Kelahiran Nabi Isa dan Salam atas Tiga Fase Kehidupan -
Kelahiran Nabi Isa dan Salam atas Tiga Fase Kehidupan
Kalender Masehi secara historis dihitung dengan menjadikan kelahiran Nabi Isa a.s. sebagai titik awal penanggalan. Menariknya, Al-Qur’an sendiri merekam bagaimana Nabi Isa a.s. memberi salam atas hari kelahirannya, sekaligus memohon keselamatan pada hari wafat dan kebangkitannya kelak.
Allah SWT berfirman melalui lisan Nabi Isa a.s.:
وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا
“Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku, hari wafatku, dan hari aku dibangkitkan hidup (kembali).”
(QS. Maryam [19]: 33)
Prof. M. Quraish Shihab menaruh perhatian pada susunan redaksi ayat ini. Hari kelahiran (wulidtu) disebut dengan fi‘il māḍī (telah terjadi), sehingga Nabi Isa a.s. mengucapkan salam sebagai bentuk pengakuan atas nikmat keselamatan yang telah beliau alami. Adapun hari kematian dan kebangkitan disebut dengan fi‘il muḍāri’ (belum terjadi), sehingga wajar jika beliau memohon keselamatan pada dua fase kehidupan yang masih akan dihadapi.
Menurut penafsiran al-Kalabī—sebagaimana dikutip al-Māwardī—keselamatan pada hari kelahiran itu nyata adanya. Nabi Isa a.s. termasuk bayi yang dijaga Allah dari gangguan setan. Dalam hadis disebutkan bahwa setiap bayi disentuh setan saat lahir, kecuali Maryam dan putranya, Isa a.s. (Lihat: Tafsīr al-Māwardī, Jilid 3, hlm. 371).
Keajaiban Sejak Sebelum Kelahiran
Keistimewaan Nabi Isa a.s. bahkan telah dimulai sejak sebelum kelahirannya. Maryam, seorang gadis suci yang belum bersuami, mengandung atas kehendak Allah. Peristiwa ini bukan hasil hukum biologis lazim, melainkan manifestasi langsung dari qudrat Ilahi.
Allah mengutus Malaikat Jibril yang menjelma sebagai manusia sempurna. Maryam yang terkejut segera berlindung kepada Allah. Jibril pun menenangkannya seraya menyampaikan kabar gembira bahwa ia akan dianugerahi seorang anak laki-laki yang suci. Ketika Maryam mempertanyakan bagaimana hal itu mungkin terjadi tanpa sentuhan laki-laki, Jibril menegaskan bahwa perkara tersebut mudah bagi Allah dan telah menjadi ketetapan-Nya, sekaligus sebagai tanda kebesaran dan rahmat bagi manusia (QS. Maryam [19]: 16–21).
Detik-detik Kelahiran yang Menggetarkan
Al-Qur’an tidak menjelaskan secara rinci lamanya masa kehamilan Maryam. Namun setelah menyadari keadaannya, ia mengasingkan diri ke tempat yang jauh. Rasa sakit persalinan memaksanya bersandar pada pangkal pohon kurma, hingga dalam kepedihan ia berkata:
“Oh, seandainya aku mati sebelum ini dan menjadi sesuatu yang dilupakan.”
Di saat paling lemah itulah pertolongan Allah datang. Maryam diperintahkan menggoyang pangkal pohon kurma, lalu jatuhlah buah kurma masak untuknya. Ia juga ditenangkan dan diperintah makan, minum, serta bernazar puasa bicara sebagai bentuk penyerahan diri total kepada Allah (QS. Maryam [19]: 22–26).
Pembelaan Seorang Bayi dalam Ayunan
Setelah melahirkan, Maryam kembali menemui kaumnya sambil menggendong bayi Isa. Alih-alih simpati, yang ia terima justru tuduhan keji dan cemoohan. Maryam tidak membela diri dengan kata-kata. Ia hanya menunjuk kepada bayinya.
Di luar nalar manusia, Allah menampakkan mukjizat-Nya. Isa a.s. yang masih dalam buaian berbicara, membela kehormatan ibunya, dan menegaskan jati dirinya:
إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ
“Sesungguhnya aku adalah hamba Allah…”
Ia menolak klaim ketuhanan atas dirinya, menegaskan statusnya sebagai nabi, serta menutup pernyataannya dengan salam atas tiga fase hidupnya: kelahiran, kematian, dan kebangkitan (QS. Maryam [19]: 30–33).
Sebagaimana ditegaskan Abu Zahrah, pernyataan ini merupakan bantahan teologis yang sangat kuat sejak awal kehidupan Nabi Isa a.s., bahwa ia bukan anak Tuhan, melainkan hamba Allah yang dimuliakan (Muḥāḍarāt fī an-Naṣrāniyyah, hlm. 16).
Demikian kisah kelahiran Nabi Isa a.s. yang bukan sekadar sejarah, tetapi juga pelajaran akidah, kesabaran, dan ketundukan total kepada kehendak Allah. Wallāhu a‘lam.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo