0
News
    Update Haji
    Home Featured Khotbah Jum'at Khutbah Jum'at Spesial

    Khutbah Jumat: Allah Tidak Membebani Hamba di Luar Batas Kemampuannya - NU Online

    8 min read

     

    Khutbah Jumat: Allah Tidak Membebani Hamba di Luar Batas Kemampuannya

    Khutbah Jumat (Freepik)

    Salah satu prinsip penting dalam ajaran Islam adalah bahwa Allah tidak membebani seorang hamba melampaui batas kemampuannya. Prinsip ini menenangkan hati banyak orang yang sedang menghadapi ujian hidup, karena menunjukkan bahwa setiap cobaan yang datang sudah disesuaikan dengan kekuatan masing-masing individu.

    Untuk itu, teks khutbah Jumat berikut berjudul "Khutbah Jumat: Khutbah Jumat: Allah Tidak Membebani Hamba di Luar Batas Kemampuannya,". Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan dekstop). Semoga bermanfaat.

    Khutbah I

    الْحَمْدُ للهِ. الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ, يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ لَا أُحْصِيْ ثَنَاءَكَ عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ, وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

    اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,

    Sesungguhnya merupakan suatu keniscayaan bagi kita untuk senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt., yang telah menganugerahkan kepada kita berbagai macam kenikmatan yang tidak akan mampu kita hitung jumlahnya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

    وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌࣖ ۝٣٤

    Artinya; Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zalim lagi sangat kufur. (QS. Ibrahim: 34)

    Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw., kepada keluarga beliau, para sahabatnya, serta semoga sampai pula kepada kita semua selaku umatnya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. 

    Selanjutnya, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada jamaah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt., dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah Taala berfirman:

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. (Qs. Ali-Imran: 102).

    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,

    Islam merupakan agama yang penuh rahmat dan kasih sayang. Dalam setiap ajarannya, Islam tidak membebani seorang hamba kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Oleh karena itu, ketika terdapat kesulitan dalam menjalankan ibadah, selalu ada kemudahan (rukhsah) yang Allah Swt. berikan.

    Allah Swt. berfirman:

    هُوَ اجْتَبٰىكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍ

    Artinya: “Dia telah memilih kamu dan tidak menjadikan kesulitan untukmu dalam agama.” (QS. Al-Hajj: 78)

    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,

    Pada ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah Swt. tidak menjadikan agama ini sebagai sesuatu yang memberatkan bagi umat Islam. Jika dalam menjalankan ibadah ada kesulitan, Allah selalu memberikan kemudahan sebagai jalan keluar. Dalam ilmu fikih, kemudahan seperti ini disebut rukhsah.

    Di antara contoh rukhsah itu adalah diperbolehkannya shalat jamak dan qashar bagi orang yang sedang bepergian, kebolehan tidak berpuasa bagi orang yang sakit atau musafir yang kemudian wajib menggantinya di hari lain, serta diperbolehkannya mengonsumsi sesuatu yang haram dalam keadaan darurat apabila tidak ada pilihan lain yang dapat menyelamatkan jiwa.

    Seluruh bentuk rukhsah dalam syariat Islam ini pada hakikatnya bertujuan untuk memberikan kemudahan dan meringankan umat Islam dalam menjalankan agama, tanpa mengurangi nilai ketaatan kepada Allah Swt.

    Pada ayat lain, Allah berfirman tentang keringanan yang diberikan oleh Allah kepada manusia:

    لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْۗ

    Artinya: “Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya”. (QS. Al-Baqarah: 286)

    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,

    Dalam kitab At-Tahrir wa at-Tanwir (juz 3, hlm. 135), Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa ayat ini mengandung prinsip penting: Allah tidak membebani manusia dengan kewajiban ibadah yang melebihi kemampuannya.

    Hal ini dapat dipahami dari kata “nafsan” yang digunakan dalam bentuk umum, sehingga mencakup semua manusia tanpa terkecuali. Artinya, tidak ada satu pun manusia yang diberi beban yang benar-benar tidak mampu ia jalankan. Dari sini bisa dipahami bahwa ajaran Islam pada dasarnya mudah dan sesuai dengan kemampuan manusia.

    Ibnu ‘Asyur juga menjelaskan bahwa setiap aturan dalam syariat selalu mempertimbangkan kondisi dan kemampuan manusia, termasuk usaha dan kesungguhan mereka dalam beribadah. Dengan kata lain, Allah tidak menetapkan sesuatu yang memang mustahil untuk dilakukan.

    Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah Saw juga bersabda:

    ‌إِنَّ ‌الدِّينَ ‌يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا، وَأَبْشِرُوا، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ

    Artinya: “Sesungguhnya agama itu mudah. Dan selamanya agama tidak akan memberatkan seseorang melainkan memudahkannya. Karena itu, luruskanlah, dekatilah, dan berilah kabar gembira! Minta tolonglah kalian di waktu pagi-pagi sekali, siang hari di kala waktu istirahat dan di awal malam”. (HR. Bukhari)

    Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,

    Syekh Nawawi Banten dalam Marah Labid jilid 1 hal 107 menjelaskan bahwa Allah tidak membebani seseorang dalam ketaatan kecuali sesuai dengan kemampuannya. Setiap kebaikan akan dibalas dengan pahala, dan setiap keburukan akan mendapatkan balasannya.

    لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا مِنَ الطَّاعَةِ إِلَّا وُسْعَهَا أَيْ طَاقَتَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ أَيْ ثَوَابُهُ مِنَ الْخَيْرِ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ أَيْ وِزْرُهُ مِنَ الشَّرِّ

    Artinya: “Allah tidak akan membebani seseorang dalam ketaatan kecuali sesuai kesanggupanya dalam melaksanakannya. Baginya balasan pahala atas kebaikan yang ia perbuat dan baginya pula balasan dosa atas keburukan yang juga ia perbuat”.

    Melalui mimbar mulia ini, khatib mengajak kepada jamaah sekalian untuk selalu bersyukur kepada Allah Swt dengan selalu melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sebab Allah Swt telah membuat agama ini mudah, maka selayaknya kita melaksanakannya dengan baik.

    بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

    Khutbah II

    الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَ عِبَادَهُ بِالْخَيْرِ وَحَذَّرَهُمْ مِنَ الشَّرِّ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ، وَنَسْتَغْفِرُهُ مِنَ الذُّنُوْبِ وَالزَّلَّاتِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ عَمَلٍ لَا يُرْضِيْهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

    أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا
    عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.

    اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ
    بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

    رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَر.ِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
    تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ.

    -------

    Alwi Jamalulel Ubab, Penulis Tinggal di Indramayu 

    Komentar
    Additional JS