Arah Baru NU di Era Gus Kikin: Konsolidasikan Kekuatan, Tentukan Kualitas Percakapan Nasional - Liputan6
JAKARTA, KOMPAS.com - Nahdlatul Ulama (NU) kini memiliki pemimpin baru.
Ia adalah KH Abdul Hakim Mahfudz, yang menggantikan ketua umum sebelumnya, Yahya Cholil Staquf.
Pria yang karib disapa Gus Kikin ini akan menjadi Ketua Umum PBNU untuk masa bakti 2026-2031.
Kehadiran pemimpin penerus sekaligus menjadi babak baru bagi organisasi yang telah melewati perjalanan panjang tersebut.
Hakim MK Saldi Isra Cecar Cara Pikir Ahli Presiden soal Pemotongan Dana Daerah demi Efisiensi
Baca juga: Gus Kikin Terpilih Jadi Ketum PBNU Periode 2026-2030, Gus Ipul: Selamat Mengemban Amanah
Lantas, di tengah usia organisasi yang semakin matang dan jaringan yang kian besar, apa lagi yang perlu dikerjakan NU di bawah kepemimpinan baru?
Kontekstualisasi qanun asasi
Cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU) Nadirsyah Hosen menilai, kepemimpinan baru dapat menjadi momentum mengontekstualisasikan qanun asasi untuk NU abad kedua.
Menurut dia, kehadiran Gus Kikin sesuai dengan momentum tersebut.
Baca juga: Muktamar NU dan Magnet Politik Ketua Umum PBNU
Sebab, sebelum Muktamar, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, itu pernah menegaskan bahwa qanun asasi harus menjadi rujukan utama kehidupan organisasi NU.
"Jadi, sekarang mungkin saatnya gagasan itu diuji dalam kepemimpinan beliau," kata pria yang karib disapa Gus Nadir tersebut, saat dihubungi Kompas.com, Senin (31/8/2026).
Gus Nadir lantas mengutip pernyataan pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari dalam muqaddimah qanun asasi.
Baca juga: Di Balik Perebutan Kursi Ketum PBNU, Seperti Apa Pemimpin yang Dibutuhkan NU?
Pendiri salah satu ormas keagamaan terbesar di Indonesia itu menekankan al-ijtima’, al-ta’awun, al-ittihad, dan al-ta’alluf, yang artinya berkumpul, saling membantu, bersatu, dan membangun keterikatan hati.
"Spirit dasarnya jelas: NU lahir karena orang-orang yang berbeda kekuatan dan perannya memilih bekerja bersama," ujar Gus Nadir.
Terjemahkan dalam konteks organisasi modern
Yang menjadi tantangan, kata dia, pemimpin baru NU perlu menerjemahkan empat kata itu ke dalam bahasa organisasi modern.
Baca juga: Momen Prabowo di Muktamar NU, Sungkem ke Kiai hingga Bikin Istilah "Jas Hijau"
Dalam konteks al-ijtima’, misalnya, dahulu berarti menghimpun para kiai dan jemaah dalam satu jam’iyyah.
Namun, hari ini, al-ijtima’ berarti kemampuan NU menghimpun seluruh talenta terbaiknya yang sudah tersebar ke mana-mana.
"Ada kader NU di pesantren, kampus, birokrasi, dunia usaha, teknologi, kesehatan, hukum, diplomasi, masyarakat sipil, sampai berbagai lembaga internasional. Mereka tidak semuanya berada di struktur PBNU. Tetapi, mereka tetap kekayaan NU," tutur Gus Nadir.
Baca juga: Ketum PBNU Gus Kikin Diminta Rangkul Semua Faksi yang Memanas karena Muktamar
Begitu pula dengan al-ta’awun. Dalam konteks hari ini, kata itu mestinya tidak lantas diterjemahkan pada semangat gotong royong.
Kata taa'awun harus diterjemahkan menjadi kolaborasi berbasis kompetensi.
"Orang tidak dilibatkan karena dekat dengan siapa, tetapi karena memang tahu apa yang harus dikerjakan," tutur dia.
Baca juga: Jelang Muktamar NU di Jombang, Said Abdullah Ingatkan soal Bahaya Hingar-bingar Politik
Kemudian, Al-ittihad jangan disalahpahami sebagai semua orang harus satu suara.
Gus Nadir menekankan, pesatuan bukan penyeragaman.
"Justru organisasi sebesar NU harus mampu tetap utuh di tengah perbedaan," ucap dia.
Lalu al-ta’alluf, perlu diartikan sebagai bentuk kemampuan menjaga hati dan hubungan antarwarga NU.
Ia menilai, hal ini sangat relevan setelah kontestasi muktamar.
Baca juga: Muktamar NU Diklaim Hidupkan Ekonomi Sekitar Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang
Jika setelah muktamar struktur organisasi justru dipakai untuk membalas perbedaan pilihan, itu justru bertentangan dengan ruh ta’alluf yang diletakkan para muassis.
"Jadi menurut saya, qanun asasi abad kedua bukan berarti mengulang bentuk organisasi tahun 1926. Justru yang harus dipertahankan adalah ruhnya, lalu bentuknya kita sesuaikan dengan zaman," ujar dia.
Kebesaran jadi kekuatan
Ia merumuskan kontekstualisasi qanun asasi itu secara sederhana.
Baca juga: Pantau Persiapan Muktamar Ke-35 NU, Gus Yahya Ingatkan Panitia Teladani Kiai Wahab Chasbullah
Jika dahulu qanun asasi menyatukan ulama untuk membangun jam’iyyah, qanun asasi abad kedua harus menyatukan seluruh kekuatan NU untuk membangun peradaban.
Sebab, NU sudah besar. Artinya, kata Gus Nadir, masalah yang dihadapi organisasi hari ini bukan lagi membuat organisasi menjadi besar.
"Problemnya sekarang adalah bagaimana kebesaran itu dikelola agar tidak berubah menjadi perebutan pengaruh, tetapi menjadi kekuatan bersama untuk kemaslahatan," tutur dia.
Baca juga: Gus Yahya Sebut NU Harus Perkuat Kerja Sama dan Jadi Penyangga Kehidupan Bangsa
Oleh karenanya, ia berharap, kekuatan bersama untuk kemaslahatan akan menjadi karakter kepemimpinan Gus Kikin.
"Bukan memperbesar pusat kekuasaan, tetapi memperluas ruang khidmah. Kalau itu berhasil, qanun asasi tidak hanya dibaca dalam pembukaan acara NU. Ia benar-benar hidup dalam cara NU mengelola dirinya," tegas dia.
Bekerja lebih fokus
Selain mengontekstualisasi qanun asasi, Gus Nadir berpandangan bahwa NU perlu membuat program yang lebih fokus, lebih terukur, dan lebih berbasis pengetahuan alih-alih menambah program baru.
Baca juga: Gus Yahya: Saya Berharap Muktamar NU Berikutnya Dibuka Presiden Prabowo Lagi
Jaringan yang ada sekarang, lanjut dia, bisa dimanfaatkan untuk itu.
Jaringan tersebut, ialah jaringan pesantren, sekolah, universitas, rumah sakit, badan usaha, kader profesional, jaringan politik, dan hubungan internasional.
"Bagaimana semua kekuatan itu dihubungkan dan diarahkan. NU jangan hanya besar secara jaringan, tetapi harus kuat secara kapasitas," ucap dia.
Baca juga: Gelar Halaqah Jelang Muktamar ke-35 NU, Forum Ulama Nahdliyin Soroti Fenomena "3L"
Tentukan kualitas percakapan nasional
Selain itu, ada tiga pekerjaan penting yang perlu dilakukan kepemimpinan baru.
Gus Nadir memerinci, pertama PBNU perlu mempunyai kemampuan policy thinking yang jauh lebih kuat.
Ormas keagamaan ini tidak cukup hanya bereaksi terhadap isu yang sedang ramai.
Baca juga: Nepal Butuh Rp 88 Triliun untuk Pulih dari Banjir Bandang, Buka Donasi dan Terima Bantuan Asing
Ia harus mampu menghasilkan gagasan dan rekomendasi serius tentang pendidikan, ekonomi umat, AI, perubahan iklim, kesehatan, ketahanan pangan, demokrasi, dan masa depan pesantren.
"Organisasi sebesar NU seharusnya tidak hanya ikut dalam percakapan nasional. Ia harus ikut menentukan kualitas percakapan nasional," usul Gus Nadir.
Kedua, perlu ada perbaikan besar dalam tata kelola data dan pengetahuan, salah satunya lewat pendataan warga, ribuan pesantren, dan jaringan ekonomi untuk memahami kebutuhan masing-masing sektor.
Baca juga: Prabowo Terima Kartu Anggota NU Seumur Hidup: Makanya Saya Datang Muktamar
Data ini diperlukan untuk pengambilan keputusan secara lebih relevan.
Tanpa data, organisasi mudah bergerak berdasarkan kesan, kedekatan, atau kepentingan sesaat.
"NU abad kedua harus belajar mengambil keputusan bukan hanya berdasarkan siapa yang paling keras bersuara, tetapi juga berdasarkan apa yang benar-benar terjadi di lapangan," beber dia.
Baca juga: Ditemani John LBF, Ruben Onsu Berdamai dengan Pelapor Kasus Rp 3,5 M
Terakhir ia berharap Gus Kikin berani menentukan beberapa prioritas untuk dikerjakan serius selama lima tahun.
Misalnya, jika pendidikan menjadi prioritas, tetapkan ukuran keberhasilannya.
Sementara, jika ekonomi pesantren menjadi prioritas, tentukan target yang bisa diuji.
Baca juga: Prabowo Klaim Sudah Angkat Jutaan Rakyat dari Kemiskinan dalam 2 Tahun
"Kalau kaderisasi menjadi prioritas, jangan berhenti pada pelatihan, tetapi lihat apakah NU benar-benar menghasilkan generasi baru yang siap memimpin di berbagai sektor," ujar dia.
Targetkan kepengurusan selesai 1 bulan
Sebelumnya, Gus Kikin sudah menyampaikan sejumlah target di era kepemimpinan baru.
Target pertama ialah menyelesaikan penyusunan kepengurusan PBNU dalam satu bulan.
Setelah pengurusan baru terbentuk, ia akan lebih fokus menentukan program-programnya saat memimpin PBNU.
"Satu bulan itu kita ngisi dulu organisasi ini, tanpa itu kita bagaimana mau kerja," ujar Gus Kikin usai resmi dipilih oleh Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) sebagai Ketum PBNU dalam Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8/2026).
Baca juga: Gus Ipul: NU Punya Cara Sendiri Menyelesaikan Beda Pendapat di Muktamar
Di kesempatan yang sama, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng itu berpesan kepada warga NU untuk bersatu.
Dia juga menegaskan bahwa NU bukanlah tempat untuk berpolitik.
"NU itu adalah jam'iyyah, diniyah ijtima'iyyah. Jadi ini satu organisasi keagamaan, organisasi kemasyarakatan, dan bukan untuk berpolitik," ujar dia.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT