KH. An’im Falahuddin Mahrus: Ciri Orang Munafik dan Akhlak sebagai Cermin Kejujuran Iman - Lirboyo net
KH. An’im Falahuddin Mahrus: Ciri Orang Munafik dan Akhlak sebagai Cermin Kejujuran Iman
Sering kali kita merasa aman dengan label lahiriah: rajin ibadah, fasih berbicara agama, atau kita terkenal berperilaku baik di tengah masyarakat. Namun para masyayikh selalu mengingatkan, bahwa penyakit paling berbahaya justru tidak tampak dari luar. Munafik adalah penyakit hati yang memberikan efek kerusakan yang besar pada sifat manusia. KH. An’im Falahuddin Mahrus memberi tahu tentang dua ciri dan sifat yang tidak mungkin bersatu dengan sifat orang munafik.
Dua Ciri yang Tidak bisa Dimiliki Orang Munafik
Dawuh beliau:
“Khuslatani la takunani fi munafiqin — ada dua budi pekerti, ada dua perilaku yang tidak bisa dimiliki orang munafik:
حُسْنُ الصَّمْتِ وَحُسْنُ الْفِقْهِ فِي الدِّينِ
Artinya apa? Artinya orang alim fikih kemudian akhlaknya bagus bisa dipastikan itu bukan orang munafik. Sebab kadang-kadang ada orang yang berilmu tapi tidak berakhlakul karimah, ini bisa juga orang munafik. Tetapi ada orang yang tidak berilmu tetapi berakhlak baik, bisa juga itu orang munafik. Maka tidak terkumpul dua pekerti ini kecuali orang tersebut terbebaskan dari sifat munafik.”
Dawuh ini menampar kesadaran kita secara halus. Ilmu tidak otomatis melahirkan keselamatan, dan akhlak yang tampak baik belum tentu lahir dari iman yang lurus. Yang menjadi penentu justru pertemuan antara keduanya: pemahaman agama yang benar dan budi pekerti yang terjaga. Jika salah satunya pincang, kemunafikan masih punya celah untuk masuk.
Dalam refleksi ini, kita diajak bertanya pada diri sendiri: selama ini, apakah ilmu yang kita banggakan benar-benar melahirkan kerendahan hati? Ataukah akhlak yang kita tampilkan hanya menjadi topeng sosial?
Munafik dalam Kitab Tasawuf
KH. An’im kemudian mengingatkan bahwa munafik bukan sekadar urusan perilaku, tetapi persoalan keyakinan terdalam:
“Munafik itu penyakit hati sehingga diterangkan di dalam kitab-kitab tasawuf: an-nifak niku ono an-nifak al-i’tiqadi. An-nifak al-i’tiqadi niku nopo? Mamang, ragu tentang apa-apa yang didawuhkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad Saw.”
Keraguan yang terus dipelihara akan menggerogoti iman pelan-pelan. Bahkan, keraguan itu bisa menjelma dalam sikap hidup yang tidak lagi menggantungkan harapan dan rasa takut kepada Allah:
“Ora percoyo dawuhe kanjeng nabi, ora percoyo kaleh al-Quran, ora pati percoyo karo eneke suwargo karo neroko, ora pati percoyo enek e pengancem-nganceme Allah, ora pati percoyo enek bebungah utowo janji-janjine Allah ta’ala.”
Refleksi ini menyadarkan kita bahwa iman bukan hanya kita ucapkan secara lisan, tetapi harus kita resapi. Ketika surga dan neraka tak lagi menggetarkan hati, ketika janji dan ancaman Allah tak lagi memengaruhi sikap hidup, di situlah nifak i‘tiqadi mulai bersemi dalam hati manusia.
Selain dalam keyakinan, munafik juga hadir dalam perbuatan sehari-hari—sering kali tanpa kita sadari:
“Wonten seng an-nifak al amali. An-nifak al amali niku pye? Kelakuane kaya kelakuane wong munafik. Kan tiyang munafik niku wonten tanda-tandanipun. Siji, lek piambake niku berbicara, akeh gorohe. Lek piambake niku berjanji maka dia mengkhianati janjinya, dan piambake dipercaya ia mengkhianati apa yang menjadi amanatnya.”
Barangkali kita tidak merasa munafik. Namun refleksi ini menuntut kejujuran: seberapa sering lisan kita tidak sejalan dengan hati? Seberapa sering janji kita ucapkan, lalu kita lupakan?
Dawuh KH. An’im Falahuddin ini bukan untuk menghakimi siapa pun, melainkan menghidupkan kewaspadaan batin. Munafik bukan soal siapa yang paling tampak saleh, tetapi siapa yang paling jujur menjaga iman, ilmu, dan akhlaknya.
Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo