Sosial Media
0
News
    Home Berita Featured Haul Habib Ali Al Habsyi Haul Solo Spesial

    Profil Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Ulama Besar yang Haulnya Digelar di Solo, Dihadiri Jamaah dari Yaman dan Afrika - Grid

    4 min read


    Profil Habib Ali yang haulnya digelar di Solo. (Tribun Solo/Instagram majlis.habib.indonesia)

    Grid.ID - Sosok dan profil Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi kini jadi sorotan. Bahkan, haul ulama kondang ini dihadiri sederet tokoh Indonesia hingga jamaah dari luar negeri.

    Setiap tahun Haul Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi yang digelar di Solo, Jawa Tengah selalu ramai dikunjungi jemaah. Bukan hanya dari dalam negeri, beberapa jemaah juga diketahui datang dari luar seperti Malaysia, Yaman, Singapura, dan Afrika Selatan.

    Ribuan orang ini berjubel di satu kawasan bernama Masjid Riyadh, Jalan Kapten Mulyadi, Kecamatan Pasar Kliowon, Solo. Pada tahun ini, rangkaian acara Haul Habib Ali ke-115 dimulai dari Rabu (30/9/2026) dan berlangsung selama lima hari hingga Minggu (4/10/2026).

    "Kegiatannya totalnya 5 hari, 3 hari itu Rauhah atau baca Alquran itu mulainya besok, Rabu, Kamis, Jumat. Terus acara Haulnya hari Sabtu jam 9 pagi sampai Dhuhur.

    "Kemudian cara Maulidnya hari Minggu setelah salat subuh berjamaah sampai mungkin sekitar jam 08.00 WIB," ungkap panitia sekaligus keturunan kelima Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Abdulkadir bin Hasan dikutip Grid.ID dari Tribun Solo.

    "Rangkaian acaranya ya isinya ngaji, ceramah, baca nasehat-nasehat," lanjutnya.

    Sederet tokoh Indonesia seperti Anies Baswedan, Cak Imin, hingga Habib Jafar terpantau pernah juga menghadiri acara Haul ini.

    Melihat betapa besarnya acara tersebut, banyak pula masyarakat yang bertanya-tanya tentang sosok Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi. Lantas, siapakah dia sebenarnya?

    Profil Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi

    Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi merupakan seorang ulama yang lahir pada 24 Syawal 1259 Hijriah bertepatan dengan 1839 Masehi di Desa Qosam, Hadhramaut, Yaman. Ia lahir dari pasangan Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi dan Hababah Alawiyah binti Husein bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri.

    Mengutip Tribunnews, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi sangat dicintai di kampung halamannya. Kedermawanan Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi menjadi sesuatu yang dikagumi para jemaahnya. Bahkan, kediamannya tidak pernah sepi dikunjungi tamu.

    Baca Juga: Profil Nurisa Dian Ashrifah, Pemanah 20 Tahun yang Bikin Sejarah di Asian Games 2026

    "Beliau juga orang yang suka jamu menjamu orang lain, orangnya sangat dermawan, acara-acara zaman beliau banyak sekali jamuannya sangat luar biasa," ujar ucap Habib Ali bin Hasan yang merupakan keturunan Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi.

    "Dulu setiap hari dalam seminggu ada tamu, baliau selalu membuat rumahnya terbuka untuk tamu, tamu yang datang dijamu jamuan luar biasa," imbuhnya membeberkan.

    Semasa hidupnya, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi memegang teguh dan mencintai ajaran Rasulullah Shallallahu ' Alaihi wa Sallam. Cara mengajarnya selalu dikaitkan dengan ajaran, sifat, dan akhlak Rasulullah.

    Asal Usul Haul Habib Ali

    Menurut kajian ilmiah berjudul Tradisi Haul Habib Ali Al-Habsyi Masyarakat Muslim Muhibbin di Pasar Kliwon Surakarta Tahun 1980–2006 yang diterbitkan oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, sosok yang pertama kali menggelar Haul Habib Ali di Solo adalah putranya sendiri, Habib Alwi bin Ali.

    Dikisahkan, Habib Alwi hijrah ke Indonesia tidak lama setelah sang ayah wafat. Awalnya ia bersama beberapa saudaranya menetap di Garut, sebelum akhirnya pindah ke Solo.

    Keputusan ini tidak lepas dari keberadaan banyak pendatang asal Yaman di kota tersebut serta ajakan sahabatnya, Habib Muhammad bin Abdullah Al-Idrus. Selain itu, salah satu saudaranya, Habib Ahmad bin Ali Al-Habsyi, juga telah lebih dulu tinggal di Solo.

    Di kota inilah Habib Alwi kemudian membangun sebuah masjid yang diberi nama sama seperti masjid yang didirikan ayahandanya di Hadramaut, yakni Masjid Riyadh. Masjid itu berdiri pada tahun 1355 Hijriah di atas tanah wakaf dari Habib Muhammad bin Abdullah Al-Idrus.

    Di sisi utara masjid, Habib Alwi juga mendirikan sebuah majelis kecil tempat masyarakat belajar agama. Hingga kini, kegiatan pengajian di majelis tersebut tetap berjalan dan menjadi bagian penting dari kehidupan religius masyarakat setempat.

    Setelah Habib Alwi wafat pada tahun 1953, pengelolaan Masjid dan Zawiyah Riyadh diteruskan oleh putra sulungnya, Habib Anis. Makam Habib Alwi sendiri berada di halaman masjid yang ia dirikan.

    Sementara itu, Habib Ali, yang haulnya digelar di Solo, dikenal sangat cinta terhadap Nabi Muhammad SAW hingga ia menuangkannya dalam karya tulis berupa syair dan kitab.

    Baca Juga: Profil Adi Nugroho Nur Wichaksono yang Disebut Pemilik Wiski di Rumah Mewah Lapas Cibinong, Hartanya Disorot

    Salah satu karyanya yang paling masyhur hingga kini adalah Maulid Simtuddurror atau Maulid Habsyi, yang ditulis sekitar dua tahun sebelum wafatnya pada 20 Rabiuts Tsani 1333 H.Karyanya telah tersebar hingga ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.

    Meski ia tak pernah menginjakkan kaki di Nusantara, banyak keturunannya dan sahabat yang milih menggelar haul di pusat kota Surakarta ini. Bisa dibilang, tradisi haul dan dakwah yang berkembang di Solo merupakan warisan dari perjuangan putranya, Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, yang melanjutkan jejak spiritual sang ayah di tanah perantauan. (*)

    Komentar
    Additional JS