0
News
    Home Berita Featured Muktamar NU Spesial Tekno

    Muktamar Ke-35 NU Serba Digital, Peserta tak Perlu Cari Petugas untuk Minta Bantuan - Inilah

    6 min read

     

    Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com + Gabung

    KecilBesar

    Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, tidak hanya menjadi forum penentuan arah organisasi dan kepemimpinan NU untuk masa khidmah 2026–2031. Panitia juga menerapkan sistem digital untuk memperkuat keamanan dan pelayanan ribuan peserta.

    Teknologi digunakan dalam berbagai aspek penyelenggaraan muktamar, mulai dari pengawasan kawasan, registrasi peserta, akomodasi, konsumsi hingga penanganan laporan di lapangan.

    Ketua Panitia Pusat atau Organizing Committee (OC) Muktamar Ke-35 NU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, mengatakan panitia memasang lebih dari 100 kamera pengawas atau CCTV di berbagai titik kawasan muktamar.

    “Di arena utama, iya. Mulai di tempat cuci tangan, kemudian di tower-tower, di tempat akomodasi, di tempat konsumsi, maupun di jalan-jalan,” ujar Gus Ipul saat meninjau lokasi Muktamar Ke-35 NU di Pesantren Tambakberas, Selasa (25/8/2026).

    Lebih dari 100 CCTV Terhubung ke Command Center

    Ratusan CCTV tersebut tidak hanya berfungsi sebagai kamera pengawas yang bekerja secara terpisah. Seluruh perangkat diintegrasikan ke dalam satu sistem pemantauan melalui command center.

    Dari pusat kendali tersebut, panitia dapat memantau kondisi di berbagai titik sekaligus menerima laporan yang membutuhkan penanganan.

    “Ada lebih dari 100 kamera yang terhubung satu dengan yang lain, dan ini telah dibuat satu sistem, ya, laporan, kemudian tindak lanjutnya, siapa petugasnya, dan lain sebagainya,” kata Gus Ipul.

    Sistem tersebut dirancang agar setiap persoalan yang muncul di lapangan tidak berhenti sebagai laporan. Informasi yang masuk akan tercatat dan diteruskan kepada petugas yang bertanggung jawab untuk segera ditindaklanjuti.

    “Jadi kalau ada masalah, itu dilaporkan, kemudian sistem akan mencatat dan nanti siapa yang bertugas untuk menindaklanjuti juga sudah diketahui. Jadi tidak berhenti di laporan saja,” ujarnya.

    Dengan pola tersebut, panitia dapat mempercepat respons terhadap persoalan yang muncul di tengah penyelenggaraan muktamar. Sistem pemantauan juga mencakup sejumlah lokasi di luar arena persidangan karena aktivitas peserta tersebar di berbagai kawasan.

    ID Card Peserta Dilengkapi Teknologi

    Digitalisasi juga diterapkan dalam sistem identitas peserta. Panitia menggunakan ID card berbasis cip untuk memperkuat verifikasi dan mencegah terjadinya duplikasi identitas peserta.

    Data peserta telah diverifikasi sebelum mereka tiba di Jombang. Dengan demikian, panitia dapat memastikan siapa saja yang secara resmi terdaftar dan berhak mengikuti Muktamar Ke-35 NU.

    “Bahkan kita sudah melibatkan teknologi. Jadi nggak ada yang bisa ngibul, nggak ada yang bisa main-main, gitu loh. Jadi setiap pendaftaran, kegiatan, sudah terekam semua,” tegas Gus Ipul.

    Menurut dia, data peserta bahkan telah diketahui panitia sebelum keberangkatan menuju lokasi muktamar.

    “Sebelum peserta berangkat kita juga sudah tahu nama-nama peserta yang sudah ditetapkan secara resmi,” ungkapnya.

    Sistem tersebut menjadi bagian dari pengamanan sekaligus pengelolaan data peserta selama muktamar berlangsung.

    Peserta Bisa Lapor Lewat WhatsApp Berbasis AI

    Panitia juga menyiapkan layanan berbasis artificial intelligence (AI) yang terintegrasi dengan aplikasi WhatsApp untuk membantu peserta memperoleh informasi dan menyampaikan laporan.

    Melalui layanan tersebut, peserta tidak harus mencari petugas secara langsung ketika membutuhkan bantuan. Peserta dapat mengirimkan pesan atau foto melalui WhatsApp untuk memperoleh informasi tertentu, termasuk lokasi kamar penginapan.

    “Jadi peserta cukup mengirimkan foto atau pesan melalui WhatsApp, nanti bisa dibantu untuk mengetahui lokasi kamar. Kalau ada barang hilang atau kondisi darurat medis juga bisa dilaporkan melalui sistem tersebut,” kata Gus Ipul.

    Muhammad Ibnu Al-Farabi atau akrab disapa Cak Obi. (Foto: Muktamar NU).

    Layanan tersebut juga dirancang untuk menangani laporan kehilangan barang dan kondisi darurat medis. Informasi yang masuk akan diteruskan ke command center untuk menentukan petugas yang harus melakukan penanganan.

    Dengan demikian, peserta memiliki kanal pelayanan yang dapat diakses tanpa harus mencari posko atau petugas secara langsung.

    Teknologi Dipakai untuk Percepat Respons

    Penerapan teknologi menjadi bagian dari upaya panitia membangun sistem penyelenggaraan Muktamar Ke-35 NU yang terintegrasi.

    Ribuan peserta dari berbagai daerah akan tersebar di sejumlah lokasi, mulai dari arena persidangan, tempat penginapan, lokasi konsumsi, tempat ibadah hingga akses jalan di sekitar Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.

    Kondisi tersebut membuat sistem pemantauan dan respons cepat menjadi kebutuhan penting. Melalui command center, panitia dapat memperoleh informasi mengenai situasi di berbagai titik sekaligus meneruskan laporan kepada petugas terkait.

    Selain keamanan, digitalisasi juga diarahkan untuk memperbaiki kualitas pelayanan peserta. Data registrasi, aktivitas, serta laporan yang masuk dapat tercatat dalam sistem sehingga mengurangi ketergantungan pada proses manual.

    Gus Ipul berharap teknologi yang diterapkan benar-benar memberikan dampak terhadap kelancaran penyelenggaraan muktamar.

    “Saya kira ini hal yang baru yang patut kita syukuri, dan mudah-mudahan dengan adanya Command Center yang seperti ini memudahkan layanan, cepat mengatasi masalah, dan sekaligus segera bisa memberikan jalan keluar,” ujarnya.

    Muktamar Ke-35 NU dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, mulai Kamis (27/8/2026). Selain menjadi forum penentuan kepemimpinan dan arah organisasi NU untuk periode 2026–2031, muktamar ini menjadi momentum pertama bagi NU menggelar forum tertingginya pada abad kedua.

    Komentar
    Additional JS