Wakil Rais NU Sumenep: Air dan Uang yang Dibaca saat Maulid Datangkan Keberkahan - NU Online
Sumenep, NU Online Jatim
Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, KH. M. Zainur Rahman Hammam menyampaikan bahwa air dan uang yang dibacakan Maulid Diba’i, Barzanji, Simthud Durar, dan maulid lainnya, diyakini dapat mendatangkan keberkahan bagi pemiliknya.
Hal itu disampaikan saat memberikan hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al-Barokah, Desa Pragaan Laok, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Selasa (25/08/2026).
Menurutnya, secara sunnah, air minum dama wadah semisal cangkir itu sebaiknya ditutup. Membiarkan air minum itu dalam keadaan terbuka berarti menyalahi sunnah. Namun, terdapat pengecualian apabila air tersebut sedang dibacakan kalimat-kalimat thayyibah, terlebih lagi shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
“Barangkali Nahdliyin bertanya, mengapa pada momen Maulid Nabi Muhammad SAW jamaah membuka tutup air minumnya saat pembacaan Maulid?” ujarnya.
Kiai Zainur kemudian mengutip pendapat Imam Fakhruddin ar-Razi bahwa air yang dibacakan Maulid, kemudian diminum, dapat menjadi wasilah datangnya keberkahan. Ia menyebut, orang yang meminumnya akan dipenuhi 1000 cahaya dan kasih sayang, sehingga terhindar dari berbagai penyakit hati. Di antara penyakit hati yang disorot adalah sombong, riya, tamak, dan iri hati.
“Iri adalah salah satu induk penyakit hati. Seperti apa orang yang iri? Ketika melihat orang lain bahagia, ia tidak menyukainya. Sebaliknya, ketika orang lain sedang ditimpa kesusahan, ia justru merasa senang. Begitulah ciri orang yang iri,” tutur Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muqri Karang Kapoh, Prenduan, tersebut.
Kiai Zainur menjelaskan bahwa Imam al-Ghazali membagi iri hati menjadi tiga tingkatan. Pertama, ketika seseorang melihat orang lain mendapatkan nikmat dari Allah SWT, ia menginginkan nikmat tersebut hilang dan berpindah kepada dirinya. Menurutnya, bentuk iri seperti ini merupakan dengki yang paling kejam.
Kedua, seseorang menginginkan nikmat yang diberikan Allah kepada orang lain hilang, meskipun nikmat tersebut tidak berpindah kepada dirinya. Dan ketiga, seseorang tidak menginginkan nikmat orang lain hilang, tetapi ia merasa tidak menerima ketika dirinya diungguli oleh orang lain. Menurut beliau, bentuk iri yang ketiga ini justru paling berbahaya karena sifatnya samar dan sering tidak disadari.
“Iri itu akan menghabiskan amal baik kita, sebagaimana api melahap kayu bakar,” tuturnya, mengutip sabda Nabi Muhammad SAW.
Iri itu seperti tumbuhan parasit, lanjutnya, ia tumbuh gemuk dengan mengisap kehidupan pohon yang ditumpanginya, sementara pohonnya perlahan kurus dan kehilangan kekuatannya. Karena itu, Kiai Zainur mengimbau masyarakat agar tidak memelihara penyakit iri dalam hati, salah satu contohnya tidak gemar mencari-cari kesalahan orang lain.
Selain air, Kiai Zainur juga menjelaskan mengenai uang yang dibacakan Maulid. Ia menyampaikan bahwa, sebagaimana pendapat yang dinisbatkan kepada Imam Fakhruddin ar-Razi, membaca kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW pada uang, diyakini dapat menjadi wasilah keberkahan.
“Uang tersebut dapat disatukan dengan uang lainnya, tetapi tidak untuk digunakan berbelanja. Cukup disimpan sebagai 'azimat' atau wasilah keberkahan. Barang siapa yang melakukannya, insyaallah Allah akan dicukupi kebutuhannya dan dimudahkan rezekinya. Selain itu, dengan adanya uang tersebut, kita diingatkan untuk tidak menggunakannya dalam kemaksiatan, melainkan semakin mendekatkan diri kepada-Nya,” jelasnya.