0
News
    Home Tidak Ada Kategori

    Kejadian Luar Biasa dalam Islam: Membedakan Mukjizat, Karamah, dan Tahayul - Lirboyo net

    4 min read

     

    Kejadian Luar Biasa dalam Islam: Membedakan Mukjizat, Karamah, dan Tahayul

    Dewasa ini, tidak sedikit orang yang tergesa-gesa menilai bahwa setiap peristiwa yang tidak dapat diterima oleh logika manusia sebagai sesuatu yang mustahil. Bahkan, ketika disuguhkan kisah-kisah yang berada di luar jangkauan akal. Sebagian dari mereka dengan mudah melabelinya sebagai kebohongan, khurafat, tahayul, atau sekadar mitos tanpa dasar.

    Mengenal istilah khawariq al-adat

    Padahal, dalam khazanah teologi Islam (ilmu tauhid), peristiwa semacam itu tidak serta-merta mempoposikannya sebagai kemustahilan. Ia justru terkenal dengan istilah khawariq al-adat, yakni kejadian-kejadian luar biasa yang menyelisihi kebiasaan umum (adat) manusia. Namun tetap berada dalam cakupan kehendak dan kekuasaan Allah Swt.

    Menakar kejadian luar biasa dengan iman

    Salah satu contoh paling monumental adalah peristiwa Isra’ Mi’raj yang pernah Nabi Muhammad saw alami. Secara nalar rasional, perjalanan dari Makkah ke Baitul Maqdis—bahkan menembus lapisan langit—dalam waktu satu malam tentu tampak mustahil. Itulah sebabnya kaum kafir Quraisy pada masa itu menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan olok-olok dan pendustaan. Namun, bagi orang-orang beriman, ukuran kemustahilan tidak lagi menakarnya dengan akal semata . Melainkan dengan keyakinan bahwa tidak ada sesuatu pun yang mustahil apabila Allah telah berkehendak.

    Prinsip ini pula yang berlaku pada berbagai peristiwa luar biasa yang tampak pada diri para waliyullāh, hamba-hamba Allah yang saleh dan terpilih. Kejadian-kejadian tersebut tidak dapat kita nilai sebagai kemustahilan hanya karena melampaui kebiasaan manusia, sebab ia terjadi bukan atas kehendak makhluk, melainkan atas izin Sang Pencipta.

    Macam-macam khawariq al-adat

    Atas dasar itulah, para ulama kemudian melakukan klasifikasi dan pembedaan yang cermat terhadap peristiwa-peristiwa di luar nalar kebiasaan manusia, dengan menimbang siapa pelakunya dan dalam rangka apa peristiwa itu terjadi. Dengan pendekatan ini, umat tidak terjebak pada sikap menolak secara serampangan, sekaligus tidak terjatuh pada pengagungan yang keliru.

    Lebih jauh, Syaikh Ibrāhīm al-Baijūrī dalam Tuḥfat al-Murīd memberikan penjelasan rinci mengenai ragam kejadian luar biasa tersebut beserta karakter pelakunya.

    1. Mukjizat, yaitu peristiwa luar biasa yang tampak pada diri para nabi dan rasul sebagai bukti kenabian mereka;
    2. Karamah, yaitu sesuatu yang tampak pada diri seorang hamba yang nyata kesalehannya;
    3. Maūnah (pertolongan), yaitu sesuatu yang tampak pada diri orang awam sebagai bentuk penyelamatan mereka dari suatu kesulitan;
    4. Istidrāj, yaitu sesuatu yang tampak pada diri orang fasik sebagai bentuk tipu daya dan jebakan terhadapnya, contohnya seperti penyihir dengan bantuan jin jahat/setan.
    5. Ihānah (penghinaan), yaitu sesuatu yang tampak pada dirinya sebagai bentuk pendustaan terhadap klaimnya. Sebagaimana yang terjadi pada Musailamah al-Kadzdzāb, ketika ia meludahi mata seseorang yang buta sebelah dengan maksud agar sembuh, justru mata yang sehat menjadi buta. [Ibrāhīm al-Baijūrī, Tuḥfat al-Murīd ‘alā Jawharat al-Tawḥīd, (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t.), hlm. 148.]

    Penutup

    Pada akhirnya, khawariq al-adat mengajarkan kepada kita satu pelajaran mendasar: bahwa akal manusia, betapapun tajam dan canggihnya, tetap memiliki batas. Ketika kita menjadikan akal sebagai satu-satunya hakim kebenaran, ia berpotensi tergelincir pada penolakan yang gegabah; namun ketika iman kita lepaskan dari kendali ilmu, ia pun rawan terjatuh pada sikap mudah percaya tanpa pijakan. Untuk itu, marilah belajar ilmu agama lebih dalam sekaligus berbenah!

    Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

    Komentar
    Additional JS