0
News
    Home Berita Featured Kudus Lintas Peristiwa Longsor Muria Spesial

    Hujan Deras Picu Longsor di Muria Kudus, Transportasi dan Aktivitas Ekonomi Warga Terdampak - NU Online

    4 min read

     

    Hujan Deras Picu Longsor di Muria Kudus, Transportasi dan Aktivitas Ekonomi Warga Terdampak

    NU Online  ·  Kamis, 15 Januari 2026 | 16:30 WIB



    Tanah longsor di kawasan Muria, Kudus, Jawa Tengah menyeret mobil. (Foto: dok warga)

    Ayu Lestari

    Kudus, NU Online

    Bencana tanah longsor terjadi di jalur Colo, kawasan Pegunungan Muria, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak siang hari. Peristiwa ini berdampak langsung pada akses transportasi serta aktivitas ekonomi warga, khususnya di Desa Japan, Kecamatan Dawe.


    Salah seorang warga Desa Japan, Setyadika Firmansyah, mengungkapkan bahwa informasi longsor diterimanya sekitar lima menit setelah kejadian. Saat itu, ia mendapat kabar dari ibunya melalui pesan singkat, yang kemudian dengan cepat menyebar melalui grup WhatsApp dan media sosial.


    “Alhamdulillah masih diberi keselamatan. Meski ada rasa khawatir akan adanya longsor susulan, kami berusaha tetap tenang dan saling menguatkan,” ujar Setyadika kepada NU Online, Kamis (15/1/2026).

    Baca Juga

    Banjir Rendam 20 Kecamatan di Pati, Warga Terdampak Butuh Sembako dan Obat-obatan


    Ia menjelaskan, longsor dipicu oleh intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa hari terakhir, dengan puncaknya hujan deras yang berlangsung seharian penuh pada hari kejadian. Kondisi tersebut menyebabkan debit air sungai meningkat dan memicu amblesan tanah di sekitar badan jalan.


    Material longsoran berupa batuan, tanah, dan aspal menutup sebagian badan jalan bahkan menghambat aliran sungai. Akibatnya, akses distribusi dan logistik warga terganggu karena kendaraan bermuatan besar tidak dapat melintas. Saat ini, jalur tersebut hanya bisa dilewati sepeda motor dan mobil berukuran kecil.


    “Untuk sementara pasokan kebutuhan pokok dari pasar masih ada, tetapi distribusinya tidak lancar karena keterbatasan akses,” jelasnya.


    Dampak longsor juga sangat dirasakan pada sektor ekonomi warga. Jalur Colo selama ini dikenal sebagai akses utama peziarah menuju kawasan Muria yang menjadi penggerak ekonomi masyarakat setempat. Sejak longsor terjadi, jumlah bus peziarah yang masuk ke wilayah tersebut menurun drastis.


    “Yang paling kami khawatirkan adalah aktivitas ekonomi. Jalur Colo ini jalur utama. Jika tidak segera ada solusi, dampaknya akan sangat besar bagi warga,” ungkap Dika, sapaan akrabnya.

    Baca Juga

    Banjir Rendam Sejumlah Kecamatan di Jepara, Relawan Pastikan Akses dan Dapur Umum Tetap Berjalan


    Ia menambahkan, sejak hari pertama hingga hari kedua pascalongsor, masih terjadi pergerakan tanah dalam skala kecil, terutama di bagian jalan yang mengalami amblesan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran warga akan potensi longsor susulan, terlebih jika cuaca ekstrem terus berlanjut.


    Meski demikian, warga setempat tetap berupaya menjaga ketenangan dan keselamatan bersama. Dengan menjunjung nilai kebersamaan dan gotong royong, masyarakat Desa Japan saling membantu sembari menunggu penanganan lebih lanjut dari pihak terkait.


    “Untuk sementara kami masih merasa aman. Walaupun ada rasa khawatir, kami sebagai warga desa berusaha bergotong royong dan saling menguatkan,” pungkasnya.

    Baca Juga

    Banjir Musiman Rendam Kudus, Aktivitas Warga dan Pondok Pesantren Terkendala


    Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus, tercatat sebanyak 127 titik tanah longsor tersebar di beberapa kecamatan, terutama di wilayah perbukitan Kecamatan Gebog dan Dawe. Bencana tersebut berdampak pada 33 rumah warga serta menyebabkan kerusakan pada sejumlah akses jalan desa.


    Selain longsor, cuaca ekstrem yang disertai angin kencang juga memicu bencana lain, seperti 14 pohon tumbang, lima kendaraan rusak, serta kerusakan pada sejumlah fasilitas umum, termasuk fasilitas pendidikan dan tempat ibadah.


    BPBD Kudus bersama relawan gabungan terus melakukan upaya penanganan, mulai dari evakuasi warga terdampak, pendirian dan operasional dapur umum, pendistribusian bantuan logistik, hingga asesmen dan pembaruan data secara berkala.


    Sebagian warga terpaksa mengungsi ke lokasi yang telah disiapkan. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 233 kepala keluarga atau 596 jiwa berada di titik-titik pengungsian.

    Komentar
    Additional JS