Khutbah Jumat Isra Mi’raj: Shalat dan Kemaslahatan Sosial - NU Online
Khutbah Jumat Isra Mi’raj: Shalat dan Kemaslahatan Sosial
NU Online · Rabu, 14 Januari 2026 | 09:35 WIB
Penulis
“Oleh-oleh” berharga yang dibawa Rasulullah dari perjalanan religinya adalah ibadah shalat. Shalat bukan hanya ibadah mahdhah berdimensi vertikal yang menghubungkan kita dengan Allah SWT. Namun juga memiliki dimensi horizontal yang menata kehidupan sosial. Shalat yang dijalankan dengan benar akan melahirkan pribadi berakhlak mulia dan peka terhadap sesama sekaligus mampu menghadirkan kemaslahatan sosial di tengah masyarakat.
Teks khutbah Jumat Isra' Mi'raj berikut ini dengan judul “Shalat, dan Kemaslahatan Sosial.” Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Khutbah Jumat Isra Mi’raj: Ujian dan Penghambaan hingga Anugerah Kemuliaan
Pada kesempatan yang penuh berkah ini, khatib mengajak jamaah sekalian, wabil khusus kepada diri khatib sendiri untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ta'ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Salah satu perintah Allah yang wajib kita laksanakan adalah perintah menjalankan ibadah shalat yang merupakan ‘oleh-oleh’ paling berharga dari perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
Perlu kita lebih sadari lagi bahwa shalat bukan hanya menjadi tiang agama, tetapi juga menjadi sarana membentuk karakter dan menguatkan hubungan kita dengan Allah ta'ala. Karena itu, peringatan Isra Mi’raj di bulan Rajab ini seharusnya tidak berhenti pada seremonial dan cerita perjalanan Nabi semata, melainkan menjadi momentum untuk memperbaiki kualitas shalat kita.
Shalat yang benar dan khusyuk sejatinya akan melahirkan dampak nyata dalam kemaslahatan sosial. Nilai-nilai kedisiplinan, kejujuran, kesetaraan, dan kepedulian yang terkandung dalam shalat akan tercermin dalam sikap dan perilaku kita di tengah masyarakat. Shalat yang baik dan benar akan mencegah kerusakan dan kemungkaran di tatanan kehidupan sosial.
Allah berfirman:
اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Baca Juga
Khutbah Jumat: Isra' Mi'raj, Perjalanan Anugerah Penuh Hikmah
Artinya: ”Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-'Ankabut: 45)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Di tengah tantangan kehidupan modern yang diwarnai individualisme, konflik sosial, dan krisis moral saat ini, peringatan Isra Mi’raj harus menjadi momentum refleksi bersama. Kita diajak untuk meninjau kembali kualitas shalat yang telah kita jalankan selama ini.
Kita perlu bertanya pada diri kita sendiri, apakah shalat kita telah mampu membentuk pribadi yang jujur, adil, dan peduli terhadap sesama? Ataukah masih sebatas rutinitas dan gerakan-gerakan semata tanpa ada pengaruh dan dampak sosial?. Di sinilah pentingnya memahami keterkaitan antara momentum Isra Mi’raj, shalat, dan kemaslahatan sosial secara utuh dan komprehensif.
Isra Mi’raj membawa pesan bahwa shalat adalah ibadah yang menghubungkan dua dimensi yakni dimensi langit dan bumi. Shalat merupakan media komunikasi langsung secara vertikal antara kita dengan Allah SWT yang kemudian diwujudkan dengan komunikasi harmonis secara horizontal dengan sesama manusia.
Kemaslahatan sosial lahir ketika nilai-nilai shalat diinternalisasi dalam jiwa kita secara baik. Dalam shalat, kita diajarkan nilai-nilai sikap disiplin waktu, kesetaraan derajat, dan kepatuhan pada aturan. Ketika nilai-nilai ini dibawa ke ruang sosial, maka akan tumbuh budaya saling menghormati, keadilan, dan kepedulian terhadap kelompok yang lemah.
Shalat berjamaah, misalnya, bukan hanya simbol persatuan, tetapi juga latihan konkret untuk membangun kebersamaan dan tanggung jawab sosial. Jangan sampai shalat yang kita lakukan hanya sebatas gerakan semata tanpa ada keterikatan hati dengan Sang Pencipta dan tidak berdampak sosial sehingga malah akan menjauhkan kita dari Allah ta'ala.
Terdapat sebuah riwayat, yang meskipun dinilai dha'if oleh sebagian ulama, namun maknanya mengingatkan kita akan pentingnya merefleksikan shalat-shalat yang telah kita laksanakan seumur hidup kita, dalam Musnad Asy-Syihab disebutkan:
مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلَاتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، لَمْ تَزِدْهُ مِنَ اللَّهِ إِلَّا بُعْدًا
Artinya: “Barang siapa yang shalatnya masih belum dapat mencegah dirinya dari mengerjakan perbuatan keji dan munkar, maka tiada lain ia makin bertambah jauh dari Allah.”
Lebih jauh, shalat yang berangkat dari spirit Isra Mi’raj mendorong lahirnya kesalehan sosial. Kesalehan ini tampak dalam kepekaan terhadap penderitaan orang lain, semangat menegakkan keadilan, serta keberanian menolak kemungkaran. Semakin baik shalat kita, maka kita tidak akan mudah melakukan tindakan-tindakan negative seperti korupsi, menindas sesama, atau merusak tatanan sosial.
Hal ini karena shalat senantiasa mengingatkan bahwa setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Rasulullah juga mengingatkan dalam haditsnya:
أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ، فَإنْ صَلُحَتْ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ، وَإنْ فَسَدَتْ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ
Artinya: “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi.” (HR. Tirmidzi).
Oleh karena itu, Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Peringatan Isra Mi’raj hendaknya tidak berhenti pada seremonial dan perayaan simbolik semata. Momentum ini harus menjadi momentum memperbaiki kualitas shalat, baik secara lahiriah maupun batiniah, sehingga benar-benar melahirkan kemaslahatan sosial.
Kita harus menjadikan shalat sebagai sumber nilai dalam kehidupan sehari-hari seperti jujur dalam bekerja, adil dalam memimpin, santun dalam berinteraksi, dan peduli terhadap sesama.
Mari kita jadikan shalat sebagai energi moral yang membimbing langkah sosial kita, serta menjadikan spirit Isra Mi’raj sebagai inspirasi membangun masyarakat yang beradab, damai, dan berkeadilan. Dengan shalat yang hidup dan membumi, kemaslahatan sosial bukanlah sekadar cita-cita, melainkan keniscayaan yang dapat kita wujudkan bersama. Amin.
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ : حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَالصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نِ الْمُصْطَفَى، أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الشُّرَفَا
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
H Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung.