Cahaya Islam di Persimpangan Laut Merah dan Tanduk Afrika - Tebuirengonline
Di titik di mana Laut Merah bertemu dengan Teluk Aden, terdapat sebuah gerbang kecil yang menjaga salah satu jalur perdagangan paling sibuk di dunia. Negara itu adalah Djibouti. Meskipun luas wilayahnya hanya sekitar dua pertiga Provinsi Jawa Barat, posisi geopolitiknya menjadikannya “permata” yang diperebutkan oleh kekuatan dunia. Namun, di balik bayang-bayang pangkalan militer asing dan kapal-kapal tanker raksasa, Djibouti adalah sebuah negeri Muslim yang menyimpan kedalaman spiritualitas, ketangguhan budaya, dan lanskap alam yang seolah berasal dari planet lain.
Bagi kita yang terbiasa dengan diskursus keislaman di Indonesia, menengok Djibouti adalah cara untuk memahami bagaimana Islam menjadi perekat identitas di tengah kerasnya alam Afrika Timur dan persaingan pengaruh global. Islam bukanlah agama baru di Djibouti. Sejarah mencatat bahwa ajaran ini masuk ke wilayah Tanduk Afrika tak lama setelah kenabian Muhammad SAW, dibawa oleh para sahabat yang melakukan hijrah pertama ke Abyssinia (sekarang Ethiopia). Sejak saat itu, Islam telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas etnis utama di sana, yaitu suku Somali (Issa) dan suku Afar.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Harmoni dan Keunikan Muslim Albania
Sekitar 94% hingga 96% penduduk Djibouti adalah Muslim Sunni yang mayoritas mengikuti Mazhab Syafi’i—sama seperti mayoritas Muslim di Indonesia. Kesamaan mazhab ini menciptakan rasa kedekatan emosional tersendiri. Di Djibouti, hukum keluarga dan praktik ibadah keseharian sangat kental dengan nuansa tradisional yang moderat. Masjid-masjid di ibu kota Djibouti City bukan hanya tempat salat, tetapi juga pusat kegiatan sosial di mana masyarakat berkumpul untuk bermusyawarah.
Salah satu kekuatan Islam di Djibouti adalah perannya sebagai pemersatu. Meskipun terdiri dari dua etnis besar yang secara historis memiliki persaingan, yaitu Issa dan Afar, Islam memberikan bahasa moral yang sama. Di dalam masjid, tidak ada sekat etnis; mereka berdiri dalam satu saf yang sama. Budaya lokal di Djibouti juga sangat menghormati tradisi lisan. Para ulama setempat sering menyampaikan dakwah melalui syair-syair yang indah, menggabungkan ajaran tauhid dengan kearifan lokal tentang menjaga kehormatan keluarga dan keramah-tamahan kepada tamu. Di negara yang suhunya bisa mencapai 40 derajat Celsius ini, air bukan hanya kebutuhan fisik, tetapi juga simbol keberkahan. Memberi minum kepada musafir adalah salah satu bentuk sedekah yang paling dijunjung tinggi oleh masyarakat Muslim Djibouti.
Baca Juga: Keturunan Persia di Madinah, Biografi Tiga Tokoh Besar Cucu Yazdajird
Sistem pendidikan Islam di Djibouti masih mempertahankan tradisi tradisional yang kuat di samping sekolah formal. Anak-anak Djibouti biasanya memulai hari mereka dengan pergi ke madrasah atau sekolah Al-Qur’an sebelum berangkat ke sekolah umum. Di sana, mereka menghafal ayat-ayat suci dengan metode talqin, yang menekankan pada kekuatan ingatan dan kefasihan pelafalan. Kemiripan dengan sistem pesantren di Indonesia terlihat dari bagaimana masyarakat sangat menghormati sosok Sheikh atau guru agama. Keputusan-keputusan sosial seringkali melibatkan pertimbangan dari para tokoh agama, memastikan bahwa modernisasi ekonomi yang sedang digalakkan pemerintah tidak mencerabut nilai-nilai religius yang telah mengakar selama berabad-abad.
Inilah sisi unik yang membedakan Djibouti dari negara Muslim lainnya di Afrika. Karena lokasinya yang sangat strategis di Selat Bab-el-Mandeb, Djibouti menjadi tuan rumah bagi pangkalan militer dari berbagai negara besar, termasuk Amerika Serikat, Prancis, Tiongkok, Jepang, dan Italia. Bagi warga Muslim setempat, keberadaan ribuan tentara asing ini menciptakan dinamika sosial yang unik. Di satu sisi, kehadiran mereka mendorong pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur. Di sisi lain, masyarakat Djibouti harus berjuang ekstra keras untuk mempertahankan nilai-nilai Islam dan budaya lokal agar tidak tergerus oleh pengaruh gaya hidup Barat yang dibawa oleh ekspatriat militer. Kontras antara menara masjid yang menjulang dengan kapal induk yang bersandar di pelabuhan adalah pemandangan sehari-hari yang merangkum posisi Djibouti sebagai titik temu peradaban.
Baca Juga: Mengenal Kitab Tafsir Kasyf Wa Al-Bayān Karya Al-Tha‘labī
Secara geografis, Djibouti memiliki sisi lain yang menakjubkan sekaligus menantang. Negara ini adalah rumah bagi Danau Assal, titik terendah di Afrika (155 meter di bawah permukaan laut) dan merupakan salah satu tempat terpanas di bumi. Danau ini dikelilingi oleh daratan garam putih yang luas dan gunung berapi yang sudah tidak aktif. Bagi penduduk Muslim di sekitarnya, lanskap yang eksotis ini adalah pengingat akan keagungan Allah SWT.
Para penambang garam tradisional, yang sebagian besar adalah warga lokal, bekerja di bawah panas mentari yang menyengat sambil terus melantunkan zikir. Kehidupan mereka adalah simbol ketabahan (sabar) dan kerja keras, dua pilar penting dalam etika kerja Islam. Melihat mereka bekerja di tengah hamparan garam yang berkilau di bawah matahari adalah pelajaran nyata tentang bagaimana iman memberi kekuatan untuk bertahan di lingkungan yang paling tidak ramah sekalipun.
Sisi lain yang patut dicatat adalah peran perempuan Muslim di Djibouti. Meskipun hidup dalam masyarakat yang patriarkal, perempuan Djibouti dikenal sangat aktif dalam sektor perdagangan informal. Di pasar-pasar, mereka bukan hanya pedagang, tetapi juga penjaga tradisi. Mereka menggunakan pakaian tradisional berwarna cerah yang disebut Dirac dengan penutup kepala yang khas. Perempuan di Djibouti juga menjadi penggerak utama dalam upacara-upacara keagamaan di tingkat keluarga, seperti peringatan Maulid Nabi atau doa bersama. Mereka memastikan bahwa nilai-nilai keislaman diteruskan kepada generasi berikutnya melalui cerita-cerita pahlawan Islam dan pengajaran akhlak di rumah.
Baca Juga: Kota Gurun yang Melahirkan Para Penjaga Kalam Ilahi
Tentu saja, Djibouti tidak bebas dari masalah. Meskipun menjadi pusat logistik dunia, tingkat pengangguran dan kemiskinan di kalangan warga lokal masih cukup tinggi. Hal ini menjadi tantangan bagi para pemimpin agama dan pemerintah untuk memastikan bahwa kekayaan yang datang dari pelabuhan internasional juga menetes ke bawah, kepada rakyat yang membutuhkan. Prinsip keadilan sosial dalam Islam menjadi isu sentral yang sering diangkat dalam khutbah-khutbah Jumat di sana, mendorong pemerintah untuk lebih memperhatikan kesejahteraan umat.
Mengenal Djibouti adalah belajar tentang bagaimana sebuah bangsa Muslim kecil mampu berdiri tegak di tengah pusaran kepentingan global. Mereka mengajarkan kita bahwa ukuran wilayah bukanlah penentu pengaruh, dan bahwa iman yang kuat mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa harus kehilangan jati diri.
Djibouti adalah pengingat bahwa ukhuwah Islamiyah melampaui batas-batas ekonomi dan politik. Di sana, di antara debu gurun dan birunya Laut Merah, saudara-saudara kita tetap teguh bersujud, menjaga cahaya Islam tetap menyala di salah satu sudut paling strategis di muka bumi. Semoga semangat mereka dalam menjaga harmoni dan identitas bisa menjadi inspirasi bagi kita di Indonesia untuk terus merawat keislaman yang ramah dan berdaya.
Penulis: Anik Wulansari
Editor: Rara Zarary
