Sosial Media
0
News
    Home Berita Bisnis Featured Hahal Spesial

    Ekonomi Halal Buka Banyak Peluang, Ini yang Harus Disiapkan Pelaku Bisnis - Viva

    7 min read


    Ilustrasi produk halal.

    Jakarta, VIVA – Bisnis halal terus berkembang seiring meningkatnya perhatian konsumen terhadap keamanan, kualitas, serta kejelasan proses produksi sebuah produk. Kondisi tersebut membuat konsep bisnis halal tidak lagi terbatas pada pemenuhan kebutuhan konsumen Muslim, tetapi juga menjadi bagian dari strategi usaha untuk membangun kepercayaan dan memperluas pasar.

    Baca Juga

    Dalam praktiknya, membangun bisnis halal yang berdaya saing membutuhkan lebih dari sekadar memiliki produk yang telah memenuhi ketentuan. Pelaku usaha juga perlu memperhatikan kualitas produk, kapasitas produksi, strategi pemasaran, hingga kemampuan membangun jaringan bisnis.

    Berikut sejumlah faktor penting yang dapat diperhatikan pelaku usaha dalam mengembangkan bisnis halal, sebagaimana dihimpun Viva pada Senin (5/10/2026). 

    Baca Juga

    1. Memahami Kebutuhan Pasar

    Langkah awal dalam membangun bisnis adalah memahami kebutuhan dan karakteristik konsumen. Pelaku usaha perlu mengetahui produk yang dibutuhkan pasar, tren konsumsi yang berkembang, serta pertimbangan konsumen ketika memilih sebuah produk. Dalam bisnis halal, pemahaman tersebut dapat menjadi dasar untuk menghasilkan produk yang tidak hanya memenuhi ketentuan halal, tetapi juga memiliki kualitas dan nilai tambah sesuai dengan kebutuhan konsumen.

    Baca Juga

    2. Menjaga Konsistensi Kualitas Produk

    Sertifikasi halal merupakan salah satu aspek penting, tetapi kualitas produk tetap menjadi faktor utama dalam mempertahankan konsumen. Produk yang aman, memiliki mutu konsisten, dan mampu memenuhi ekspektasi konsumen akan lebih mudah membangun kepercayaan. Karena itu, pelaku usaha perlu memiliki standar produksi yang jelas, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi produk.

    3. Memperhatikan Proses dan Rantai Pasok

    Bisnis halal membutuhkan perhatian terhadap seluruh rangkaian proses produksi. Tidak cukup hanya memastikan bahan utama memenuhi ketentuan, pelaku usaha juga perlu memahami asal bahan, proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusinya. Pengelolaan rantai pasok yang baik dapat membantu perusahaan menjaga konsistensi produk sekaligus mengurangi risiko yang dapat memengaruhi kepercayaan konsumen.

    4. Memperkuat Legalitas dan Sertifikasi

    Legalitas dan sertifikasi menjadi bagian penting dalam membangun kredibilitas bisnis. Bagi pelaku usaha halal, pemenuhan sertifikasi juga dapat memberikan kepastian mengenai status halal produk kepada konsumen. Selain menjadi bentuk kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku, sertifikasi halal dapat menjadi nilai tambah ketika bisnis ingin membangun jaringan distribusi atau menjangkau pasar yang lebih luas.

    5. Meningkatkan Kapasitas Pelaku Usaha

    Kemampuan sumber daya manusia turut menentukan perkembangan sebuah bisnis. Pelaku usaha perlu memiliki pemahaman mengenai manajemen, produksi, pemasaran, keuangan, hingga ketentuan yang berkaitan dengan bisnis halal. Peningkatan kapasitas dapat dilakukan melalui pelatihan, pendampingan, edukasi, maupun kolaborasi dengan pihak yang memiliki kompetensi di bidang tertentu.

    6. Memperkuat Strategi Pemasaran

    Produk berkualitas tetap membutuhkan strategi pemasaran yang tepat agar dapat dikenal konsumen. Pelaku bisnis dapat memanfaatkan berbagai kanal pemasaran, termasuk platform digital, media sosial, perdagangan elektronik, maupun jaringan distribusi konvensional. Informasi mengenai produk, kualitas, serta sertifikasi dapat disampaikan secara transparan untuk membangun kepercayaan.

    7. Membuka Akses Pembiayaan

    Pengembangan bisnis sering kali membutuhkan tambahan modal, terutama ketika pelaku usaha ingin meningkatkan kapasitas produksi, memperbaiki fasilitas, atau memperluas jaringan distribusi. Karena itu, akses terhadap pembiayaan menjadi salah satu bagian penting dalam membangun ekosistem bisnis halal. Pelaku usaha dapat mempertimbangkan berbagai sumber pendanaan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan bisnis.

    8. Memperluas Jaringan dan Kolaborasi

    Bisnis tidak berkembang dalam ruang yang terpisah. Kolaborasi dengan pemerintah, lembaga keuangan, asosiasi, perguruan tinggi, perusahaan, maupun komunitas dapat membuka akses terhadap pengetahuan, pembiayaan, teknologi, jaringan distribusi, hingga pasar. Semakin kuat jaringan yang dimiliki, semakin besar pula peluang pelaku usaha memperoleh dukungan untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing.

    9. Mengikuti Perkembangan Regulasi

    Pelaku usaha juga perlu mengikuti perkembangan regulasi yang berkaitan dengan produk halal. Pemahaman terhadap aturan dapat membantu bisnis mempersiapkan proses produksi dan administrasi secara lebih baik. Kesiapan terhadap regulasi juga dapat mengurangi risiko gangguan dalam operasional bisnis sekaligus membantu pelaku usaha menyesuaikan strategi pengembangan usaha dengan perubahan yang terjadi di pasar.

    10. Menjadikan Sertifikasi sebagai Bagian dari Strategi

    Sertifikasi halal sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai kewajiban administratif. Bagi bisnis, sertifikasi dapat menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan, memperkuat reputasi, dan membuka peluang pasar.

    Dengan pendekatan tersebut, sertifikasi halal dapat ditempatkan sebagai bagian dari strategi pengembangan bisnis jangka panjang, bukan sekadar sesuatu yang harus dipenuhi ketika regulasi mulai diberlakukan. Dalam konteks regulasi, kewajiban sertifikasi halal terus diperluas sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Mulai (17/10/2026), sejumlah jenis produk dan barang gunaan memasuki tahapan kewajiban sertifikasi halal.

    Implementasinya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga terkait, pelaku usaha, organisasi masyarakat, dan konsumen. Di Bengkulu, misalnya, penguatan implementasi dilakukan melalui edukasi, pendampingan, pemeriksaan halal, serta perluasan jejaring stakeholder.

    “Kami ingin sertifikasi halal tidak berhenti sebagai pemenuhan kewajiban. Sertifikasi halal juga perlu dilihat sebagai bagian dari upaya memperkuat daya saing dan membuka peluang pengembangan usaha,” ujar Direktur Utama LPPOM, Muti Arintawati.

    Sertifikasi halal ini perlu dipahami dalam perspektif yang lebih luas karena berkaitan dengan pengembangan bisnis. Dengan demikian, membangun bisnis halal yang berdaya saing membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Di tingkat daerah, LPPOM Bengkulu memperkuat jejaring dengan berbagai stakeholder halal. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperluas edukasi dan pendampingan sekaligus membantu pelaku usaha memahami dan memenuhi ketentuan jaminan produk halal.

    Mulai dari kualitas produk, pemahaman pasar, penguatan sumber daya manusia, sertifikasi, pembiayaan, hingga kolaborasi perlu berjalan secara beriringan agar bisnis mampu tumbuh secara berkelanjutan.

    Pertamina Mandalika Racing Series 2026

    Intip Multiplier Effect Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 Genjot Ekonomi Masyarakat Lokal

    Pertamina Patra Niaga memperkuat komitmennya dalam menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026

    img_title

    VIVA.co.id

    10 Oktober 2026

    Komentar
    Additional JS