Adab Sebelum Ilmu: Ruh Penghormatan Santri kepada Kiai - Lirboyo net
Adab Sebelum Ilmu: Ruh Penghormatan Santri kepada Kiai
Dalam tradisi pesantren, hubungan antara santri dan kiai tidak semata bersifat intelektual, melainkan juga spiritual dan moral. Seorang kiai bukan hanya guru dalam arti pengajar ilmu, tetapi juga mursyid ruhani yang menuntun perjalanan jiwa santri menuju kedewasaan iman dan akhlak. Karena itu, adab terhadap kiai menjadi bagian paling mendasar dalam norma kehidupan santri.
Adab tergantung tempat
Yang perlu kita ketahui juga, dalam adat Jawa, tunduk kepada guru merupakan simbol unggah-ungguh (tatakrama) dan ta‘dhim (pengagungan). Sementara di Arab, bentuk penghormatan itu berbeda: mereka berdiri ketika menyambut orang mulia, seperti ketika para jamaah berdiri dalam mahalul qiyam saat bersalawat kepada Nabi ﷺ.
Dengan demikian, perbedaan cara penghormatan bukanlah persoalan perbudakan, melainkan ekspresi budaya dan etika spiritual yang beragam.
Akibat menghormati guru
Para ulama terdahulu telah menegaskan pentingnya penghormatan kepada guru. Imam Sadiiduddin asy-Syirazi menukil dawuh gurunya, bahwa:
مَنْ أَرَادَ أَنْ يَكُونَ ابْنُهُ عَالِمًا، يَنْبَغِي أَنْ يُرَاعِيَ الْغُرَبَاءَ مِنَ الْفُقَهَاءِ، وَيُكْرِمَهُمْ وَيُطْعِمَهُمْ وَيُعْطِيَهُمْ شَيْئًا، وَإِنْ لَمْ يَكُنِ ابْنُهُ عَالِمًا يَكُنْ حَفِيدُهُ عَالِمًا.
“Barang siapa ingin anaknya menjadi alim, hendaklah ia memuliakan para ulama — terutama mereka yang datang dari jauh, para fuqaha dan penuntut ilmu. Berilah mereka makan, hormatilah, dan bantu dengan apa yang mampu. Jika anaknya tidak menjadi alim, maka cucunya akan menjadi alim.”
Ungkapan ini menegaskan bahwa keberkahan ilmu bukan hanya lahir dari kecerdasan, tetapi juga dari penghormatan dan pelayanan kepada orang-orang berilmu.
Norma pesantren
Norma penghormatan terhadap guru ini tampak jelas dalam kehidupan santri. Seorang santri tidak selayaknya tidak berjalan di depan kiainya, tidak duduk di tempatnya, tidak berbicara tanpa izin, dan tidak banyak berkata-kata di hadapan beliau. Saat kiai tampak letih, santri menahan diri untuk bertanya. Saat hendak berkunjung, mereka tidak mengetuk pintu dengan keras, tetapi menunggu hingga kiai keluar sendiri.
Sikap ini bukan semata sopan santun, tetapi manifestasi dari keyakinan bahwa keberkahan ilmu bergantung pada ridha guru. Karena itu, seorang santri berusaha menjaga perasaan kiai, mematuhi arahannya, serta menjauhi segala hal yang dapat menimbulkan ketidaksenangan, selama tidak bertentangan dengan syariat.
Nabi ﷺ bersabda,
لَا طَاعَةَ لِـلْمَخْلُوقِ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ.
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Khaliq.” (HR. Bukhari, Ahmad dll).
Dengan demikian, ketaatan kepada guru bersifat mutlak selama masih dalam koridor ketaatan kepada Allah.
Menghormati keluarga kiai
Dalam khazanah pesantren, penghormatan kepada kiai juga mencakup keluarganya. Menghormati anak atau kerabat kiai dipandang sebagai bagian dari memuliakan guru itu sendiri.
Alkisah, ada seorang imam besar di Bukhara yang setiap kali melihat anak gurunya lewat di depan masjid, beliau berdiri dari tempat duduknya sebagai tanda takzim kepada sang guru.
Demikian pula Imam Fakhruddin al-Arsabandi yang berkata, “Aku mendapatkan kedudukan ini karena khidmahku kepada guruku. Aku melayani dan memasakkan makanannya selama tiga puluh tahun, dan tidak pernah memakan sedikit pun dari makanan itu.” Kisah ini menjadi teladan bagi santri bahwa khidmah dan pengabdian kepada kiai adalah jalan memperoleh keberkahan dan kemuliaan.
Akibat tidak menghormati guru
Namun sebaliknya, siapa pun yang membuat gurunya tersakiti akan terhalang dari cahaya ilmu. Ada sebuah kisah, seorang murid tidak menengok gurunya yang sedang sakit karena sibuk melayani ibunya. Ketika akhirnya datang, sang guru berkata, “Engkau akan diberi umur panjang, tetapi tidak akan memperoleh cahaya dalam majelis ilmu.” Dan benar, meskipun panjang umur, murid itu tidak memiliki keberkahan ilmu yang nyata.
Dari berbagai kisah ini, dapat dipahami bahwa norma santri dalam menghormati kiai tidak hanya bersifat etika sosial, tetapi juga bernilai spiritual. Penghormatan kepada guru menjadi bagian dari tarbiyah ruhaniyah — pendidikan jiwa yang melahirkan keikhlasan, kerendahan hati, dan kesadaran akan pentingnya sanad keilmuan.
Penutup
Dalam pandangan pesantren, ilmu bukan semata kumpulan pengetahuan, melainkan cahaya yang turun ke dalam hati. Dan cahaya itu tidak akan singgah di hati yang tidak beradab kepada gurunya. Karena itu, para santri sejak dahulu diajarkan, “Adab sebelum ilmu, ridha kiai sebelum keberhasilan.”
Maka dapat kita simpulkan bahwa penghormatan santri kepada kiai adalah norma luhur yang menjadi ruh kehidupan pesantren—sebuah nilai yang menjaga kesinambungan tradisi ilmu, akhlak, dan keberkahan Islam di bumi Nusantara.
Referensi: Seluruhnya diambil dari kitabnya Syaikh Al-Zarnūjī, Ta‘līm al-Muta‘allim Ṭarīq at-Ta‘allum.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo