7 Tradisi Masyarakat Aceh Menyambut 1 Muharram 1448 Hijriah -
7 Tradisi Masyarakat Aceh Menyambut 1 Muharram 1448 Hijriah
| Banda Aceh - Umat muslim di seluruh penjuru dunia akan menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah pada Selasa (16/6/2026) besok.
Bulan Muharram memiliki makna khusus bagi masyarakat Aceh. Selain menjadi penanda pergantian tahun baru Islam dalam kalender Hijriah, Muharram juga menjadi momentum untuk memperkuat nilai-nilai keislaman, memperkuat silaturahmi dan meningkatkan kepedulian sosial melalui berbagai tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Provinsi Aceh memiliki sejumlah tradisi dan kegiatan khas dalam menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram. Tradisi ini memadukan nilai keagamaan, budaya, dan kebersamaan masyarakat. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Kenduri Asyura (Kanji Asyura)
Kanji Asyura menjadi tradisi paling populer di Aceh pada bulan Muharram. Masyarakat memasak bubur atau kanji asyura secara gotong royong di meunasah, masjid, dan dayah pada 10 Muharram.
Kanji ini dibuat dari berbagai bahan seperti beras, santan, kacang-kacangan, umbi-umbian, rempah-rempah, dan daging. Setelah dimasak, makanan tersebut dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
2. Santunan Anak Yatim
Tanggal 10 Muharram yang dikenal sebagai Hari Asyura sering dimanfaatkan untuk memberikan santunan kepada anak yatim. Di banyak gampong, masyarakat, lembaga sosial, dan masjid mengadakan kegiatan berbagi kepada anak yatim sebagai bentuk kepedulian sosial.
3. Zikir dan Doa Akhir-Awal Tahun
Masjid-masjid di Aceh biasanya menggelar zikir, doa bersama, serta pengajian menjelang pergantian tahun Hijriah. Kegiatan ini menjadi sarana muhasabah (introspeksi diri) dan memohon keberkahan untuk tahun yang akan datang.
4. Pengajian dan Tausiah Muharram
Banyak dayah dan masjid menghadirkan ulama untuk menyampaikan ceramah tentang makna hijrah Nabi Muhammad SAW, pentingnya memperbaiki diri, serta meningkatkan kualitas ibadah.
5. Pawai Syiar Muharram
Setiap tahunnya, sejumlah daerah di Aceh menggelar Pawai Syiar Muharram yang melibatkan pelajar, santri, dan masyarakat umum. Peserta membawa atribut bernuansa Islami, menampilkan kreativitas dakwah, serta mengajak masyarakat menyemarakkan Tahun Baru Islam.
6. Kegiatan Dayah dan Meunasah
Banyak dayah memanfaatkan bulan Muharram untuk mengadakan zikir bersama, pembacaan sejarah hijrah Nabi, musabaqah, hingga perlombaan keagamaan bagi santri dan masyarakat sekitar.
7. Tradisi Gotong Royong
Di sejumlah gampong, masyarakat melakukan gotong royong membersihkan masjid, meunasah, dan lingkungan sebagai bentuk penyambutan tahun baru dengan semangat pembaruan dan kebersihan.
Makna Muharram Bagi Masyarakat Aceh
Bagi masyarakat Aceh, Muharram tidak hanya dipahami sebagai pergantian tahun dalam kalender Islam, tetapi juga momentum untuk muhasabah atau evaluasi diri, memperkuat ukhuwah Islamiyah, meningkatkan kepedulian sosial, meneladani semangat hijrah Nabi Muhammad Saw, serta menghidupkan syiar Islam di tengah masyarakat.
Di antara berbagai tradisi yang ada, Kanji Asyura tetap menjadi ikon peringatan Muharram yang paling kuat dan masih lestari di hampir seluruh wilayah Aceh hingga saat ini. (Akhyar)
Baca berita lainnya di Google News dan saluran WhatsApp.