Khutbah Jumat: Mari Mulai Puasa Sunnah Rajab - NU Online
Khutbah Jumat: Mari Mulai Puasa Sunnah Rajab
NU Online · Selasa, 30 Desember 2025 | 16:00 WIB
Ilustrasi puasa. Sumber: Canva/NU OnlineKolomnis
Puasa adalah salah satu bentuk ibadah yang utama. Banyak sekali hadits maupun atsar (pendapat sahabat) tentang keutamaan dan keistimewaan puasa sunnah, tidak hanya puasa wajib, puasa sunnah juga merupakan ibadah yang sangat dianjurkan, terlebih di bulan-bulan yang dimuliakan. Sebagai seorang muslim, hal ini tentu menjadi sebuah kesempatan untuk bisa meraih keutamaan predikat ahli puasa.
Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul: “Mari Mulai Puasa Sunnah Rajab”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الدَّاعِي إِلَى طَاعَتِهِ، الْمُوَفِّقِ لِهِدَايَتِهِ، الَّذِي أَمَرَ عِبَادَهُ بِعِبَادَتِهِ وَبَيَّنَ لَهُمْ أَحْكَامَ شَرِيعَتِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ اعْتِقَادًا لِرُبُوبِيَّتِهِ، وَإِذْعَانًا لِجَلَالِهِ وَعَظَمَتِهِ وَصَمَدِيَّتِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمُصْطَفَى مِنْ خَلِيقَتِهِ، وَالْمُجْتَبَى مِنْ بَرِيَّتِهِ، صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوصِيكُمْ وَنَفْسِيَ الْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، كَمَا أَمَرَنَا فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ قَائِلًا: وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ، وَقَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah
Pada kesempatan yang mulia ini marilah kita bersama-sama meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala, dengan sebenar-benar takwa. Ketakwaan bukan hanya diwujudkan melalui ibadah ritual semata, tetapi juga dengan kesungguhan hati dalam menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, baik dalam keadaan terang-terangan maupun tersembunyi. Sebab, ketakwaan itulah sebaik-baik bekal hidup, yang akan mengantarkan seorang hamba kepada keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Baca Juga
Khutbah Jumat: 4 Permata dalam Diri Manusia dan yang Membinasakannya
Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah
Agama ini dibangun dengan dua aspek. Yang pertama adalah berusaha sekuat tenaga menjalankan seluruh perintah Allah Ta’ala, dan yang kedua adalah berusaha semaksimal mungkin untuk meninggalkan setiap bentuk larangan-larangan-Nya. Sebagaimana Imam Ghazali menjelaskan ini dalam kitabnya Bidayatul Hidayah halaman 51:
اِعْلَمْ أَنَّ لِلدِّينِ شَطْرَيْنِ، أَحَدُهُمَا: تَرْكُ الْمَنَاهِي، وَالْآخَرُ: فِعْلُ الطَّاعَاتِ.. وَتَرْكُ الْمَنَاهِي هُوَ الْأَشَدُّ؛ فَإِنَّ الطَّاعَاتِ يَقْدِرُ عَلَيْهَا كُلُّ وَاحِدٍ، وَتَرْكُ الشَّهَوَاتِ لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلَّا الصِّدِّيقُونَ
Artinya, "Ketahuilah bahwa agama memiliki dua bagian: pertama, meninggalkan hal-hal yang dilarang, dan kedua, melakukan ketaatan. Dan meninggalkan hal-hal yang dilarang adalah yang paling sulit; karena ketaatan dapat dilakukan oleh setiap orang, tetapi meninggalkan nafsu syahwat hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang sangat jujur (dalam iman)."
Dalam penjelasan Imam Ghazali tersebut, beliau tidak hanya menerangkan dua aspek utama dalam agama, yaitu menjalankan perintah Allah Ta’ala dan menjauhi larangan-Nya. Lebih dari itu, Imam Ghazali menegaskan bahwa meninggalkan larangan Allah sering kali terasa lebih berat dibandingkan dengan melaksanakan perintah-Nya.
Baca Juga
Khutbah Jumat: Lima Golongan yang Dikhawatirkan Su’ul Khatimah
Penegasan ini bukanlah sekadar asumsi Imam Ghazali. Hal tersebut berangkat dari pemahaman beliau terhadap sifat dasar manusia, yang pada dasarnya cenderung mengikuti keinginan hawa nafsunya.
Oleh karena itu, tugas penting kita sebagai seorang muslim adalah senantiasa berusaha, melatih diri, dan terus berjuang untuk melawan hawa nafsu yang ada dalam diri kita. Dalam hal ini, Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda:
الْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ السُّوءَ وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ هَوَاهُ
Artinya, "Orang yang hijrah adalah orang yang meninggalkan keburukan, dan orang yang berjihad adalah orang yang melawan hawa nafsunya." (HR Ibnu Majah)
Hadits ini menegaskan bahwa seseorang yang telah menyatakan diri berhijrah tidak sepatutnya hanya berfokus pada perubahan fisik serta bentuk-bentuk amalan lahiriah semata. Akan tetapi, hijrah sejati juga menuntut kesungguhan dalam melatih dan memperbaiki seluruh perilaku, baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah, agar senantiasa selaras dengan tuntunan syariat. Hal ini terutama penting dalam upaya mengendalikan dan melawan hawa nafsu.
Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah,
Dalam rangka melawan hawa nafsu, Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan berbagai tuntunan dan metode yang telah terbukti keampuhannya. Di antara cara yang paling efektif adalah dengan melaksanakan puasa. Puasa merupakan salah satu bentuk ibadah yang memiliki peran besar dalam mengekang dan menundukkan hawa nafsu. Sebagaimana sabda Nabi SAW:
وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ
Artinya: "Puasa adalah perisai. Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan bertengkar. Jika seseorang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: 'Aku sedang berpuasa’" (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam sabda Nabi tersebut ditegaskan bahwa puasa mampu membantu seseorang untuk menjadi lebih tenang, lebih sabar, serta berakhlak mulia. Dengan demikian, puasa berperan dalam membentuk karakter seorang Muslim yang kuat dan memiliki daya tahan dalam menghadapi berbagai godaan hawa nafsu, seperti berkata kotor, mencaci maki, bertengkar, dan perbuatan tercela lainnya.
Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah,
Selanjutnya, tidak sepantasnya seorang Muslim hanya mencukupkan diri dengan melaksanakan puasa Ramadan saja tanpa diiringi dengan puasa-puasa sunnah. Puasa sunnah merupakan salah satu bentuk ibadah yang dapat mengantarkan seorang hamba meraih derajat yang lebih tinggi di sisi Allah Ta’ala. Sebagaimana sabda Baginda Nabi Muhammad SAW:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ لَا يَدْخُلُهُ إِلَّا الصَّائِمُونَ
Artinya, "Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang disebut Rayyan, tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang-orang yang berpuasa." (HR. Muttafaq alaih)
Dalam sabda tersebut, Baginda Nabi Muhammad SAW tidak hanya memberikan janji istimewa berupa surga, namun juga memberikan isyarat bahwa orang-orang yang ahli dalam berpuasa akan memperoleh surga yang bersifat khusus, melalui pintu yang khusus, serta dengan kemuliaan dan keistimewaan yang khusus pula.
Bahkan, dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala menegaskan bahwa puasa merupakan ibadah yang memiliki keistimewaan tersendiri, dan hanya Allah Ta’ala yang langsung memberikan balasannya. Allah Ta’ala berfirman:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ
Artinya, “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari)
Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah,
Marilah kita bersama-sama melatih diri untuk melaksanakan ibadah puasa, tidak hanya puasa Ramadan, tetapi juga dengan membiasakan diri menjalankan puasa-puasa sunnah. Sudah sepatutnya kita sebagai umat Islam berupaya meraih berbagai keistimewaan yang telah Allah Ta’ala janjikan, dan jangan sampai kita termasuk golongan orang-orang yang menyesal karena lalai dalam mengindahkan perintah-perintah syariat-Nya yang begitu mulia.
Marilah kita renungkan bersama, bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita sering berusaha untuk tampil istimewa di hadapan keluarga, di tengah lingkungan masyarakat, di tempat kerja, dan di berbagai kesempatan lainnya. Namun, tidak jarang kita justru lalai untuk berusaha tampil istimewa sebagai seorang hamba di hadapan Allah Ta’ala, Tuhan semesta alam.
Oleh karena itu, selagi kita berada di bulan Rajab, salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, marilah kita bersama-sama memperbanyak upaya untuk meraih rida-Nya. Marilah kita bersungguh-sungguh memantaskan diri sebagai hamba di hadapan-Nya, di antaranya melalui ibadah puasa, yaitu salah satu ibadah yang memiliki kedudukan dan keutamaan yang sangat tinggi.
Sebagaimana sabda Baginda Nabi Muhammad SAW:
لِكُلِّ شَيْءٍ بَابٌ وَبَابُ الْعِبَادَةِ الصَّوْمُ
Artinya: "Setiap sesuatu memiliki pintu, dan pintu ibadah adalah puasa." (HR. Ibnu Mubarak)
Demikian khutbah singkat pada siang hari ini, semoga bermanfaat dan menumbuhkan semangat untuk kita memulai puasa-puasa sunnah. Aamiin ya rabbal alamin.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا، وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْمُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَطَاعَتِهِ، لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. فَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِ، إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ، إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْأَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ، عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا إِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
Ustadz Abdul Karim Malik, alumni Al-Falah Ploso Kediri, pengurus LBM PCNU Kabupaten Bekasi, dan pengajar di Pondok Pesantren YAPINK Tambun-Bekasi.