Khutbah Jumat: Peringatan Isra Mi’raj sebagai Momentum Memperbaiki Kualitas Shalat - NU Online
Khutbah Jumat: Peringatan Isra Mi’raj sebagai Momentum Memperbaiki Kualitas Shalat
NU Online · Rabu, 14 Januari 2026 | 15:00 WIB
Ilustrasi Isra' Mi'raj: Canva/NU Online
Kolomnis
Bulan Rajab adalah bulan yang mulia dan termasuk salah satu dari empat bulan haram. Pada bulan inilah Rasulullah Nabi Muhammad SAW mengalami peristiwa agung Isra Mi‘raj. Dalam peristiwa tersebut, Rasulullah SAW bertemu langsung dengan Allah SWT dan menerima perintah Shalat lima waktu sehari semalam sebagai kewajiban utama umat Islam.
Teks khutbah berikut ini berjudul: “Khutbah Jum’at: Peringatan Isra Mi’raj sebagai Momentum Memperbaiki Kualitas Shalat”. Jika ingin mencetaknya, silahkan klik fitur download berwarna merah yang ada pada bagian kanan atas naskah khutbah ini. Semoga bermanfaat!
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا بِشَهْرِ رَجَبَ، وَهُوَ الَّذِي اصْطَفَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُجْتَبَى الْمُؤَيَّدَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِي قَائِلَهَا يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا وَلَدٌ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمَبْعُوثُ إِلَى سَائِرِ الْأَعَاجِمِ وَالْعَرَبِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمَآبِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. فَقَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ: سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾. وَقَالَ تَعَالَى: حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
Hadirin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,
Baca Juga
Khutbah Jumat: 4 Permata dalam Diri Manusia dan yang Membinasakannya
Mengawali khutbah pada siang hari yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian. Marilah kita senantiasa berupaya meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Ketakwaan tersebut hendaknya diwujudkan dalam amal perbuatan yang nyata, yaitu dengan imtitsalu awamirillahi ta'ala wajtinabi nawahih, atau melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Sebab, kebahagiaan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat yang merupakan dambaan setiap insan tidak akan pernah dapat diraih kecuali dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya pada Surat Yunus ayat 63 sampai 64.
{الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ}
Artinya, "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung."
Hadirin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,
Baca Juga
Khutbah Jumat: Isra' Mi'raj, Perjalanan Anugerah Penuh Hikmah
Sebagaimana telah maklum bagi kita semua, salah satu peristiwa besar dan bersejarah yang terjadi pada bulan Rajab adalah peristiwa Isra dan Mi‘raj Nabi Muhammad SAW, yang menurut mayoritas ulama terjadi pada malam tanggal dua puluh tujuh bulan Rajab. Dalam perjalanan yang sangat istimewa tersebut, Rasulullah SAW mengalami berbagai peristiwa luar biasa. Dan pada puncaknya, beliau SAW berkesempatan menghadap dan bermunajat secara langsung kepada Allah SWT, Tuhan seluruh alam semesta.
Pada peristiwa itulah terjadi momen yang sangat krusial dalam sejarah Islam, yaitu diturunkannya perintah Shalat. Oleh karena itu, Shalat menempati kedudukan yang sangat istimewa di antara seluruh bentuk ibadah. Berbeda dengan kewajiban-kewajiban lainnya yang diturunkan Allah SWT melalui perantara Malaikat Jibril. Puasa, misalnya, diwajibkan melalui firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 183 dengan perantaraan Malaikat Jibril. Demikian pula kewajiban zakat, haji, dan berbagai ketentuan syariat lainnya, semuanya disampaikan melalui perantaraan Malaikat Jibril.
Adapun kewajiban Shalat, Allah SWT memanggil langsung Baginda Nabi Muhammad SAW untuk menghadap kepada-Nya, tanpa perantara, guna menerima perintah Shalat lima waktu. Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam kitab Fathul Bari jilid 7 halaman 216 menjelaskan:
وَفِي اخْتِصَاصِ فَرْضِيَّتِهَا بِلَيْلَةِ الإِسْرَاءِ إِشَارَةٌ إِلَى عَظِيمِ شَأْنِهَا، وَلِذَلِكَ اخْتُصَّ فَرْضُهَا بِكَوْنِهِ بِغَيْرِ وَاسِطَةٍ، بَلْ بِمُرَاجَعَاتٍ تَعَدَّدَتْ
Artinya, "Kewajiban Shalat yang secara khusus ditetapkan pada malam Isra dan Mi‘raj menunjukkan betapa agung dan mulianya kedudukan Shalat. Oleh karena itu, kewajibannya ditetapkan tanpa perantara malaikat, bahkan melalui beberapa kali dialog yang berulang."
Hadirin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,
Shalat merupakan ibadah yang paling mulia. Ia bukan sekadar rangkaian gerakan dan bacaan, melainkan sarana komunikasi langsung antara seorang hamba dengan Tuhannya. Ketika seorang mukmin menunaikan Shalat, pada hakikatnya ia sedang berdiri menghadap Allah SWT, bermunajat dengan kalam-Nya, serta menyerahkan seluruh urusan hidupnya hanya kepada-Nya. Oleh sebab itu, Shalat sering disebut sebagai Mi‘rajnya orang-orang beriman.
Dalam kitab Tafsir Al-Wasith juz 2 halaman 1080, Syekh Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan:
أَمَّا الصَّلَاةُ فَهِيَ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِ، وَصِلَةُ الْوَصْلِ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالِاسْتِمْتَاعُ بِالتَّوَجُّهِ نَحْوَ الذَّاتِ الْعَلِيَّةِ فِي أَوْقَاتٍ مُنْتَظِمَةٍ
Artinya: Adapun Shalat, maka ia adalah mi‘rajnya orang beriman, penghubung antara seorang hamba dengan Allah SWT, serta sarana menikmati kelezatan beribadah dengan menghadapkan diri kepada Zat Yang Mahatinggi pada waktu-waktu yang telah ditentukan.
Oleh karena itu, ketika melaksanakan Shalat, kita dituntut untuk benar-benar menghayati setiap bacaan dan gerakan yang kita lakukan. Pada saat itu, sesungguhnya kita sedang berhadapan dan bermunajat kepada Allah SWT, sebagaimana Rasulullah SAW bermunajat dan berkomunikasi langsung dengan Allah SWT pada peristiwa Mi‘raj.
Dalam sebuah hadis qudsi, Allah SWT menegaskan bahwa Shalat adalah media dialog antara Allah dan hamba-Nya. Ketika seorang hamba membaca Surah Al-Fatihah dalam Shalat, Allah SWT menjawab setiap ayat yang dibacanya.
Ketika hamba membaca:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Allah SWT berfirman: “Hamba-Ku telah memuji-Ku.”
Ketika membaca:
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Allah SWT berfirman: “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.”
Ketika membaca:
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Allah SWT berfirman: “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.”
Ketika membaca:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Allah SWT berfirman: “Ini adalah antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia mohonkan.”
Dan ketika membaca:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ. صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
Allah SWT berfirman: “Ini adalah milik hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”
(HR. Muslim)
Hadirin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,
Demikianlah khutbah singkat yang dapat khatib sampaikan pada kesempatan yang mulia ini. Semoga kita semua senantiasa diberikan hidayah dan kekuatan oleh Allah SWT untuk terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas Shalat kita. Aamiin, aamiin ya Rabbal 'alamin.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ،أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ،وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، سَيِّدُ الْإِنْسِ وَالْبَشَرِ،اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ. وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ، إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّد وَ عَلَى آل سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَ سَلَّمْتَ وَ بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيمَ وعلى آل سيدنا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَارْضَ اللهم عَنِ الخُلَفَاء الرَّاشِدِيْنَ سَادَاتِنَا اَبِي بَكْرٍ وعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَحَابَةِ والتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَ الْمُسْلِمِينَ وَ الْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُحِيبُ الدَّعْوَاتِ وَ قَاضِي الْحَاجَاتِ. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْهَدَيْتَنَا وَ هَبْلَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبَنَا غِلَّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ. رَبَّنَا هَبْلَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنِ وَ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَ إِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدُكُمْ وَ لَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ واللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Muhammad Zainul Mujahid, Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, kini mengabdi di Pondok Pesantren Manhalul Ma’arif Lombok Tengah.