0
News
    Home Berita Featured Kediri Pesantren Al Falah Ploso Spesial

    Mengenal Pesantren Al Falah Ploso Kediri, Lokasi Munas dan Konbes NU 2026 - NU Online

    5 min read

     

    Mengenal Pesantren Al Falah Ploso Kediri, Lokasi Munas dan Konbes NU 2026


    Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Mojo, Kediri, Jawa Timur. (Foto: dok Al-Falah) Suci Amaliyah Kontributor Download PDF

    Jakarta, NU Online

    Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Mojo, Kediri, Jawa Timur tengah melakukan berbagai persiapan untuk menyambut Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama Nahdlatul Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2026 yang akan digelar pada 20-22 Juni 2026.


    Sebagai tuan rumah, pesantren yang telah berusia satu abad itu berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi para peserta yang akan datang dari berbagai daerah.


    Dzuriyah Pesantren Al Falah Ploso, Ning Jazil Annahdliyah, mengatakan bahwa persiapan penyelenggaraan Munas-Konbes NU kali ini membutuhkan usaha yang lebih besar dibandingkan kegiatan-kegiatan sebelumnya.


    “Persiapannya pasti lebih effort dan repot dari biasanya, tetapi kami sangat antusias,” ujarnya kepada NU Online beberapa waktu lalu.


    Menurutnya, sejumlah fasilitas terus dibenahi, mulai dari penambahan kamar mandi, pemasangan pendingin ruangan (AC) di beberapa lokasi, penyediaan bus untuk transportasi peserta, hingga pembersihan dan pengecatan ulang kompleks pesantren.


    Selain itu, panitia juga menyiapkan berbagai lokasi yang akan digunakan sebagai ruang sidang komisi selama Munas dan Konbes berlangsung.


    “Sebagai tuan rumah, tentu kami ingin memberikan penghormatan yang terbaik. Mohon doanya agar semua persiapan berjalan lancar dan sesuai harapan,” imbuh istri Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, KH Muhammad Al Kautsar (Gus Kautsar).


    Pesantren Al Falah Ploso merupakan pesantren salaf yang didirikan oleh KH Ahmad Djazuli Utsman pada 1925. Meski telah berkembang pesat, pesantren ini tetap mempertahankan tradisi pembelajaran khas pesantren melalui sistem ta'lim wa ta'allum.


    Berdasarkan penuturan Pengasuh Pesantren Tabassam Al Falah Ploso, KH Muhammad Makmun atau Gus Makmun, KH Ahmad Djazuli Utsman berasal dari keluarga religius dan terdidik. Ia lahir di Kediri pada 16 Mei 1900.


    Ayahnya, Raden Mas Usman, merupakan pejabat pemerintahan kolonial yang menjabat sebagai onderdistrictshoofd atau kepala distrik, sedangkan ibunya, Mas Ajeng Muntaqinah, berasal dari keluarga mubaligh.


    Sebelum menekuni dunia pesantren, Djazuli sempat menempuh pendidikan di STOVIA, sekolah kedokteran pada masa Hindia Belanda. Namun, atas saran KH Muhammad Ma’ruf Kedunglo, ia kemudian memperdalam ilmu agama di sejumlah pesantren.


    Beberapa pesantren yang pernah menjadi tempat belajarnya antara lain Pesantren Gondanglegi dan Sekarputih di Nganjuk, Pondok Sono di Sidoarjo, serta pesantren yang diasuh KH Ali Imron di Mojosari, Nganjuk. Setelah menunaikan ibadah haji, ia juga berguru kepada sejumlah ulama di Tanah Suci sebelum melanjutkan belajar kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dimyathi di Pesantren Tremas, Pacitan.


    Pada pertengahan 1924, KH Djazuli mulai merintis pesantren di tanah kelahirannya. Awalnya, hanya terdapat sekitar 12 santri yang belajar di lembaga tersebut. Untuk memperluas kapasitas pendidikan, pada 1 Januari 1925 ia mengajukan permohonan resmi kepada pemerintah kolonial Belanda untuk mendirikan bangunan madrasah.


    Seiring waktu, pesantren terus berkembang. Pada 1928 dibangun asrama pertama bernama Pondok Darussalam. Setahun kemudian berdiri Pondok Cahaya yang digunakan sebagai tempat mujahadah para santri. Pada 1939, KH Djazuli kembali membangun Kompleks Andayani yang terdiri atas dua lantai dan dilengkapi mushala di bagian depan.


    Melahirkan Generasi Penerus

    KH Ahmad Djazuli Utsman menikah dengan Nyai Hj Rodliyah atau Nyai Roro Marsinah, putri KH Mahyin dari Durenan, Trenggalek. Dari pernikahan tersebut lahir enam putra-putri yang kemudian menjadi penerus perjuangan keluarga besar Al Falah.


    Mereka adalah KH Ahmad Zainuddin Djazuli, pendiri dan pengasuh Al Falah II; KH Nurul Huda Djazuli yang menjadi pengasuh utama; KH Hamim Thohari Djazuli atau Gus Miek, pendiri Dzikrul Ghofilin dan Jantiko Mantab; KH Fuad Mun’im Djazuli; KH Munif Djazuli, pendiri Pondok Pesantren Queen Al Falah; serta Nyai Hj Lailatul Badriyah Djazuli yang mengasuh Pondok Pesantren Al Badrul Falah.


    Santri Capai 13 Ribu Orang

    Dalam perkembangannya, Al Falah tidak hanya mempertahankan sistem pendidikan salaf, tetapi juga mengembangkan pendidikan formal melalui Madrasah Islamiyah Salafiyah Riyadlotul ‘Uqul (MISRIU).


    Lembaga ini menyelenggarakan pendidikan berjenjang mulai dari Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, hingga Ma’had Aly. Jenjang Aliyah dan Tsanawiyah telah memperoleh status Satuan Pendidikan Muadalah dari Kementerian Agama.


    Dalam tiga tahun terakhir, jumlah santri Al Falah mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Jika sebelumnya berkisar 7.000 santri, kini jumlahnya telah mencapai sekitar 13.000 santri dan santriwati.


    Pesantren ini juga memiliki Ma’had Aly yang telah mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah. Berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 2888 Tahun 2019, Ma’had Aly Al Falah menyelenggarakan pendidikan marhalah ula (setara S-1) dengan takhasus Fikih dan Ushul Fikih serta konsentrasi Fikih Lintas Mazhab.

    Komentar
    Additional JS