0
News
    Home Berita Featured Spesial

    Ini Janji Allah yang Paling Pasti, tapi Paling Sering Kita Abaikan - Tebuireng Online

    4 min read

     

    Ini Janji Allah yang Paling Pasti, tapi Paling Sering Kita Abaikan


    ilustrasi

    Kematian adalah salah satu janji Allah yang pasti terhadap hamba-hambaNya yang bernyawa. Bukan hanya sekedar peristiwa biologis yang berupa berhentinya semua fungsi organ tubuh, melainkan juga transisi dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat. Meskipun begitu, kematian yang bersifat pasti ini seringkali terlupakan oleh kita, karena telah tersingkirkan oleh kehidupan yang serba modern yang serba instan, serta tuntutan capaian material.

    Dalam perspektif teologi Islam, melupakan kematian berpotensi akan melahirkan krisis makna. Ketika kehidupan dunia kita posisikan sebagai tujuan akhir, maka kita akan  mudah terjebak pada perilaku eksploitatif, kompetisi yang tidak sehat, serta pengabaian nilai-nilai transendental. Sebaliknya, ketika kita menyadari akan kematian justru memperkuat orientasi tauhid, bahwa seluruh aktivitas hidupnya akan bermuara pada pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Secara ekspilit, Al-Quran menegaskan kepastian tentang kematian melalui firman Allah S.W.T:

    …كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ….

    Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian” (Q.S. Ali ‘Imran: 185)

    Ayat ini tidak hanya bersifat informatif tetapi juga bersifat normatif yang berarti mengandung tuntutan agar kita dapat menjadikan kematian. Sebagian landasan untuk terus hidup dengan memperbanyak amal baik dalam menjalani kehidupan. Sehingga adanya kematian dapat menjadi pelajaran bagi kita untuk membentuk orienatsi hidup, baik dalam aspek spiritual, sosial maupul moral.

    Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

    Data demografis global menunjukkan bahwa puluhan juta manusia meninggal dunia setiap tahunnya akibat berbagai sebab, mulai dari penyakit degeneratif, kecelakaan, hingga faktor usia. Fakta ini menegaskan bahwa kematian merupakan fenomena universal yang tidak mengenal batas geografis, status sosial, maupun tingkat pendidikan. Namun, ironi muncul ketika kepastian akan kematian tersebut justru jarang kita jadikan bahan refleksi eksistensial dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

    Islam memberikan kesadaaran kepada kita akan kematian yang berperan sebagai elemen fundamental dalam setiap pembentukan kepribadian. Rasulullah S.A.W bersabda:

    Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (yaitu kematian)” (HR. Tirmidzi).

    Hadis ini menunjukkan bahwa ketika kita meengingat kematian itu bukanlah sikap pesimis, melainkan untuk menjaga keseimbangan hidup. Dengan mengingat kematian, ada dorongan dalam diri kita untuk bersikap rendah hati, selalu beramaliyah yang baik, dan selalu taat beribadah kepada Allah.

    Jika kita menyadari bahwa kematian itu pasti akan datang, ini juga berimplikasi pada etika sosial. Ketika kita mneyadari akan kehidupan yang terbatas ini maka kita lebih cenderung akan lebih bertanggung jawab dalam bertindak dan bertutur kata, berusaha untuk adil dalam bersikap, dan lebih peduli terhadap sesama.

    Maka hal ini sejalan dengan hadits Rasulullah S.A.W diriwayatkan oleh Imam Muslim yang meyatakan bahwa setelah kematian, semua amal manusia akan terputus kecuali tigal hal; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang saleh. Dalam hadis ini pun memberikan pemahaman yang konseptual bahwa nilai kehidpan manusia bukan dari akumulasi kepemilikan material tetapi di ukur dari keberlanjutan manfaatnya. Yang bertahan bukan jabatan, bukan popularitas dan juga bukan seberapa banyak saldo rekening yang kita punya, melainkan manfaat apa yang telah kita berikan selama menapaki kehidupan. Ini tentang apa saja yang kita tinggalkan bukan apa saja yang kita miliki.

    Kita menghadirkan kesadaran akan kematian ini bukan berarti kita berhenti untuk meraih mimpi dan cita-cita, justru kematian itu membuat mimpi dan cita-cita itu lebih bermakna. Kita boleh bekerja keras, bercita0cita tinggi dan menikmati hidup, tapi dengan satu rem penting yakni kesadaran bahwa itu semua hanya titipan.

    Pada akhirnya, mengingat mati bukan untuk membuat hidup terasa suram, tapi justru supaya kita tidak hidup asal-asalan. Kesadaran bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati seharusnya membuat kita lebih hati-hati dalam melangkah, lebih jujur dalam bersikap, dan lebih ringan tangan dalam berbuat baik. Hidup boleh sibuk, mimpi boleh tinggi, tapi jangan sampai kita lupa arah pulang. Sebab yang benar-benar akan kita bawa bukan seberapa hebat kita di dunia, melainkan seberapa bermakna keberadaan kita bagi sesama dan seberapa siap kita ketika saat kematian itu tiba. Dari sinilah, kita belajar menata niat, memilih yang benar-benar penting, dan tidak terlalu larut pada hal-hal yang hanya bersifat sementara.


    Penulis: Nabila Rahayu

    Editor: Sutan

    Komentar
    Additional JS