0
News
    Home Arab Saudi Berita Dunia Internasional Featured Fenomena Fenomena Alam Haji Info9 Meteor Lyrid Spesial

    Warga dan Jemaah Haji di Arab Saudi Bisa Melihat Hujan Meteor Lyrid dengan Mata Telanjang - Kompas

    8 min read

     

    Warga dan Jemaah Haji di Arab Saudi Bisa Melihat Hujan Meteor Lyrid dengan Mata Telanjang

    KOMPAS.com - Fenomena langit menarik akan menghiasi langit malam pada April 2026.

    Salah satu peristiwa astronomi yang dinanti adalah hujan meteor Lyrid, yang dikenal sebagai hujan meteor tertua dalam catatan sejarah.

    Dilansir dari SPA, Perhimpunan Astronomi Noor menyebut langit Arab Saudi dan kawasan Arab berpeluang menyaksikan puncak fenomena ini pada pekan ini.

    Baca juga: Doa dan Dzikir Saat Melihat Hujan Meteor, Amalan Saat Melihat Fenomena Langit

    Pengamatan disebut dapat dilakukan langsung dengan mata telanjang tanpa alat khusus.

    Iran Siap "Tarik Pelatuk", Siaga Serangan AS Meski Gencatan Senjata Berlanjut

    Perhimpunan Astronomi Noor mengumumkan bahwa langit di Arab Saudi dan kawasan Arab diperkirakan akan menyaksikan puncak hujan meteor Lyrid pada larut malam Rabu (22/4/2026) hingga Kamis dini hari (23/4/2026) .

    Baca juga: Fenomena Hujan Meteor Lyrids April 2026, Kapan Bisa Dilihat di Indonesia?

    Hujan Meteor Lyrid Salah Satu yang Tertua

    Lyrid merupakan salah satu hujan meteor paling tua yang pernah dicatat manusia. Fenomena ini telah diamati sejak ribuan tahun lalu.

    Perhimpunan tersebut menyebut hujan meteor ini merupakan salah satu fenomena astronomi tertua.

    Dengan catatan sejarah yang menunjukkan pertama kali diamati sekitar 2.700 tahun lalu, tepatnya pada 687 SM, sehingga menjadi salah satu hujan meteor tertua yang pernah tercatat.

    Baca juga: Misi Suci Dimulai, Selamat Bertugas Petugas Haji 2026

    Hujan meteor Lyrids menjadi salah satu fenomena astronomi yang menarik untuk diamati pada April 2026.

    Fenomena ini dikenal sebagai salah satu hujan meteor tertua yang pernah tercatat dalam sejarah pengamatan manusia di Bumi.

    Hujan Meteor Lyrid Bisa Dilihat Tanpa Teleskop

    Pengamat tidak memerlukan alat canggih untuk menyaksikan hujan meteor ini. Lokasi yang gelap dan terbuka justru menjadi kunci utama pengamatan.

    Baca juga: Berdebar-debar, Penantian Maisaroh Dampingi Ibu 88 Tahun ke Tanah Suci

    Ketua Perhimpunan, Issa Al-Ghafili, mengatakan fenomena ini tidak memerlukan teleskop atau peralatan canggih untuk mengamatinya, karena dapat dilihat langsung dengan mata telanjang dari lokasi terbuka yang jauh dari polusi cahaya, mulai tengah malam hingga menjelang fajar.

    Pengamatan dengan mata telanjang justru lebih disarankan karena memberikan bidang pandang yang lebih luas.

    Sebaliknya, penggunaan teleskop akan mempersempit area pengamatan sehingga peluang melihat meteor justru menjadi lebih kecil.

    Baca juga: Deg-degan soal Kondisi Timur Tengah, Jemaah Haji Ini Fokus Persiapan Mental

    Penjelasan Fenomena Hujan Meteor Lyrid

    Dilansir dari Kompas.tv, fenomena hujan meteor Lyrid berasal dari sisa material komet yang melintas di tata surya. Debu komet itu kemudian memasuki atmosfer bumi dan terbakar.

    Mengutip laman Live Science, hujan meteor Lyrids berasal dari debu dan puing-puing yang ditinggalkan oleh Komet C/1861 G1 (Thatcher). Komet ini mengorbit Matahari dengan periode yang sangat panjang, yakni sekitar 415,5 tahun.

    Setiap kali bumi melintasi jalur sisa material komet tersebut di tata surya bagian dalam, partikel-partikel kecil itu akan masuk ke atmosfer dan terbakar akibat gesekan. Hal ini menciptakan fenomena cahaya yang tampak seperti “bintang jatuh” di langit malam.

    Baca juga: Ketika Panggilan Itu Datang Lebih Awal, Kisah Kesempatan Langka Jemaah Haji Muda

    Komet Thatcher terakhir kali terdeteksi berada di tata surya bagian dalam pada 1861. Berdasarkan perhitungan astronomi, komet ini diperkirakan baru akan kembali mendekati matahari sekitar 2276.

    Jadwal Puncak Hujan Meteor Lyrid April 2026

    Meski komet induknya jarang muncul, sisa debunya masih rutin memicu hujan meteor setiap tahun. Tahun ini, puncak fenomena diperkirakan terjadi pada akhir April.

    Meski begitu, jejak debunya tetap tertinggal dan terus berinteraksi dengan orbit bumi, sehingga hujan meteor Lyrids dapat diamati secara rutin setiap tahun.

    Baca juga: 6 Bulan Naik Sepeda ke Sekolah, Aziz Guru Honorer di Jakut Dapat Hadiah Motor Baru

    Pada 2026, hujan meteor Lyrids diperkirakan mencapai puncaknya pada malam 22 hingga dini hari 23 April.

    Berdasarkan data dari In the Sky, aktivitas meteor umumnya mulai meningkat sejak larut malam dan mencapai intensitas terbaik setelah tengah malam hingga menjelang fajar.

    Meski begitu, waktu terbaik untuk mengamati hujan meteor Lyrids bisa berbeda di setiap wilayah.

    Baca juga: “Harapan Saya, Tolong Semua Guru di Negara Ini Disejahterakan”

    Intensitas Meteor Bisa Capai 20 per Jam

    Saat kondisi langit cerah dan minim cahaya, hujan meteor Lyrid dapat menampilkan puluhan meteor setiap jam.

    Saat mencapai puncaknya, hujan meteor Lyrids diperkirakan menghasilkan sekitar 10 hingga 20 meteor per jam dalam kondisi langit yang cerah dan minim polusi cahaya.

    Bagi pengamat langit, momen ini menjadi kesempatan menarik untuk menikmati fenomena alam langka tanpa alat bantu. Cukup cari lokasi gelap, pandang langit terbuka, dan tunggu meteor melintas menjelang fajar.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS