0
News
    Home Berita Featured Muhammadiyah MUI Nahdhatul Ulama Spesial

    Anwar Iskandar: NU Tetap NU, Muhammadiyah Tetap Muhammadiyah, MUI Akan Jadi Perekat - Tribunnews

    5 min read

     

    Tribunnews.com/Danang Triatmojo A-A+ KONGRES UMAT ISLAM - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar dalam acara KUII ke-VIII Tahun 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Jumat (24/7/2026). Ia menegaskan pentingnya memperkuat ukhuwah Islamiyah antara sesama Organisasi Kemasyarakan (Ormas) Islam. 
    Ringkasan Berita:
    • Ketua Umum MUI mengibaratkan hubungan sesama Ormas Islam seperti sapu lidi
    • MUI menilai persatuan menjadi syarat utama agar umat Islam memiliki kekuatan dalam memberikan kontribusi bagi bangsa
    • MUI menilai masih terdapat paradoks antara besarnya jumlah umat Islam dengan kondisi ekonomi yang belum mencerminkan kekuatan ekonomi

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar menegaskan pentingnya memperkuat ukhuwah Islamiyah antara sesama Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam. 

    Menurutnya, persatuan tidak berarti menghilangkan identitas masing-masing Ormas.

    "Yang NU biarlah menjadi NU, yang Muhammadiyah biarlah menjadi Muhammadiyah, yang Al Washliyah, yang Al Irsyad, Al-Wahdah, biarlah menjadi mereka. Tidak usah yang NU harus jadi Muhammadiyah atau yang sebaliknya, tidak bisa begitu," ujar Anwar saat menutup Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Hotel Bidakara, Jakarta, Minggu (26/7/2026).

    Anwar mengibaratkan hubungan sesama Ormas Islam seperti sapu lidi.

    MUI, kata Anwar, akan menjadi perekat antara berbagai Ormas Islam.

    Baca juga: MUI Usul Pembentukan Sub-holding Danantara Syariah, Ini Alasannya

    "Tapi bagaikan sapu lidi. Sapu lidi itu bisa bermanfaat ketika mereka berkumpul dalam satu ikatan. Ikatan itulah dan Majelis Ulama inilah yang akan menjadi pengikat dari ormas-ormas Islam di Indonesia ini," katanya.

    Anwar mengatakan semangat ukhuwah Islamiyah telah menjadi keputusan sejak Kongres Umat Islam pertama.

    "Di dalam kongres ini kita perlu sekali memberikan satu kesepakatan bahwa kita semuanya memahami pentingnya ukhuwah Islamiyah. Basic ukhuwah itu masih terus harus kita gaungkan," kata Anwar.

    Dirinya menilai persatuan menjadi syarat utama agar umat Islam memiliki kekuatan dalam memberikan kontribusi bagi bangsa. 

    Menurutnya, jika setiap organisasi lebih mengedepankan ego masing-masing, kekuatan umat akan melemah.

    Baca juga: MUI Ungkap Alasan Presiden Prabowo Tidak Hadiri Pembukaan Kongres Umat Islam

    "Kalau kita tidak bersatu, masing-masing menonjolkan egonya sendiri-sendiri, enggak bakal jadi quwwah, tapi menjadi du'afa wal masakin wal fuqara dan lain-lain sebagainya. Marilah kita gaungkan, tetap kita gunakan Majelis Ulama ini untuk menjadi perekat dari ormas-ormas yang beda-beda ini," ujarnya.

    Selain itu, Anwar menekankan pentingnya membangun kemandirian ekonomi umat. 

    Anwar menilai masih terdapat paradoks antara besarnya jumlah umat Islam dengan kondisi ekonomi yang belum mencerminkan kekuatan tersebut.

    "Memang besar umat ini, tapi masih menjadi objek, belum menjadi subjek," katanya.

    Ia juga mengajak seluruh ormas Islam memperkuat pendidikan serta meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi agar umat Islam mampu menghadapi tantangan masa depan.

    Anwar mengajak seluruh umat Islam untuk terus bergandengan tangan menyelesaikan berbagai tantangan yang dihadapi bangsa.

    "Marilah kita bergandeng tangan, marilah kita bersatu. InsyaAllah seberat apa pun tanggung jawab kita semuanya akan dapat kita selesaikan kalau kita bersatu," ujarnya.

    Dalam penutupan KUII VIII ini juga dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar dan perwakilan ormas Islam.

    Sekilas Tentang Kongres Umat Islam Indonesia

    Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII 2026 yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) berlangsung pada 24–26 Juli 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta.

    Forum tersebut mempertemukan ulama, tokoh organisasi kemasyarakatan Islam, akademisi, dan unsur pemerintah untuk membahas berbagai isu strategis keumatan, kebangsaan, serta rekomendasi bagi pemerintah.

    KUII VIII diikuti lebih dari 450 peserta yang berasal dari pimpinan dan anggota MUI Pusat.

    Sebanyak 87 ormas Islam tingkat pusat, serta unsur pemerintah, termasuk Komisi VIII DPR RI dan sejumlah kementerian. 

    Komentar
    Additional JS