0
News
    Home Featured Khotbah Jum'at Khutbah Jum'at Spesial

    Khutbah Jumat: Bahaya Keserakahan Manusia terhadap Alam - NU Online

    7 min read

     

    Khutbah Jumat: Bahaya Keserakahan Manusia terhadap Alam

    Rabu, 14 Januari 2026 | 14:39 WIB


    Ilustrasi banjir. (Foto: Freepik)

    Naif Adnan
    Khutbah I
    اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وعلى اله وأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أما بعد: فيايها الإخوان، أوصيكم و نفسي بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون، قال الله تعالى في القران الكريم: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمان الرحيم اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَۗصدق الله العظيم

    Sidang Jumat rahimakumullah
    Marilah kita meningkatkan ketakwaan kita terhadap Allah swt dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu dengan melakukan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Takwa bukan hanya ditentukan dari shalat, puasa, dan ibadah lainnya, melainkan juga perilaku kita terhadap saudara seiman kita, bahkan semesta alam sekitar kita.

    Pada kesempatan khutbah Jumat ini, khatib mengimbau jamaah semuanya untuk merenungkan suatu topik penting, bahaya keserakahan manusia terhadap alam

    Jamaah Jumat yang dilimpahi anugerah Allah swt
    Penciptaan alam yang indah ini oleh Allah swt dilakukan dengan keseimbangan serta keteraturan yang sempurna. Gunung, laut, hutan, sungai, hewan, serta tumbuhan diciptakan bukan secara sembarangan. Masing-masing memiliki fungsi khususnya sendiri bagi kelangsungan kehidupan.
    وَالسَّمَاۤءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيْزَانَۙ اَلَّا تَطْغَوْا فِى الْمِيْزَانِ

    Artinya: ’’Langit telah Dia tinggikan dan Dia telah menciptakan timbangan (keadilan dan keseimbangan), agar kamu tidak melampaui batas dalam timbangan itu.’’ (QS Ar Rahman: 7-8)

    Ayat di atas dengan jelas mengingatkan kita bahwa alam itu diciptakan secara seimbang. Namun sayangnya, sekarang alam yang seimbang itu sudah rusak bukan lagi karena kehendak alam melainkan karena adanya keserakahan manusia dalam mengelola alam. Keinginan manusia terhadap alam melampaui kebutuhannya, hanya karena ingin menumpuk harta atau mengejar keuntungan dengan tidak memperhitungkan dampak negatif dari eksplorasi alam secara berlebihan. Karena serakah, manusia membabat habis hutan, tanpa melakukan reboisasi, mencemari laut dan sungai dan udara. Semua dilakukan karena untuk mencari kesenangan dunia. Padahal, sudah diperingatkan oleh Allah swt melalui firman-Nya:
    اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَۗ

    Artinya: ’’Berbangga-bangga dalam memperbanyak (dunia) telah melalaikanmu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.’’ (QS At Takasur: 1-2)

    Allah swt juga telah memperingatkan pada ayat lain:
    ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

    Artinya:’’Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).’’ (QS Ar Rum: 41)

    Ayat ini bukan hanya informasi, melainkan pelajaran berharga bahwa kerusakan lingkungan disebabkan langsung oleh perbuatan manusia. Banjir, longsor, kekeringan, krisis air bersih, perubahan iklim, atau kerusakan ekosistem bukan hanya bencana alam semata, akan tetapi juga bencana moral. Nabi Muhammad saw juga mengingatkan sifat serakah manusia dalam sabdanya:
    لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ

    Artinya: “Jika anak Adam punya satu lembah emas, ia ingin dua.” (HR Muslim)

    Jamaah Jumat yang berbahagia
    Tidak ada ajaran agama mana pun yang menganjurkan manusia menjadi pelaku kezaliman, menjadi penguasa yang ambisius  atau serakah, berlaku sewenang-wenang di atas bumi. Ajaran Islam memperkenalkan konsep manusia sebagai khalifah (penjaga dan pengelola alam). Untuk menjadi khalifah berarti bahwa manusia harus mengelola alam dengan amanat, bukan mengeksploitasinya dengan serakah. Untuk menjadi khalifah, manusia menjadi pelindung, bukan merusak alam. Pohon yang dirobohkan baik ditebang atau dengan cara lainnya, Sungai dan laut yang dikotori dengan limbah sesungguhnya adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanat Allah swt. 

    Sidang Jumat rahimakumullah
    Untuk melawan sifat rakus dalam mengelola alam ini ada dua cara yang harus dilakukan. 
    Pertama, manusia harus memiliki sifat qana’ah. Dalam Kitab Maraq al-Ubudiyyah, Syarah Kitab Bidayat al-Hidayah karya Imam Al-Ghazali, Syekh Nawawi Al Bantani memberikan pesan bahwa:

    اَلْعَبْدُ حَرٌّ اِنْ قَنَعَ # وَالْحُرُّ عَبْدٌ اِنْ طَمَعَ

    Artinya: “Seorang hamba sahaya itu dinilai menjadi orang merdeka jika ia bersikap qana’ah (puas dan rida menerima apa adanya) dan orang yang merdeka dinilai sebagai budak jika ia bersikap tamak (rakus, merasa kurang terus).”
    فَاقْنَعْ وَلَا تَطْمَعْ فَمَا # شَيْءٌ يَشِيْنُ سِوَى الطَّمْعِ

    Artinya: “Maka bersikap qana’ah lah dan jangan tamak. Karena tidak ada sesuatu yang dapat memberi aib selain dari sifat tamak tadi.”

    Sifat qana’ah adalam lawan dari tamak, rakus atau serakah. Qana’ah berarti hidup sederhana tidak berlebihan dalam keinginan, mensyukuri apa yang sudah dimiliki dengan memanfaatkannya untuk kebaikan. Dalam hal mengelola alam ini, manusia cukup memanfaatkan sebatas kebutuhannya saja. Tidak melampaui batas karena Allah tidak menyukai perbuatan tersebut. Jika kita kaitkan dengan sembilan nilai moderasi beragama, maka harus ada nilai berimbang dalam menjaga alam. Jika kita menebang pohon, maka kita juga wajib juga menanam pohon penggantinya.


    Kedua adalah sikap sadar bahwa alam adalah amanat dan juga warisan bukan hanya untuk dinikmati saat ini. Kita harus ingat bahwa di belakang kita, di masa yang akan datang, ada anak dan cucu yang melanjutkan kehidupan. Sungguh celaka jika kita tidak sadar merusak alam dan meninggalkan bumi yang rusak dan hancur untuk kehidupan manusia selanjutnya. Kita harus menjadi generasi terbaik dalam menjaga dan mengelola alam. Kita juga harus sadar sebagai khalifah di muka bumi bahwa nanti di akhirat akan dimintai pertanggungjawabannya. Apa yang sudah kita perbuat dengan alam tentu akan mendapatkan balasan juga di akhirat.


    Semoga kita semua dianugerahi kekuatan oleh Allah untuk senantiasa terhindar dari sifat serakah. Demikian khutbah Jumat yang singkat ini, semoga bermanfaat.
    بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
    Khutbah II 
    اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
    أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
    اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ


    Naif AdnanDosen STAI Muslim Asia Afrika Tangsel, Pengurus MUI Ciputat Timur, Tangsel
    Komentar
    Additional JS