0
News
    Update Haji
    Home Featured Spesial

    Jangan Salah Memilih Guru, Inilah Tiga Kriteria Orang yang Layak Dijadikan Guru - Lirboyo

    4 min read

     

    Jangan Salah Memilih Guru, Inilah Tiga Kriteria Orang yang Layak Dijadikan Guru - Lirboyo

    Kemajuan teknologi membuat semua orang berhak berbicara dalam hal apapun—lebih-lebih terkait bidang agama. Beberapa dari mereka pernah membuat polemik hingga berujung viral di media sosial, kendati demikian ia tidak memiliki kapabilitas sanad keilmuan yang jelas dan terlanjur dikerubungi pengikut fanatik.

    Padahal ulama kita dahulu sudah memberi ketegasan dalam hal sanad keilmuan. Imam Ibnu al-Mubarak berkata:

    الإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ، وَلَوْلَا الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

    “Sanad adalah bagian dari agama. Seandainya tidak ada sanad, niscaya siapa pun akan berkata sesuka hatinya (dalam urusan agama).”

    Melihat fenomena ini, sebetulnya siapa yang pantas dijadikan guru/ustadz dalam bidang agama Islam?

    Baca juga: Pembasmian Ikan Sapu-Sapu: Bolehkah Mengubur Hidup-Hidup?

    Salah satu agar ilmu seorang santri bermanfaat

    Syaikh as-Syathibi menjelaskan dalam al-Muwafaqat salah satu yang menyebabkan ilmu seorang santri itu bermanfaat adalah dengan memilih guru yang betul-betul menguasai ilmu secara sempurna dan paripurna.

    مِنْ أَنْفَعِ طُرُقِ الْعِلْمِ الْمُوَصِّلَةِ إِلَى غَايَةِ التَّحَقُّقِ بِهِ أَخْذُهُ عَنْ أَهْلِهِ الْمُتَحَقِّقِينَ بِهِ عَلَى الْكَمَالِ وَالتَّمَامِ.

    “Di antara jalan ilmu yang paling bermanfaat, yang dapat mengantarkan seseorang kepada puncak penguasaan dan hakikat ilmu, ialah mengambil ilmu dari ahlinya, yaitu orang-orang yang benar-benar mendalami dan menguasainya secara sempurna dan paripurna.”

    Namun, bagaimana cara mengetahui bahwa seorang guru benar-benar memiliki sifat tersebut?

    Baca juga: Kriteria Memilih Istri

    3 Kriteria orang yang layak menjadi guru

    Selanjutnya, Syaikh Ibrahim as-Syatibi menjelaskan tiga tanda yang menunjukkan bahwa seseorang benar-benar matang dan mendalam dalam keilmuannya.

    1. Mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya, sehingga perkataannya selaras dengan perbuatannya. Jika perbuatannya bertentangan dengan ucapannya, maka ia bukan orang yang layak diambil ilmunya dan tidak pantas dijadikan teladan dalam ilmu.
    2. Ia adalah seorang guru yang dibina langsung oleh para ahli dalam bidang keilmuan tersebut. Ia menimba ilmu secara sempurna dari para gurunya serta lama bermulazamah dan mendampingi mereka. Karena itu, ia layak menyandang kemuliaan dan kedudukan sebagaimana yang dimiliki para gurunya. Demikianlah tradisi para salaf saleh terdahulu.

    Jalan ini pertama kali dicontohkan oleh para sahabat yang senantiasa mendampingi Nabi Muhammad Saw. Mereka belajar langsung dari ucapan, perbuatan, dan akhlak beliau, serta menerima setiap ajaran beliau dengan penuh keimanan dan ketundukan.

    Baca juga: Mengadakan Tahlilan Sampai Berutang?

    Karena kedekatan mereka dengan Rasulullah Saw, para sahabat mampu memahami maksud dan hikmah ajaran beliau secara mendalam. Keyakinan dan pemahaman itu lahir bukan secara instan, tetapi melalui mulazamah, ketekunan, dan kesungguhan dalam menemani serta belajar dari Rasulullah Saw.

    3. Meneladani orang yang darinya ia mengambil ilmu serta beradab dengan adab gurunya. Sebagaimana telah engkau ketahui tentang para sahabat yang meneladani Nabi Muhammad Saw., kemudian para tabi’in yang meneladani para sahabat, dan demikian seterusnya pada setiap generasi.

    Dengan cara inilah sanad ilmu, adab, dan keteladanan tetap terjaga dari satu generasi ke generasi berikutnya.

    Baca juga: Kejadian Luar Biasa dalam Islam: Membedakan Mukjizat, Karamah, dan Tahayul

    Selanjutnya, Syaikh Syatibi menegaskan jika seorang guru tidak memiliki sifat-sifat di atas, yang akan muncul adalah hal-hal yang baru yang hanya menuruti hawa nafsunya saja.

    فَلَمَّا تُرِكَ هَذَا الْوَصْفُ؛ رَفَعَتِ الْبِدَعُ رُءُوسَهَا لِأَنَّ تَرْكَ الِاقْتِدَاءِ دَلِيلٌ عَلَى أَمْرٍ حَدَثَ عِنْدَ التَّارِكِ، أَصْلُهُ اتِّبَاعُ الْهَوَى

    “Tatkala sifat tersebut mulai ditinggalkan, maka bid’ah pun mulai menampakkan kepalanya. Sebab, meninggalkan sikap meneladani para pendahulu merupakan tanda munculnya sesuatu yang baru dalam diri orang yang meninggalkannya, yang asalnya adalah mengikuti hawa nafsu.”

    Karena itu, jangan hanya melihat kepiawaian seseorang berbicara, banyaknya pengikut, atau ramainya potongan video yang beredar. Lihatlah dari siapa ia belajar, bagaimana akhlaknya, apakah ilmunya diamalkan, dan apakah ilmu yang ia dapatkan itu tersambung dengan mata rantai ulama yang terpercaya hingga berakhir pada Rasulullah.

    Sebab ilmu agama bukan hanya tentang “siapa yang paling cepat bicara”, tetapi siapa yang paling benar jalannya.

    Baca juga: Hukum Menghutangkan Kas Organisasi atau Kas Masjid

    Referensi:

    Abū Isḥāq Ibrāhīm bin Mūsā bin Muḥammad al-Lakhmī al-Syāṭibī, al-Muwāfaqāt, tahqīq Abū ‘Ubaidah Masyhūr bin Ḥasan Āl Salmān, kata pengantar Bakr bin ‘Abd Allāh Abū Zaid (Dammam: Dār Ibn ‘Affān, 1997), jil. 1, hlm. 139–144.

    Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

    Komentar
    Additional JS