0
News
    Home Featured Idul Fitri Lebaran Pasuruan Spesial Tradisi

    Tradisi Praon Masyarakat Pesisir Utara Pasuruan, Lekatkan Hati di Idul Fitri - Tebuireng

    7 min read

     

    Tradisi Praon Masyarakat Pesisir Utara Pasuruan, Lekatkan Hati di Idul Fitri

    Tradisi Praoan di Pasuruan (sumber: beritajatimcom)
    Tradisi Praon yaitu tradisi jasa naik perahu gratis ke tengah laut untuk saudara atau tiap pengunjung desa Kalirejo, Lekok, Mandaran dan Panggung Kota Pasuruan. Pemilik perahu atau juragan perahu mengajak dan mempersilahkan saudaranya yang berkunjung ke rumahnya untuk naik perahu ke tengah laut selat Jawa bahkan ada beberapa perahu yang sampai ke pulau Madura.

    Hari raya merupakan momentum untuk mempererat hubungan sesama saudara muslim. Setiap muslim menemui tetangga, kerabat dan saudaranya setelah selesai melaksanakan sholat Id. Memohon maaf, mendoakan dan bercengkrama dengan semua saudara mengisi waktu dan hari-hari di Idul Fitri.

    Perayaan Idul Fitri di setiap tempat identik dengan bersilaturahmi, memohon maaf dan memaafkan, walaupun di beberapa daerah terdapat tradisi khas yang selalu dilakukan saat Idul Fitri tiap tahun. Contoh tradisi khas tersebut adalah Tradisi Praon di pesisir utara Jawa Timur, khususnya Pasuruan.

    Baca Juga: Pergeseran Otoritas Keilmuan dan Tantangan Mentradisikan Islam

    Tradisi Praon yaitu tradisi jasa naik perahu gratis ke tengah laut untuk saudara atau tiap pengunjung desa Kalirejo, Lekok, Mandaran dan Panggung Kota Pasuruan. Pemilik perahu atau juragan perahu mengajak dan mempersilahkan saudaranya yang berkunjung ke rumahnya untuk naik perahu ke tengah laut selat Jawa bahkan ada beberapa perahu yang sampai ke pulau Madura.

    Masyarakat pesisir utara Pasuruan menyiapkan suguhan makanan, minuman bahkan perahu dan bahan bakarnya untuk hari ke 7 lebaran. Setiap orang yang berkunjung ke rumahnya pasti dipersilahkan walaupun bukan saudaranya dan tidak saling kenal. Aneka makanan dan minuman disuguhkan dengan sambutan yang hangat dan obrolan yang sopan.

    Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

    Pengunjung bukan hanya masyarakat dalam kota, bukan hanya saudara dan kerabat, teman kerja atau teman kuliah putra-putrinya, juga wisatawan yang penasaran dengan budaya praon dan berasal dari luar kota Pasuruan. Kegiatan Praon dilakukan sejak pagi hari sampai ada beberapa rombongan perahu yang berlabuh tengah malam.

    Bapak Usman salah satu sesepuh desa Kalirejo memberikan keterangan melalui percakan whatsapp kepada penulis bahwa tradisi praon dilakukan sebagai upaya menjaga tradisi masyarakat pesisir utara Pasuruan dan menunjukkan bahwa masyarakat pesisir Pasuruan bisa berperilaku ramah, sopan dan menyambut hangat pengunjung.

    Baca Juga: Dialektika Ruang Bersama dan Resiliensi Sosial dalam Tradisi Berbagi Kamar di Pesantren

    Asumsi sebagai masyarakat keras dan senang berkonflik memang belum bisa dihilangkan sepenuhnya dari masyarakat pesisir Pasuruan. Hampir tiap tahun selalu ada peristiwa konflik baik antar sesama warga dalam satu desa ataupun antar desa di pesisir Pasuruan. Konflik yang terjadi bahkan dengan menggunakan senjata tajam. Walaupun konflik tersebut hanya dilakukan oleh segelintir orang yang salah paham tetapi asumsi negatif sebagai masyarakat desa yang sering berkonflik melekat kepada setiap warga masyarakat pesisir Pasuruan.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala bersabda dalam QS al-Hujuroh ayat 10;

    إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

    Yang artinya, “sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara maka damaikanlah antara saudara-saudara kalian. Dan bertakwalah pada Allah supaya kalian mendapat rahmat.”

    Pertengkaran atau konflik yang terjadi dan mengakibatkan perpecahan antar warga harus segera diselesaikan dan didamaikan. Perilaku damai dan mendamaikan merupakan kewajiban dan karakter seorang mukmin. Keadaan damai dan kekeluargaan menciptakan lingkungan yang kondusif sehingga warga menjadi produktif dalam menjalankan tugas sebagai khalifah fi al-ardl, pelaksana tugas memakmurkan bumi.

    Masyarakat Pesisir Pasuruan memanfaatkan momentum Idul Fitri untuk menjalin silaturahim dengan semua saudara dan pengunjung desa di pesisir Pasuruan. Masyarakat pesisir Pasuruan yang beraktifitas di luar lingkungannya baik sebagai pekerja ataupun pelajar dan mahasiswa selalu berusaha memperbaiki asumsi negatif tersebut. Asumsi sebagai masyarakat yang suka berkonflik, tawuran dan kekerasan. Mereka mengajak rekan kerja, teman kuliah bahkan murid-muridnya untuk mengunjungi desanya dan menawarkan berkeliling laut selat jawa dengan perahu secara gratis saat hari ke 7 hari raya Idul Fitri.

    Baca Juga: Refleksi Idul Fitri dan Kehidupan setelah Ramadan

    Penulis memiliki teman sewaktu bersekolah dasar bernama Pak Saddam yang masa kecil hingga sebelum menikah tinggal bersama keluarganya di daerah Kisik Kalirejo Pasuruan. Pak Saddam termasuk warga Kalirejo yang ramah dan terbuka terhadap warga luar Kisik. Beliau menempuh hampir 70% proses pendidikannya di luar lingkungan Kalirejo sehingga mengalami interaksi intens dengan budaya luar.

    Saat ini pak Saddam berprofesi sebagai guru sekolah Dasar Negeri di Kota Pasuruan. Beliau dikenal sebagai guru yang ramah dan bersahabat dengan murid-muridnya, jauh sekali dari karakter pemarah dan keras yang selama ini dipredikatkan kepada penduduk masyarakat pesisir. Pak Saddam berusaha memperkenalkan budaya dan karakter warga kalirejo yang ramah dan hangat terhadap teman-teman sekolah, teman kuliah, teman guru dan segenap murid-muridnya. Hampir tiap tahun Pak Saddam mengajak koleganya untuk berkunjung ke rumahnya saat hari ke 7 idul fitri atau sering disebut lebaran ketupat.

    Pak Saddam tidak canggung sedikitpun menemani temannya atau bahkan murid-muridnya naik perahu mengarungi laut selat jawa. Pak Saddam juga menyuguhkan makanan khas kampung pesisir kepada tamunya sebagai bentuk penghormatan dan sambutan hangat kepada tamu yang datang. Pak Saddam dan warga Kisik atau desa lain di pesisir Pasuruan meyakini bahwa asumsi negatif desa yang sering konflik bisa berubah dengan upaya yang dilakukan oleh warga desa sendiri dengan bersikap ramah, sopan, santun dan menyambut hangat setiap pengunjung yang datang.

    Baca Juga: Berbagai Kemaslahatan dalam Tradisi Lebaran Ketupat

    Keyakinan pak Saddam sesuai dengan ayat al-Qur’an surah ar-Ra’du ayat 11;

    إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

    Yang artinya “sesungguhnya Allah SWT tidak akan merubah (keadaan) pada suatu kaum hingga mereka (berusaha) merubah keadaan tersebut dengan dirinya sendiri.

    Pak Saddam berharap tradisi praon dan silaturahim yang disertai dengan keramahan dan kehangatan penduduk desa bisa merubah asumsi negatif terhadap warga pesisir utara Pasuruan dan melekatkan kembali hati setiap warga desa yang sempat berkonflik

    Adanya tradisi praon selain sebagai budaya silaturahim dan memperkenalkan karakter ramah warga pesisir Pasuruan, juga mendatangkan keberkahan bagi warga pesisir Pasuruan. Masyarakat desa setempat bisa memperkenalkan produk unggulan yang bisa dipasarkan kepada pengunjung. Produk makanan olahan hasil laut, kerajinan dan juga jasa.

    Baca Juga: Tiga Tradisi Lebaran Khas Kota Sumenep Madura

    Sebagian besar masyarakat pesisir Pasuruan saat ini sudah bersaing dalam hal tingginya tingkat pendidikan dan kesejahteraan ekonomi. Banyak putra-putri desa yang menjadi TNI, dokter, guru dan Polisi. Mereka semua mempunyai keinginan dan tujuan yang sama yaitu menghilangkan asumsi negatif sebagai warga kampung yang suka konflik dan bertengkar menjadi kampung yang ramah dan menyambut hangat tiap pengunjung.



    Penulis: Mochammad Zarkoni, Penduduk Pesisir Pasuruan Alumni Unhasy Tebuireng


    Komentar
    Additional JS