0
News
    Home Al-Qur'an Berita Featured KH Wahab Hasbullah Muktamar NU Spesial Tekno

    Muktamar ke-35 NU di Tambakberas Tampil Beda, Ada 3.000 Mushaf hingga Atraksi Drone KH Wahab Hasbullah - Times Indonesia

    4 min read

     

    A-AA+

    JOMBANG – Muktamar ke-35 NU (Nahdlatul Ulama) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, tak sekadar menjadi forum lima tahunan untuk menentukan arah perjalanan organisasi. Gelaran kali ini juga dikemas dengan sejumlah konsep dan tradisi baru yang membuatnya tampil berbeda.

    Gus A’am Wahib Wahab menyebut Muktamar ke-35 memiliki sejumlah keistimewaan, mulai dari lokasi penyelenggaraan yang sarat sejarah, hadirnya maskot dan lounge, pembagian ribuan mushaf Al-Qur’an, hingga atraksi drone yang akan menampilkan nama KH Wahab Hasbullah.

    “Ini Muktamar yang istimewa, luar biasa dan tampil beda dibandingkan Muktamar sebelumnya,” ujar Gus A’am, Kamis (27/8/2026).

    Menurut Gus A’am, salah satu keistimewaan Muktamar kali ini terletak pada lokasi penyelenggaraannya.

    Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas memiliki hubungan erat dengan KH Wahab Hasbullah, salah satu tokoh penting dalam sejarah lahir dan berkembangnya NU.

    Karena itu, pelaksanaan Muktamar di Tambakberas dinilai memiliki makna tersendiri. Para muktamirin tidak hanya mengikuti forum organisasi, tetapi juga berada di lingkungan pesantren yang menyimpan jejak perjuangan para pendiri NU.

    “Tempat ini memiliki hubungan erat dengan KH Wahab Hasbullah, inisiator, pendiri dan penggerak NU,” katanya.

    Bagi Gus A’am, suasana tersebut membuat Muktamar ke-35 sekaligus menjadi momentum untuk kembali mengingat akar sejarah NU yang tumbuh kuat dari tradisi pesantren.

    Tak hanya mengusung nilai sejarah, panitia juga menghadirkan sejumlah inovasi dalam penyelenggaraan Muktamar.

    Di antaranya adalah penggunaan maskot serta penyediaan lounge bagi peserta dan tamu undangan.

    Menurut Gus A’am, konsep tersebut memberikan warna baru dalam pelaksanaan Muktamar. Forum yang selama ini identik dengan persidangan dan pembahasan organisasi, kali ini juga dikemas dengan memperhatikan kenyamanan serta pengalaman para muktamirin.

    Hal unik lainnya adalah isi tas suvenir yang diberikan kepada para muktamirin. Panitia menyiapkan sekitar 3.000 mushaf Al-Qur’an untuk dibagikan kepada peserta. Mushaf tersebut menjadi bagian dari goody bag Muktamar ke-35.

    Gus A’am menyebut pembagian mushaf ini menjadi tradisi baru dalam sejarah Muktamar NU.

    “Sejak Muktamar pertama sampai ke-34 belum pernah terjadi pembagian Al-Qur’an. Di Muktamar ke-35 inilah seluruh muktamirin akan mendapatkan goody bag yang di dalamnya terdapat mushaf Al-Qur’an,” ungkapnya.

    Menurut dia, pemberian mushaf tersebut memiliki pesan tersendiri. Muktamar tidak hanya menjadi ruang membahas persoalan organisasi dan kepemimpinan, tetapi juga tetap menegaskan nilai keagamaan yang menjadi fondasi NU.

    Kemasan Muktamar juga akan semakin semarak dengan atraksi drone.

    Pada Jumat malam, 28 Agustus 2026, ratusan drone dijadwalkan diterbangkan dan membentuk formasi nama KH Wahab Hasbullah di langit Tambakberas.

    Atraksi tersebut bukan sekadar hiburan visual. Nama KH Wahab Hasbullah sengaja dihadirkan sebagai simbol penghormatan terhadap tokoh yang memiliki peran besar dalam sejarah NU.

    Momen itu sekaligus menjadi cara panitia mempertemukan teknologi modern dengan penghormatan terhadap sejarah dan jasa para pendiri NU.

    Muktamar ke-35 NU juga mendapat perhatian besar dari pemerintah. Presiden RI Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dijadwalkan hadir dalam rangkaian pembukaan Muktamar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kamis (27/8/2026).

    Sejumlah kiai sepuh, jajaran PBNU, PWNU, PCNU, PCINU, serta pejabat pemerintahan dari berbagai daerah juga dijadwalkan hadir.

    Bagi Gus A’am, berbagai unsur tersebut menjadikan Muktamar ke-35 bukan sekadar agenda rutin organisasi.

    Muktamar di Tambakberas dinilai menjadi pertemuan antara sejarah, tradisi pesantren, nilai keagamaan, dan inovasi teknologi.

    Dari pesantren yang memiliki jejak perjuangan KH Wahab Hasbullah, NU mencoba menampilkan wajah baru tanpa meninggalkan akar tradisinya.

    Muktamar ke-35 NU pun menjadi panggung untuk mengenang sejarah, merawat tradisi, sekaligus menyambut masa depan. (*)

    Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
    Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
    Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

    Komentar
    Additional JS