Asal-usul Masjid Golo di Paseban Bayat Klaten, Konon Katanya Dulu Dipindah dari Bukit - Tribunsolo
Asal-usul Masjid Golo di Paseban Bayat Klaten, Konon Katanya Dulu Dipindah dari Bukit - Tribunsolo.com
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Ringkasan Berita:
- Masjid Gholo di Bayat, Klaten, merupakan masjid tua abad ke-16 yang berkaitan erat dengan Sunan Pandanaran dan menjadi saksi penting penyebaran Islam di kawasan Tembayat, selatan Jawa Tengah.
- Masjid ini dikenal lewat legenda pemindahan dari puncak Bukit Jabalakat ke lereng bukit, konon hanya dengan benang atau ujung jari, serta memiliki arsitektur Jawa sederhana namun sarat nilai sejarah.
- Hingga kini Masjid Gholo masih aktif digunakan beribadah dan ziarah.
TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Masjid Gholo atau Masjid Golo merupakan salah satu masjid tua bersejarah yang berada di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Tribuners bisa menemukan masjid ini Google Maps dengan nama Masjid Besar Sunan Pandanaran Bayat.
Masjid ini diperkirakan berdiri sejak abad ke-16 dan menjadi saksi penting perkembangan Islam di wilayah selatan Jawa Tengah, khususnya kawasan Bayat yang dahulu dikenal dengan nama Tembayat.
Masjid Gholo memiliki keterkaitan erat dengan Sunan Pandanaran atau Sunan Bayat, salah satu tokoh penting penyebaran Islam di Jawa.
Kawasan Tembayat pada masa lalu dikenal sebagai pusat dakwah Islam, dan masjid ini disebut pernah menjadi tempat bermukim Sunan Bayat dalam menjalankan syiar agama.
Lokasi masjid ini berada 42 kilometer dari pusat Kota Solo, atau bisa ditempuh 1 jam 19 menit kendaraan pribadi.
Jejak Sejarah dari Kisah Wali

Sejarah Masjid Gholo berawal dari kisah Wali Sanga yang mencari pengganti Syekh Siti Jenar.
Dalam musyawarah, terpilihlah seorang bupati dari Semarang yang kemudian diuji oleh Sunan Kalijaga dengan menyamar sebagai pengemis.
Setelah menyadari sifat kikirnya, sang bupati berguru kepada Sunan Kalijaga hingga menjadi alim dan diutus berdakwah.
Menurut Babad Demak, dalam perjalanannya berdakwah, sunan tersebut tiba di wilayah tandus bernama Tembayat dan menemukan sebuah masjid di puncak Bukit Jabalkat.
Warga setempat harus turun gunung untuk mendapatkan air.
Sang sunan kemudian membuat telaga dan melaksanakan salat Jumat di masjid tersebut, menandai awal berkembangnya Islam di kawasan itu.
Legenda Pemindahan Masjid
Masjid Gholo juga dikenal karena legenda pemindahannya yang unik.
Awalnya, masjid ini berada di puncak Bukit Jabalakat atau Bukit Gala.
Menurut cerita masyarakat, Sunan Pandanaran memindahkan masjid tersebut ke lereng bukit agar lebih mudah dijangkau warga.
Terdapat beberapa versi cerita, mulai dari masjid dipindahkan hanya dengan benang hingga menggunakan ujung jari.
Meski bernuansa legenda, kisah ini menambah daya tarik spiritual dan historis Masjid Gholo.
Nama “Gholo” sendiri diyakini berasal dari kata “golok”, yang dalam pengucapan masyarakat setempat kemudian berubah menjadi “Gholo”.

Arsitektur Sederhana Bernilai Tinggi
Secara arsitektur, Masjid Gholo memiliki bentuk bujur sangkar berukuran sekitar 8 x 8 meter.
Bangunan ini berdiri di atas bukit kecil dengan teras tiga tingkat dan harus dicapai melalui anak tangga.
Masjid ini tidak memiliki serambi maupun pawestren seperti masjid Jawa pada umumnya, kemungkinan karena dibangun di tengah permukiman.
Atap masjid berbentuk tumpang dua tingkat, ditopang empat saka guru dan 12 saka rawa dari kayu jati.
Mihrab di sisi barat terbuat dari batu, dengan bentuk luar datar namun melengkung di bagian dalam.
Pintu masuk sisi timur memiliki unsur gapura, memperkuat nuansa arsitektur tradisional Jawa.
Peninggalan Bersejarah
Masjid Gholo menyimpan sejumlah peninggalan bersejarah, seperti beduk, kentungan, dan gentong air wudhu yang masih asli.
Di bawah anak tangga juga terdapat dua tempayan kuno yang menambah nilai kekunoan bangunan ini.
Masjid ini telah mengalami renovasi, salah satunya pada tahun 1980 oleh Departemen Agama dan Dinas Purbakala.
Meski demikian, keaslian bangunan tetap dijaga. Saat ini, Masjid Gholo berada di bawah pengawasan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.
Sarat Cerita Mistis
Hingga kini, Masjid Gholo masih digunakan warga sekitar untuk beribadah.
Salat Jumat, zikir rutin setiap malam Jumat dan Selasa, serta berbagai kegiatan dakwah masih terus berlangsung.
Letaknya yang dekat dengan kompleks makam Sunan Pandanaran dan para santri menjadikannya tujuan ziarah yang ramai dikunjungi.
Di balik nilai sejarahnya, masjid ini juga lekat dengan cerita mistis.
Masyarakat setempat meyakini Masjid Gholo dihuni oleh makhluk gaib bernama Muhammad Harun.
Konon, pernah ada orang yang tidur di dalam masjid dan tiba-tiba berpindah ke luar bangunan di bawah pohon.
Cerita itu beredar turun temurun dari satu mulut ke mulut yang lain.
Sampai kini belum diketahui kebenarannya.
(*)