Kakak-Adik Tunanetra Ini Tumbuh Bersama Al-Qur’an ke Panggung MTQ Nasional 2026 - Kemenag,

Al-Qur’an hadir dalam perjalanan hidup Alhamuddin dan Nindi Solihah sejak mereka masih kecil. Kakak-adik asal Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), ini sama-sama tumbuh dengan kecintaan terhadap Al-Qur’an hingga akhirnya tampil di panggung Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional ke-31 Tahun 2026 di Kota Semarang.
Alhamuddin, peserta cabang Tilawah Golongan Disabilitas Netra Putra, mengenal Al-Qur’an sejak berusia empat tahun. Saat itu, ia kerap mendengarkan lantunan ayat Al-Qur’an yang diputar di rumah setiap waktu salat.
“Dengar-dengar, kan di rumah itu kalau Zuhur, Asar, tiap waktu, diputar kaset-kaset ngaji dan sebagainya itu. Saya dengerin, dengerin, hafalin,” tutur Alhamuddin di Semarang, Kamis (17/9/2026).
Kebiasaan mendengarkan lantunan Al-Qur’an kemudian mendorong orang tuanya untuk melihat kemampuan Alhamuddin dalam membaca Al-Qur’an. Ia pun mulai belajar dari orang terdekat di lingkungan rumah.
“Yang pertama ngajarin itu ada sih. Bahasa saya di rumah itu Paman lah. Paman saya yang pertama ngajarin baca Al-Qur’an,” katanya.
Nur Syahfatin, Peserta MTQ Nasional 13 Tahun, Susuri Laut untuk Berguru Al-Qur’an
Perjalanan Alhamuddin dalam dunia MTQ dimulai sejak 2006, ketika usianya sekitar 11 tahun. Sejak saat itu, ia terus mengikuti berbagai ajang hingga akhirnya beberapa kali tampil di tingkat nasional. Ia pernah menjadi juara dua nasional di Maluku dan sebelumnya juga meraih juara satu di Aceh.
Ia pun memiliki harapan untuk terus membawa nama NTB lebih jauh melalui seni membaca Al-Qur’an.
“Kalau bisa ya, lebih dari internasional,” katanya saat ditanya tentang cita-citanya.
Ia memaknai Al-Qur’an sebagai panduan dalam menjalani kehidupan. Seperti seseorang yang membutuhkan petunjuk ketika hendak menuju suatu tempat, Al-Qur’an menjadi pedoman bagi manusia dalam menjalani kehidupan.
“Kalau Al-Qur’an itu ya ibarat buku panduan. Kita mau ke sini, kita baca panduan dulu. Kita mau ke sana, kita baca panduan. Panduan hidup lah,” katanya.
Mengikuti Jejak Sang Kakak

Kecintaan terhadap Al-Qur’an juga tumbuh dalam diri sang adik, Nindi Solihah. Berusia 15 tahun, Nindi merupakan anak bungsu dari enam bersaudara. Ia kini bersekolah di SLB Negeri 2 Lombok Tengah.
Nindi mulai belajar Al-Qur’an sejak berusia enam tahun. Ia mendapatkan bimbingan dari kakaknya yang menurutnya memiliki cara mengajar yang lembut dan sabar.
“Beliau itu ngajarinya lembut, terus sopan. Terus, kalau belum bisa, ya diulang-ulang. Sabar beliau,” ujar Nindi.
Dalam proses belajar, Nindi tidak hanya mengandalkan hafalan. Ia juga belajar membaca Al-Qur’an menggunakan huruf Braille.
“Pertamanya menghafal, menghafal terus. Menghafal surah-surah pendek sampai maqra'-maqra' buat MTQ. Yang kedua, belajar membaca Al-Qur’an Braille,” katanya.
Fia dan Ofa, Dua Bersaudara Peserta MTQ Nasional Tafsir Inggris dan Indonesia
Belajar Al-Qur’an Braille bukan perkara mudah bagi Nindi. Namun, kesabaran sang guru membuatnya terus berlatih. Setiap kali belum mampu membaca suatu ayat, ia diminta mengulanginya hingga benar sebelum melanjutkan ke ayat berikutnya.
“Susah. Tapi karena kakak mengajarnya itu, kalau Nindi belum bisa, ‘Ayo diulang-ulang,’ gitu. ‘Ayo diulang-ulang sampai bisa. Kalau belum bisa, nggak usah lanjut ke ayat lain,’” tuturnya.
Setelah melalui proses belajar dan latihan, Nindi akhirnya tampil di panggung MTQ Nasional. Ia mengaku senang bisa berada di ajang tingkat nasional dan membawa nama NTB.
“Alhamdulillah, senang,” katanya.
Nindi sebelumnya juga pernah tampil di tingkat nasional dan meraih peringkat 13 di Kalimantan Timur. Pada MTQ Nasional ke-31 di Semarang, ia kembali mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya.
Di luar itu, Nindi memiliki cita-cita yang ingin diwujudkannya. Ia ingin kelak menjadi guru tilawah agar dapat mengajarkan kemampuan yang dimilikinya kepada orang lain.
“Insya Allah saya ingin menjadi guru tilawah,” katanya.
Seni yang Terus Diasah

Pelatih kafilah NTB, Riyadi, mengatakan Alhamuddin dan Nindi merupakan kakak-adik yang sama-sama membawa nama NTB dalam cabang Tilawah Golongan Disabilitas Netra.
Menurutnya, kemampuan Alhamuddin dalam seni baca Al-Qur’an telah tumbuh sejak usia dini. Proses panjang berupa latihan dan pembelajaran membuatnya mampu tampil hingga tingkat nasional.
“Jadi yang namanya seni baca Al-Qur’an itu erat hubungannya dengan seni. Bagaimana seni itu bisa diaplikasikan ke dalam Al-Qur’annya,” ujar Riyadi.
Riyadi berharap semakin banyak anak-anak yang belajar Al-Qur’an, terutama mereka yang memiliki bakat dalam seni baca Al-Qur’an. Dukungan dari pemerintah daerah, menurutnya, juga menjadi bagian penting dalam memberikan semangat kepada para peserta untuk terus berkembang.
“Dan mudah-mudahan ke depan anak-anak kita akan semakin banyak yang belajar Al-Qur’an, dan khususnya yang punya seni. Sehingga mereka bisa berkembang di tingkat yang lebih tinggi,” pungkasnya.