0
News
    Home Featured Isra Mi'raj Khotbah Jum'at Khutbah Jum'at Spesial

    Khutbah Jumat: Meneladani Peristiwa Isra Mikraj - Lirboyo net

    5 min read

     

    Khutbah Jumat: Meneladani Peristiwa Isra Mikraj

    Khutbah I

    اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ فِي سِيَرِ أَنْبِيَائِهِ زَادًا لِلْأَرْوَاحِ، وَنِبْرَاسًا لِلْعُقُوْلِ.  أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى هٰذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ محمد وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

    قال الله في كتابه الكريم: سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

    أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

    Hadirin Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,

    Setiap peristiwa dalam sirah Nabawiyah bukanlah sekadar dongeng sebelum tidur, melainkan sebuah “Madrasah Kehidupan” yang darinya kita sangat bisa meneladani kisah-kisah epik bertemakan spiritual, maupun romantisme bersama Tuhan. Hari ini, kita kembali mengenang mukjizat agung Isra’ Mi’raj. Sebuah perjalanan melampaui logika, menembus tujuh lapis langit menuju Sidratul Muntaha.

    Layaknya seorang musafir yang haus akan hikmah, mari kita petik tiga pelajaran besar dari perjalanan suci ini:

    1. Rumus Kehidupan: “Al-Minhah Ba’dal Mihnah” (Anugerah Setelah Ujian)

    Wahai saudaraku! Renungkanlah kondisi Rasulullah ﷺ sebelum peristiwa Isra’ terjadi. Beliau berada dalam titik terendah dalam hidupnya yang biasa kita kenal sebagai “Amul Huzni” (Tahun Kesedihan).

    • Beliau kehilangan Siti Khadijah, pelindung internalnya.
    • Beliau kehilangan Abu Thalib, pelindung eksternalnya.
    • Beliau dihina dan dilempari batu di Thaif hingga kaki mulianya berdarah.

    Nalar kemanusiaan mungkin berkata, “Semua sudah berakhir.” Namun, nalar ketuhanan menjawab dengan undangan ke langit.

    Pelajaran pentingnya adalah: Jangan berputus asa saat ujian bertubi-tubi menghampiri. Seringkali, Allah mempersempit duniamu hanya untuk mempersiapkan dirimu menerima pemberian-Nya yang lebih besar. Isra’ Mi’raj adalah pesan bahwa “puncak kesedihan adalah awal dari pertolongan”.

    Walaupun banyak ulama yang berpendapat bahwa mukjizat sebesar Isra’ Mi’raj tidak layak untuk kita sebut hadiah dari cobaan Allah kepada Nabi Muhammad, namun titik tekan pada cerita ini adalah selalu ada kemudahan setelah kesulitan.

    2. Ujian Keyakinan: Menjadi “Ash-Shiddiq” di Zaman Fitnah

    Saat Rasulullah ﷺ kembali dan menceritakan perjalanannya, banyak orang yang murtad karena logikanya tidak sampai. Namun, lihatlah Abu Bakar ra. Beliau tidak bertanya “bagaimana caranya?”, tapi beliau bertanya “apakah Muhammad yang mengatakannya?”. Jika iya, maka itu benar.

    Di sinilah letak ujian kita hari ini: Di era banjir informasi dan syubhat, apakah kita masih memiliki iman yang kokoh seperti Abu Bakar? Iman yang tidak goyah hanya karena tidak masuk di akal manusia yang terbatas. Ingatlah, tugas kita bukan memahami kekuasaan Allah dengan logika, tapi menundukkan logika di bawah keagungan Allah.

    3. Masjidil Aqsa: Amanah Iman, Bukan Sekadar Tanah

    Allah menghubungkan Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa dalam satu ayat (QS. Al-Isra: 1). Ini adalah proklamasi bahwa Palestina dan Al-Aqsa adalah bagian tak terpisahkan dari akidah kita.

    • Al-Aqsa adalah kiblat pertama umat Islam.
    • Al-Aqsa adalah tempat berkumpulnya para Nabi saat diimami oleh Rasulullah ﷺ.

    Menjaga kepedulian terhadap Al-Aqsa bukanlah pilihan politik, melainkan kewajiban iman. Jika kita mengaku mencintai Nabi yang melakukan Isra’, maka mustahil kita melupakan tempat beliau berpijak menuju langit.

    Mudah-mudahan lantaran berkah Isra’ Mi’raj, saudara-saudara kita di sekitar Al-Aqsa bisa kembali bergembira dan mendapatkan kehidupan yang layak seperti kita.

    بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.

    Khutbah II

    اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

    اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى هٰذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ محمد وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

    أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

    Hamba-hamba Allah yang Beriman,

    Dalam perjalanan Mi’raj, Rasulullah ﷺ diperlihatkan “layar lebar” kehidupan masa depan. Beliau melihat pemandangan yang seharusnya membuat kita belajar. Salah satu ceritanya adalah:

    1. Orang yang memukul kepalanya sendiri hingga hancur: Itulah mereka yang berat kepalanya untuk sujud melaksanakan shalat fardhu.
    2. Orang yang memakan daging busuk padahal ada daging segar: Itulah gambaran pezina dan pelaku maksiat yang meninggalkan yang halal demi yang haram.
    3. Para provokator (Khuthaba al-Fitnah): Yang lidahnya dipotong dengan gunting api karena sering memicu perpecahan dan bicara tanpa amal.

    Kesimpulan bagi kita: Isra’ Mi’raj adalah perjalanan untuk menjemput oleh-oleh teragung, yaitu Shalat. Jika Isra’ Mi’raj adalah sarana Nabi bertemu Allah, maka Shalat adalah sarana kita (Mirajul Mu’minin) untuk “bertemu” dan berkomunikasi dengan Allah setiap hari. Jangan ngaku cinta Nabi, jika shalat masih sering ditinggalkan.

    اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَانْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فِلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

    عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

    Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

    Komentar
    Additional JS