0
News
    Update Haji
    Home Berita Featured Internet Media Sosial Spesial Tabayyun Tekno

    Tabayyun dalam Perspektif Tafsir: Menyikapi Berita Viral di Media Sosial - Tebuireng Online

    9 min read

     

    Tabayyun dalam Perspektif Tafsir: Menyikapi Berita Viral di Media Sosial

    Sebuah ilustrasi tabayyun
    Tabayyun menjadi kunci dalam etika bermedia sosial. Sikap ini bisa dilakukan dengan langkah sederhana: memeriksa sumber berita, tidak mudah terpancing emosi, serta membandingkan informasi dari sumber yang terpercaya.

    Di era digital, informasi menyebar begitu cepat. Dalam hitungan detik, berita bisa beredar luas melalui WhatsApp, Instagram, hingga TikTok. Dari sinilah muncul budaya “viral”, di mana suatu informasi langsung dikonsumsi publik tanpa proses pengecekan yang memadai. Akibatnya, tidak sedikit berita yang ternyata keliru, terpotong konteksnya, bahkan sengaja dibuat untuk menyesatkan.

    Baca Juga: Waspada Fitnah Digital: Menyikapi Ancaman Deepfake dengan Prinsip Tabayyun

    Di era digital saat ini, arus informasi tersebar luas hanya dalam hitungan detik melalui berbagai platform media sosial seperti WhatsApp, Instagram, dan TikTok. Fenomena ini melahirkan budaya “viral”, di mana suatu informasi dapat dengan mudah menjadi konsumsi publik tanpa melalui proses verifikasi yang memadai. Akibatnya, tidak sedikit informasi yang beredar ternyata tidak benar, terpotong dari konteks, atau bahkan sengaja dibuat untuk menyesatkan

    Dalam Islam, fenomena seperti ini sebenarnya sudah diantisipasi melalui konsep tabayyunTabayyun berarti mencari kejelasan dan memastikan kebenaran suatu informasi sebelum diterima atau disebarkan. Tabayyun berasal dari fi‘il māḍī tabayyana yang berakar dari kata yang bermakna “jelas”. Kata tabayyana mengikuti kaidah ṣarf dengan wazan تفعل (tafa‘ala), sedangkan tabayyun merupakan bentuk maṣdar dari kata tersebut. Salah satu faedah wazan tafa‘ala adalah menunjukkan makna takalluf (upaya atau kesungguhan), sehingga tabayyun yang pada asalnya berarti “jelas” berkembang menjadi “mencari kejelasan”.

    Tabayyun juga bisa dipahami sebagai proses observasi dan penyelidikan. Seseorang tidak langsung percaya, tetapi menelaah dan memeriksa informasi secara cermat hingga mendapatkan kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan.[1]

    Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

    Baca Juga: Membangun Civil Society Perlu Keberanian (1)

    Dalam ajaran Islam, tabayyun bukan hanya anjuran, tetapi bagian dari prinsip kehati-hatian (iḥtiyāṭ) untuk menjaga kebaikan dan menghindari kerusakan. Landasannya terdapat dalam Al-Qur’an, khususnya QS. Al-Hujurat ayat 6:

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan yang akhirnya membuat kamu menyesal.”

    Asbabul Nuzul ayat ini berkaitan dengan peristiwa Walid bin Uqbah yang keliru melaporkan bahwa Bani al-Musthaliq telah murtad. Nabi Muhammad kemudian mengutus Khalid bin Walid untuk memastikan. Setelah diselidiki, ternyata mereka tetap berpegang pada Islam. Dari peristiwa ini, Allah memberikan peringatan agar tidak tergesa-gesa dalam menerima berita. Setelah kejadian itu, Nabi Muhammad bersabda:

    التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ

    Artinya: “Ketenangan (tidak tergesa-gesa) itu dari Allah, dan tergesa-gesa itu dari setan.”[2]

    Penjelasan lebih lanjut tentang kandungana lafadz ini ayat ini disampaikan oleh para ulama, di antaranya:

    إِن جَآءَكُمْ فَاسِقُ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُواْ﴾ أي فتثبتوا من قوله؛ وتبينوا صوابه من خطئه. والفاسق: العاصي. والعصيان: يشمل الكذب، والغيبة، والنميمة ﴿أَن تُصِيببُواْ قَوْمَا بِجَهَالَةٍ﴾ أي لئلا تصيبوا قومًا وأنتم تجهلون حقيقة أمرهم

    Artinya: Fasik adalah orang yang durhaka, termasuk yang melakukan kebohongan, ghibah, dan adu domba. Tujuannya agar tidak mencelakakan suatu kaum dalam keadaan tidak mengetahui hakikat sebenarnya.[3]

    Baca Juga: Cancel Culture, Penghakiman Massa, dan Etika Mengoreksi dalam Pandangan Islam

    Dari ayat ini, para ulama juga merumuskan beberapa pelajaran penting, di antaranya:

    الثانية: معنى التبين وهو التثبت. الثالثة: الأمر الذي نزلت فيه الآية، وهو أمر المسلمين بعدم العجلة. الرابعة: ذكر علّة الحكم، وهو الندم إذا أصابوا قوما بجهالة. الخامسة: أن الله لم يأمر بتكذيب الفاسق، ولكن أمر بالتثبت. السادسة: استدل بها على أنه إذا عُرِف صدقه عمل به، لانتفاء العلة. السابعة: استدل بها على أن الخبر إذا أتى به أكثر من واحد، فليس في الآية الأمر بالتبيين فيه. لثامنة: أن المؤمن يندم إذا تبين له خطؤه

    Artinya: ayat ini mengandung beberapa penjelasan, pertama, Tabayyun berarti memastikan kebenaran, bukan sekadar menerima informasi. Islam melarang sikap tergesa-gesa dalam menyikapi berita. Kedua, Kesalahan dalam informasi bisa berujung penyesalan. Ketiga Tidak semua berita harus ditolak, tetapi perlu diverifikasi. Keempat Jika sumbernya terpercaya, maka beritanya bisa diterima. Kelima, Seorang mukmin akan menyesal ketika menyadari kesalahannya.[4]

    Jika dikaitkan dengan kondisi sekarang, fenomena viral di media sosial sering menunjukkan bahwa banyak orang bereaksi terlalu cepat. Judul yang provokatif atau emosional mudah memancing orang untuk langsung membagikannya tanpa berpikir panjang. Padahal, dampaknya bisa serius: menyebarkan fitnah, merusak nama baik, hingga memicu konflik sosial. Dalam perspektif fiqih, hal ini bisa termasuk ghibah jika membicarakan keburukan orangain, bahkan menjadi fitnah jika informasinya tidak benar.

    Karena itu, tabayyun menjadi kunci dalam etika bermedia sosial. Sikap ini bisa dilakukan dengan langkah sederhana: memeriksa sumber berita, tidak mudah terpancing emosi, serta membandingkan informasi dari sumber yang terpercaya. Bahkan, menahan diri untuk tidak langsung membagikan berita juga merupakan bentuk tanggung jawab moral. Hal ini sejalan dengan kaidah:

    درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

    “Menolak kerusakan lebih diutamakan daripada mengambil kemaslahatan.”

    Baca Juga: Krisis Sosial di Era Digital

    Lebih jauh lagi, Islam mengajarkan bahwa setiap ucapan dan tindakan akan dipertanggungjawabkan, termasuk di dunia digital. Apa yang kita tulis, bagikan, atau komentari tetap tercatat sebagai bagian dari amal. Setiap “share” pada dasarnya adalah bentuk kesaksian, dan setiap komentar mencerminkan akhlak.

    Kita tidak bisa menghindari derasnya arus informasi. Namun, kita bisa menyikapinya dengan bijak. Tabayyun adalah panduan agar kita tidak mudah terjebak dalam kesalahan, serta mampu menjaga diri dan orang lain dari dampak buruk informasi yang tidak benar. Dengan membiasakan tabayyun, kita ikut menciptakan ruang digital yang lebih sehat, aman, dan bertanggung jawab.



    Penulis: Muhammad Fatkhun Niam

    Editor: Rara Zarary


    [1]  Indah Siti Saidah, Konsep Tabayyun dalam Menyikapi Berita Hoax di Media Sosial Perspektif Tafsir al-Azhar, Gunung Djati Conference Series, Vol. 19, 2023.

    [2] Al-Māwardī, Tafsīr al-Māwardī, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, juz 5, hal. 329

    [3] Muḥammad ibn al-Khaṭīb, Auḍaḥ al-Tafāsīr, juz 1, hal. 643

    [4] Muḥammad ibn ‘Abd al-Wahhāb, Tafsīr Āyāt min al-Qur’ān al-Karīm, hal. 352)

    Komentar
    Additional JS