الْعَيْشُ مُشَوَّشًا مَعَهُ، فَإِنْ سَكَتَ وَلَمْ يُنْكِرْهُ كَانَ شَرِيكًا فِي الْمَعْصِيَةِ مُخَالِفًا لِقَوْلِهِ تَعَالَى: (قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا) [التَّحْرِيمِ: ٦] وَإِنْ أَنْكَرَ وَخَاصَمَ تَنَغَّصَ الْعُمْرُ، وَلِهَذَا بَالَغَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي التَّحْرِيضِ عَلَى ذَاتِ الدِّينِ فَقَالَ: تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِمَالِهَا وَجَمَالِهَا وَحَسَبِهَا وَدِينِهَا، فَعَلَيْكَ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ.
[4] Muṣṭafā al-Khin, Muṣṭafā al-Bughā, dan ‘Alī al-Syarbajī, al-Fiqh al-Manhajī ‘alā Madzhab al-Imām al-Syāfi‘ī (Damaskus: Dār al-Qalam li al-Ṭibā‘ah wa al-Nasyr wa al-Tawzī‘, 1992), vol. 4 hal. 42.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo