Di Balik Suara Tabuhan Dlugdag, Tradisi Keraton Kasepuhan Cirebon Menyambut Ramadhan - Republika
Di Balik Suara Tabuhan Dlugdag, Tradisi Keraton Kasepuhan Cirebon Menyambut Ramadhan
REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON – Suara bedug terdengar bertalu-talu dari Langgar Agung Keraton Kasepuhan Cirebon, Rabu (18/2/2026) sore. Suara bedug itu tak terdengar seperti biasanya. Kali ini, bunyinya punya simbol istimewa khususnya bagi umat Islam.
Suara bedug yang terdengar memiliki irama tertentu itu dikenal dengan istilah dlugdag atau drugdag. Sebuah tradisi yang dilakukan Keraton Kasepuhan Cirebon dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
Tradisi tahunan tersebut berfungsi sebagai pengumuman bahwa besok umat Islam sudah harus mulai berpuasa. Penabuhan bedug itu juga sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur akan hadirnya bulan penuh berkah dan ampunan.
Meski menabuh bedug dalam tradisi Dlugdag terlihat mudah, namun tidak semua orang bisa menabuhnya. Pasalnya, alunan nada dari tabuh bedug tersebut memiliki makna tersendiri.

Penghulu Masjid Agung Sang Ciptarasa, KH Jumhur, menjelaskan, pemukulan bedug dalam tradisi Dlugdag memiliki makna filosofis yang mendalam.
“Pemukulan bedug itu sebagai pemberitahuan kepada masyarakat bahwa esok hari mulai melaksanakan ibadah puasa. Mengapa dilakukan saat waktu Ashar? Karena dalam penanggalan Hijriah, pergantian tanggal dimulai sejak terbenamnya matahari. Jadi ketika matahari terbenam, itulah masuk tanggal satu Ramadhan,”kata dia.
Ia menegaskan, penetapan awal puasa tetap berlandaskan ajaran Rasulullah SAW, yakni dengan melihat hilal.“Kita mengikuti apa yang disampaikan Rasul, berpuasalah ketika melihat hilal dan berhari raya ketika melihatnya. Di keraton, semuanya berlandaskan Alquran dan ajaran Rasulullah,”kata dia.
Halaman 2 / 2
KH Jumhur memaparkan filosofi irama tabuhan bedug yang terdiri dari tiga bagian. Tabuhan pertama melambangkan kalimat tauhid Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah.
Tabuhan kedua dimaknai dengan seruan Allah, Allah, Allah. Sedangkan tabuhan ketiga mengandung makna tasbih dan ketakwaan, seperti kalimat Subhanallah dan Alhamdulillah.
Patih Sepuh Keraton Kasepuhan Cirebon, PR Goemelar Soeryadiningrat, mengungkapkan, bulan suci Ramadhan disambut dengan rasa syukur dan suka cita oleh seluruh keluarga besar keraton maupun masyarakat.
“Kita sebagai Muslim menyambut dengan penuh gembira datangnya bulan suci, yang penuh berkah dan ampunan. Di Keraton Kasepuhan ada karakteristik memukul bedug sebagai penanda. Kemarin juga ada masyarakat yang menyambut dengan pawai obor keliling bersama-sama, menandakan kita menyambut dengan sukacita,” ujar Goemelar, di sela penabuhan bedug.
Tak hanya tradisi dlugdag, lanjut Goemelar, Keraton Kasepuhan Cirebon juga menggelar berbagai tradisi lainnya yang sudah berlangsung setiap Ramadhan. Di antaranya, tadarus Alquran dan sholat tarawih di Langgar Alit hingga akhir bulan puasa.
“Alhamdulillah setiap bulan puasa kita mengadakan tadarusan atau mengaji setelah shalat tarawih di Langgar Alit sampai selesai hingga akhir Ramadhan,”kata dia.