Belajar Tidak Harus Berhenti Meski Sudah Berkeluarga - Mina News
Oleh Septia Eka Putri, Pegiat sosial, ibu rumah tangga
ADA masa ketika seorang perempuan merasa harus memilih antara keluarga dan dirinya sendiri. Setelah menikah, memiliki anak, dan menjalani berbagai tanggung jawab rumah tangga, pendidikan dan cita-cita terkadang harus diletakkan di urutan paling belakang. Bukan karena tidak ingin belajar atau kehilangan mimpi, melainkan karena keluarga membutuhkan perhatian yang lebih besar.
Kemudian muncul kalimat yang sering kita ucapkan kepada diri sendiri: “Nanti saja.” Nanti ketika anak-anak sudah besar, ketika keadaan lebih memungkinkan, atau ketika ada waktu. Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu kapan waktu yang ditunggu itu akan datang.
Dalam Islam, ilmu memiliki kedudukan yang mulia. Allah SWT berfirman, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11). Ilmu bukan sekadar tentang gelar, pekerjaan, atau pencapaian duniawi. Ilmu dapat menjadi jalan untuk meningkatkan kualitas diri dan membantu seseorang menjalankan amanah dengan lebih baik. Karena itu, menjadi seorang ibu tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti belajar. Justru, menjadi ibu bisa menjadi alasan untuk terus bertumbuh.
Baca Juga: Mitos Bantuan untuk Wanita Bercerai pada Era Genosida Israel di Gaza
Belajar untuk Terus Bertumbuh
Anak-anak tidak hanya membutuhkan makanan, pakaian dan tempat tinggal. Mereka juga membutuhkan orang tua yang mau terus belajar dan berkembang. Dunia berubah dengan cepat, demikian pula cara anak-anak belajar, berkomunikasi dan menghadapi tantangan.
Seorang ibu tidak harus mengetahui semuanya. Namun, ia dapat menunjukkan bahwa belajar merupakan proses sepanjang kehidupan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).
Karena itu, membaca buku, mengikuti kajian, belajar bahasa, mengikuti kelas maupun menempuh pendidikan formal dapat menjadi bagian dari ikhtiar mencari ilmu apabila diniatkan untuk kebaikan. Ketika anak melihat ibunya membaca, belajar atau mencoba sesuatu yang baru, ia sedang menyaksikan contoh nyata bahwa belajar tidak mengenal batas usia. Anak bukan hanya belajar dari perkataan orang tua, tetapi juga dari apa yang mereka lakukan.
Pendidikan Tidak Harus Berarti Meninggalkan Keluarga
Ada anggapan bahwa perempuan yang kembali mengejar pendidikan atau cita-cita berarti mengurangi perhatian kepada keluarga. Padahal, keluarga dan pendidikan tidak selalu harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan berdampingan melalui komunikasi, pengaturan waktu dan dukungan orang-orang terdekat.
Baca Juga: Benarkah Ibu Hamil Baca Surah Yusuf Bayinya Jadi Tampan?
Memang tidak selalu mudah. Ada pekerjaan rumah, anak-anak, pasangan, pekerjaan dan berbagai tanggung jawab lain yang harus diperhatikan. Karena itu, yang dibutuhkan bukan selalu pilihan antara keluarga atau pendidikan, tetapi kemampuan mencari keseimbangan sesuai kondisi masing-masing.
Ada ibu yang dapat kuliah penuh waktu, ada yang memilih kelas daring, belajar setelah anak tidur, atau menempuh pendidikan secara perlahan. Semua pilihan itu tidak masalah. Tidak semua perjalanan harus memiliki kecepatan yang sama. Yang terpenting adalah langkah tersebut tetap berjalan.
Tidak Semua Perjalanan Harus Lurus
Perjalanan pendidikan setiap orang berbeda. Ada yang menyelesaikan kuliah tepat waktu, ada yang harus berhenti karena keadaan ekonomi, bekerja terlebih dahulu, menikah dan memiliki anak, atau pernah berhenti kemudian ingin melanjutkannya kembali.
Allah SWT berfirman, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286).
Baca Juga: Hari ASI Sedunia 2026: Fakta Penting yang Perlu Diketahui Setiap Orang Tua
Perjalanan yang berbeda bukan berarti lebih buruk. Ada orang yang memperoleh kesempatan belajar sejak muda, sementara yang lain baru mendapatkannya setelah menikah dan menjadi ibu. Pendidikan bukan perlombaan tentang siapa yang paling cepat sampai. Terkadang yang lebih penting adalah keberanian untuk tetap berjalan meskipun pernah berhenti.
Memulai Kembali Bukan Berarti Gagal
Banyak orang melihat masa lalu dengan penyesalan: “Seandainya dulu saya melanjutkan kuliah.” Namun, terlalu lama tinggal dalam kata seandainya tidak akan mengubah masa lalu. Yang masih dapat dilakukan adalah memulai dari hari ini.
Memulai kembali memang membutuhkan keberanian, terutama ketika usia tidak lagi muda, telah memiliki keluarga dan tanggung jawab semakin banyak. Pertanyaan seperti “Mengapa baru sekarang?”, “Tidak terlalu tua untuk kuliah?”, atau “Sanggupkah membagi waktu?” terkadang membuat seseorang meragukan dirinya sendiri.
Padahal, memulai lebih lambat bukan berarti gagal. Ketika kembali belajar pada usia yang lebih dewasa, seseorang tidak benar-benar memulai dari nol. Ia membawa pengalaman hidup, kegagalan, keberhasilan, serta pemahaman tentang keluarga dan tanggung jawab. Semua itu dapat membuat proses belajar menjadi lebih bermakna.
Baca Juga: Hentikan Kebiasaan Ini Agar Perkembangan Sensorik Anak Berkembang Lebih Optimal!
Ilmu sebagai Bekal Mendidik Anak
Salah satu alasan seorang ibu terus belajar adalah anak-anaknya. Semakin luas wawasan seorang ibu, semakin banyak hal yang dapat dibagikan kepada anak.
Namun, seorang ibu tidak harus menjadi manusia yang mengetahui segala sesuatu. Justru anak perlu melihat bahwa ibunya juga masih belajar. Ketika tidak tahu, ia mencari tahu. Ketika belum memahami, ia membaca. Ketika membutuhkan jawaban, ia bertanya. Ketika melakukan kesalahan, ia berusaha memperbaikinya.
Kalimat sederhana, “Ibu juga sedang belajar,” dapat menjadi pelajaran besar bagi anak. Mereka akan memahami bahwa menjadi dewasa bukan berarti berhenti belajar, tidak mengetahui sesuatu bukanlah hal yang memalukan, dan selalu ada kesempatan untuk menjadi lebih baik.
Mimpi Tetap Bisa Berjalan Bersama Keluarga
Memiliki keluarga bukan berarti harus berhenti bermimpi. Mimpi mungkin berubah bentuk. Jika dahulu mimpi berupa gelar, pekerjaan atau pencapaian tertentu, setelah menjadi ibu, mimpi tersebut dapat memiliki makna yang lebih luas: menjadi perempuan berilmu, ibu yang lebih baik, pribadi yang bermanfaat, dan teladan bagi anak.
Baca Juga: Sebotol Parfum untuk Al-Aqsa
Alangkah indah apabila keluarga dapat tumbuh bersama. Seorang ibu belajar, ayah bekerja dan berkembang, sementara anak-anak menyaksikan kedua orang tuanya berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.
Pendidikan yang ditempuh seorang ibu juga bukan semata-mata untuk dirinya. Ilmu dan pengalaman dapat menjadi bekal bagi keluarga untuk mengenal dunia lebih luas, mengambil pelajaran dan semakin mensyukuri ciptaan Allah SWT.
Yang Terpenting Adalah Niat
Menempuh pendidikan kembali bukan sesuatu yang mudah. Akan ada rasa lelah, ragu bahkan keinginan untuk menyerah. Karena itu, sebelum bertanya seberapa jauh harus berjalan, penting untuk bertanya kepada diri sendiri: “Dengan niat apa saya belajar?”
Belajar untuk memperbaiki diri, menjadi ibu yang lebih baik, memberikan manfaat, dan agar ilmu tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi mengalir kepada keluarga serta orang lain.
Baca Juga: Siapa Bilang IRT Enggak Bisa Punya Penghasilan Sendiri? Ini Rahasia Financial Freedom dari Rumah!
Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Jika niat belajar adalah mencari ilmu, memperbaiki diri, mendidik keluarga dan memberikan manfaat, semoga setiap langkah menjadi bagian dari kebaikan. Karena itu, tidak perlu terlalu sibuk memikirkan apakah diri ini sudah terlambat.
Setiap orang memiliki perjalanan berbeda. Ada yang memulai lebih awal, ada yang memulai setelah menikah, setelah memiliki anak, dan ada pula yang memulai kembali setelah bertahun-tahun berhenti. Semua memiliki waktunya masing-masing. Jika Allah masih memberikan kesempatan, mungkin itulah jalan yang sedang dibukakan.
Maka, bismillah. Tidak harus menunggu semuanya sempurna untuk memulai. Mulailah dengan apa yang ada, sesuaikan dengan kemampuan, mintalah dukungan keluarga, berikhtiar sebaik mungkin, lalu bertawakal kepada Allah.
Baca Juga: Artis Berhijab, Hijrah yang Menggugah
Sebab, langkah kecil seorang ibu untuk kembali belajar hari ini mungkin bukan hanya mengubah dirinya, tetapi juga menjadi inspirasi bagi anak-anaknya untuk berani belajar, bermimpi dan melangkah lebih jauh.
Belajar tidak harus berhenti setelah menjadi ibu. Selama Allah masih memberikan umur dan kesempatan, selalu ada ruang untuk bertumbuh, memperbaiki diri dan menjadi lebih bermanfaat.
Saya tidak terlambat. Saya hanya memulai di waktu yang berbeda. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Hal-Hal Menakjubkan Seputar Menyusui yang Wajib Ayah dan Bunda Ketahui