Unik, Jemaah Haji Pacitan Pasang Boneka hingga Rajutan agar Koper Tak Tertukar - Kompas
PACITAN, KOMPAS.com – Ratusan jemaah haji asal Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, mulai memadati Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Pacitan di Jalan HOS Cokroaminoto untuk mengumpulkan koper bagasi, Minggu (26/4/2026).
Menariknya, pemandangan unik terlihat pada deretan koper milik 274 jemaah asal kabupaten berjuluk 70 Mile Sea Paradise tersebut. Untuk menghindari risiko tertukar saat berada di Arab Saudi, para jemaah memasang berbagai penanda mencolok, mulai dari boneka berukuran besar, kain warna-warni, dasi, hingga rajutan khusus.
Baca juga: Melihat Dapur Asrama Haji Indramayu: Diawasi Ahli Gizi, Ada Menu Khusus Lansia
Inisiatif Jemaah Hindari Koper Tertukar
Plt Kepala Kantor Kemenag Pacitan, Marjuni, menjelaskan bahwa pemasangan tanda unik tersebut murni merupakan inisiatif para jemaah. Pihak Kemenag tidak memberikan imbauan khusus, namun memaklumi langkah kreatif tersebut demi kemudahan jemaah.
"Inisiatif jemaah haji menandai dengan tanda-tanda khusus ini dalam rangka memudahkan mereka manakala sudah sampai di Arab Saudi," ujar Marjuni saat ditemui di lokasi pengumpulan koper, Minggu.
Daftar 10 Universitas Terbaik di Indonesia, Apakah Kampus Impian Anda Termasuk?
Menurut Marjuni, penanda tersebut sangat membantu saat proses distribusi koper di lobi hotel. Biasanya, koper-koper jemaah akan diturunkan satu per satu dalam jumlah ribuan.
"Kalau jemaah sudah menandai sejak awal di tanah air, maka akan memudahkan mereka saat mengambil koper untuk dibawa ke kamar hotel masing-masing. Jika tidak ada penanda, dalam kondisi tertentu jemaah akan kesulitan," tegasnya.
Meski diperbolehkan, Marjuni mengingatkan agar atribut tambahan tersebut tidak menutupi atau mengganggu identitas resmi yang telah ditempelkan oleh petugas.
Baca juga: Dokter Imbau Jemaah Haji Rutin Peregangan di Pesawat, Cegah Risiko Penggumpalan Darah
Aturan Ketat Berat Koper Maksimal 32 Kilogram
Selain soal identitas, petugas juga melakukan pengawasan ketat terhadap berat koper jemaah. Sebelum masuk ke dalam truk pengangkut, setiap koper wajib ditimbang untuk memastikan beratnya tidak melebihi batas maksimal 32 kilogram.
"Kita pastikan dalam koper itu tidak melebihi kapasitas. Usahakan kurang dari 32 kilogram. Jika ada yang lebih, jemaah diberikan edukasi untuk membongkar dan mengurangi isinya di lokasi," jelas pria yang juga menjabat sebagai Kepala Kantor Kemenag Ponorogo ini.
Hingga proses pengumpulan berlangsung, Marjuni mengklaim belum ditemukan koper yang over kapasitas. Seluruh barang bawaan jemaah terpantau sesuai dengan aturan penerbangan yang berlaku.
Baca juga: Alifiya, Mahasiswa Semester 4 Berangkat Haji dari Cimahi dengan Selimut Duka di Bangku Sang Ayah
Perubahan Skema Pengumpulan Koper
Terdapat perbedaan prosedur pengumpulan koper pada musim haji tahun 2026 ini dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada tahun 2025 koper dikumpulkan lima jam sebelum kedatangan jemaah, tahun ini koper harus sudah tiba di Embarkasi Juanda Surabaya satu hari sebelumnya.
"Tahun ini berbeda karena kapasitas asrama haji mencapai 4-5 kloter per hari. Maka, satu hari sebelum kedatangan jemaah, koper harus sudah berada di Embarkasi Juanda," pungkas Marjuni.
Koper yang dikumpulkan hari ini merupakan koper besar untuk bagasi pesawat. Sementara itu, koper kecil atau tas kabin akan dibawa masing-masing jemaah saat keberangkatan menggunakan bus menuju embarkasi.
Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul Boneka Hingga Rajutan Jadi Tanda: Cara Unik Jemaah Haji Pacitan Agar Koper Tak Tertukar di Makkah
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Saksi Dengar Benda Jatuh Sebelum Temukan PRT Indekos di Benhil Terjun dari Lantai 4