0
News
    Home Featured Hari Syak Puasa Spesial

    Berpuasa pada Hari Syak, Hukumnya? -

    6 min read

     

    Berpuasa pada Hari Syak, Hukumnya?



    Bulan Sya’ban adalah bulan yang penuh berkah, yang mana kita Syariat memerintahkan kepada kita untuk melakukan dan memaksimalkan amal ibadah kita. Namun di hari-hari akhir bulan Sya’ban, ada suatu ibadah yang tidak boleh melakukannya, yaitu berpuasa. Hari itu sangat begitu populer di kalangan ulama dengan nama yaum asy-syak (hari keraguan).

    Tulisan kali ini akan ada penjelasan mengenai definisi hari syak, hukum berpuasa pada hari syak dan siapa saja yang boleh puasa pada hari itu.

    Baca juga: Menabur Bunga dan Menanam Tumbuhan di atas Kuburan, Bolehkah?

    Definisi hari syak

    Ulama sepakat bahwa definisi dari yaum asy-syak adalah:

    والمجموع يوم الشك هو يوم الثلاثين من شعبان[1]

    “Pendapat yang bersifat konsensus (oleh ulama) bahwa pengertian dari yaum asy-syak adalah hari ke-tiga puluh dari bulan Sya’ban”

    Baca juga: Kenapa Masih Ragu Ziarah Kubur? Ini Dalil dan Penjelasannya!

    Hukum Berpuasa Pada Hari Syak

    Menurut pendapat yang mu’tamad hukumnya adalah haram, sebagaimana keterangan dalam kitab I’ānat at-Thālibīn.

    وما ذكر من تحريم صوم يوم الشك، هو المعتمد في المذهب.

    “Sesuatu yang telah disebutkan tentang keharaman puasa pada hari syak—itu merupakan pendapat yang dijadikan pegangan dalam madzhab”

    Hal ini berdasarkan keterangan dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Sahabat ‘Ammar RA yang berupa:

    مَنْ صَامَ يَوْمَ الشَّكِّ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ ﷺ

    “Barangsiapa yang berpuasa pada hari syak maka sungguh ia mendurhakai Abu al-Qasim (Nabi Muhammad) Saw.

    Baca juga: Ziarah Kubur: Tradisi Umum di Nusantara

    Hukum berpuasa setelah tanggal 15 Sya’ban

    Larangan berpuasa itu tidak hanya terkhusus pada hari syak saja, melainkan pula setelah separuh akhir dari bulan Sya’ban. Hal ini seperti keterangan dalam kitab Minhāj at-Thālibīn karangan Imam an-Nawawī yang berupa:

    وَلَا تَخْتَصُّ الْحُرْمَةُ بِهِ بَلْ يَحْرُمُ صَوْمُ مَا بَعْدَ نِصْفِ شَعْبَانَ مَا لَمْ يَصِلْهُ بِمَا قَبْلَهُ أَوْ يَكُنْ لِسَبَبٍ مِمَّا يَأْتِي وَلَوْ أَفْطَرَ بَعْدَ صَوْمِهِ الْمُتَّصِلِ بِالنِّصْفِ امْتَنَعَ عَلَيْهِ الصَّوْمُ بَعْدَهُ بِلَا سَبَبٍ مِمَّا يَأْتِي لِزَوَالِ الِاتِّصَالِ الْمُجَوِّزِ لِصَوْمِهِ.

    “Keharaman tersebut tidak hanya terkhusus pada yaum asy-syak saja, melainkan haram juga berpuasa setelah separuh akhir bulan Sya’ban. Selama seseorang tersebut tidak melakukan puasa pada hari sebelum-sebelumnya. Namun seandainya seseorang berpuasa pada nishfu sya’ban (tanggal 15 Sya’ban) kemudian esoknya ia tidak berpuasa dengan tanpa ada sebab, maka setelah hari itu diharamkan baginya untuk berpuasa lagi. Karena hilangnya persambungan (antara Sya’ban dan Ramadhan) yang memperbolehkan baginya untuk berpuasa”

    Imam Ibnu Hajar al-Haitamī dalam kitab Tuhfat al-Muhtājnya menambahkan:

    وَأَفْهَمَ كَلَامُهُ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ صَوْمُهُ احْتِيَاطًا لِرَمَضَانَ.

    “Ungkapan Imam an-Nawawi yang demikian memberi pemahaman bahwa ketidak bolehan berpuasa pada hari itu (setelah separuh akhir bulan Sya’ban) karena berhati-hati akan datangnya bulan Ramadhan”.

    Siapa saja yang diperbolehkan puasa pada hari-hari itu?

    Syaikh Wahbah az-Zuhailī dalam karya momentalnya yang berupa kitab Fiqh al-Islamī wa Adillatuhu mengecualikan hukum haram bagi orang-orang seperti penjelasan di bawah ini:

    قال الشافعية: يحرم صوم النصف الأخير من شعبان الذي منه يوم الشك. إلا لوِرْد بأن اعتاد صوم الدهر أو صوم يوم وفطر يوم أو صوم يوم معين كالاثنين فصادف ما بعد النصف، أو نذر مستقر في ذمته، أو قضاء لنفل أو فرض، أو كفارة، أو وصل صوم ما بعد النصف بما قبله، ولو بيوم النصف [2]

    “Ulama madzhab Syafi’i berpendapat: haram berpuasa pada pertengahan akhir bulan Sya’ban, yang mana sebagian pada hari-hari itu termasuk dari yaum asy-syak. Kecuali orang yang (1) Puasa Dahr (puasa setahun penuh) (2) Puasa Dawud (sehari puasa sehari tidak) (3) Puasa senin kamis. (4) Puasa nadzar yang menetap dalam tanggungannya. (5) Puasa Qadla, baik sunah maupun wajib, dan (6) Puasa kafarat. Syarat diperbolehkannya puasa tersebut adalah sudah pernah berpuasa pada hari sebelumnya.”

    Referensi:

    Fath al-Qarib al-Mujib, hal. 139 Dar al-Ibnu Hazm.

    Tuhfat al-Muhtaj hal. 413 vol. 3 Dar Ihya at-Turats

    Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu hal, 1635 vol. 3

    I’ānat at-Thālibīn. Hal. 309 vol. 2 Dar al-Fikr.

    Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo


    Komentar
    Additional JS