Khobhung, Bedug, Diba’, dan Sahur On The Road di Era Digital: Wajah Ramadhan Nahdliyin sebagai Komunitas Kultural Berjejaring - PCNU Pamekasan
Prof. Dr. H. Atiqullah, S.Ag., M.PdGuru Besar bidang Kepemiminan, Direktur Pascasarjana dan Kader NU
Ramadhan di Madura tidak pernah sunyi. Sejak malam pertama, suara bedug bertalu dari khobhung—surau kecil di sudut kampung—menandai datangnya bulan suci. Lampu-lampu menyala lebih lama, anak-anak berlarian membawa mushaf, dan para orang tua bersiap menuju langgar untuk tarawih. Di situlah wajah Ramadhan masyarakat Nahdliyin Madura menemukan bentuknya: hangat, komunal, dan sarat makna kultural.
Namun hari ini, suasana itu juga ditemani cahaya layar ponsel. Jadwal imsakiyah tidak lagi hanya ditempel di papan pengumuman, tetapi dibagikan melalui grup WhatsApp jamaah. Pengumuman kultum tarawih tidak hanya disampaikan lewat pengeras suara, tetapi juga melalui poster digital yang beredar di media sosial. Ramadhan tetap ramai, tetapi kini ia juga berjejaring.
Bagi warga Nahdlatul Ulama, Ramadhan bukan hanya momentum ibadah personal, melainkan peristiwa sosial yang menyatukan ruang spiritual dan ruang budaya. Khobhung bukan sekadar bangunan sederhana; ia adalah pusat gravitasi religius kampung. Di sanalah tarawih 23 rakaat ditegakkan, tadarus dilantunkan hingga larut malam, dan diskusi ringan tentang agama berlangsung selepas witir. Kini, sebagian kultum bahkan direkam dan diunggah ke YouTube, menjadikan khobhung tidak hanya ruang lokal, tetapi juga simpul dakwah digital.
Dalam perspektif sosiologi agama, ruang ibadah tradisional seperti khobhung berfungsi lebih dari sekadar tempat ritual; ia adalah arena pembentukan solidaritas sosial. Relasi kiai-kampung, santri, dan masyarakat terjalin secara cair. Anak-anak belajar adab, remaja belajar kepemimpinan melalui jadwal bilal dan kultum, sementara orang tua memperkuat jejaring sosial. Di era digital, jejaring itu meluas—jamaah yang merantau tetap terhubung dengan kampung halaman melalui siaran langsung tarawih atau foto-foto kegiatan Ramadhan yang dibagikan secara daring.
Ramadhan mempertegas fungsi itu. Intensitas pertemuan meningkat, interaksi sosial makin padat, dan identitas kolektif sebagai warga NU semakin terasa. Namun kini identitas itu juga tampil dalam ruang digital: tagar Ramadhan, kutipan Diba’ dalam desain grafis Instagram, hingga dokumentasi khataman Al-Qur’an yang dibagikan lintas daerah. NU hidup bukan hanya dalam struktur organisasi, tetapi dalam praktik keseharian—baik di surau kampung maupun di ruang virtual.
Bagi sebagian orang, bedug mungkin dianggap sekadar alat tradisional. Namun di Madura, dentangnya tetap menjadi tanda hidupnya komunitas. Meski demikian, fungsi penanda waktu kini berbagi ruang dengan notifikasi adzan di ponsel dan aplikasi pengingat salat. Bedug tetap ditabuh, tetapi alarm digital ikut berbunyi. Tradisi tidak tergantikan, melainkan berdampingan.
Begitu pula pembacaan Diba’ atau maulid di sela-sela Ramadhan. Lantunan shalawat tetap menggema di khobhung, tetapi kini juga disiarkan secara live streaming. Generasi muda merekamnya, mengunggah potongan shalawat ke media sosial, bahkan menjadikannya konten dakwah kreatif. Spiritualitas tidak lagi hanya dialami, tetapi juga didistribusikan. Tantangannya adalah menjaga agar ekspresi digital itu tetap berakar pada mahabbah, bukan sekadar performativitas.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kesalehan masyarakat NU Madura bersifat integratif: menggabungkan fiqh, tasawuf, dan tradisi lokal dalam satu napas. Di era digital, integrasi itu meluas menjadi hibrid—perpaduan antara kehadiran fisik dan konektivitas virtual. Puasa tidak memutus relasi sosial; justru memperluasnya melalui jejaring daring.
Sahur On The Road menjadi contoh menarik. Dulu ia sekadar keliling kampung membangunkan warga dengan kentongan atau pengeras suara sederhana. Kini, kegiatan itu sering didokumentasikan, diberi tema, bahkan diunggah dengan tagar tertentu. Sebagian melihatnya sebagai gaya hidup, tetapi ia juga bentuk adaptasi tradisi. Nilai kebersamaan tetap dijaga, meski medium dan estetikanya berubah.
Di sinilah mobilitas religius masyarakat NU Madura tampak jelas. Mobilitas itu bukan hanya perjalanan fisik—umrah, studi, atau dakwah lintas daerah—melainkan juga mobilitas simbolik dan digital. Tradisi bergerak, bernegosiasi dengan modernitas, namun tidak tercerabut dari akar.
Ramadhan ala Nahdliyin Madura tetap menjadi proses pembentukan karakter profetik kolektif. Puasa melatih kesabaran, tarawih melatih disiplin jamaah, tadarus melatih kecintaan pada Al-Qur’an, sementara tradisi komunal melatih empati sosial. Bedanya, kini sedekah bisa dilakukan melalui transfer digital, zakat dibayar lewat aplikasi, dan penggalangan dana kemanusiaan berlangsung secara daring. Solidaritas tidak berkurang; ia menemukan medium baru.
Di tengah arus individualisme dan digitalisasi, model keberagamaan seperti ini justru semakin relevan. Islam tidak hanya hadir di layar gawai, tetapi juga dalam tatap muka, senyum, dan gotong royong. Tantangannya adalah menjaga keseimbangan: agar koneksi digital tidak menggantikan perjumpaan fisik, dan agar konten religius tidak mengalahkan kedalaman makna.
Khobhung mungkin sederhana, bedug mungkin tradisional, dan Diba’ mungkin dianggap kuno oleh sebagian kalangan. Namun kini semuanya hidup dalam dua dunia: dunia nyata dan dunia digital. Ramadhan menjadi panggung di mana simpul-simpul identitas itu dirajut ulang—bukan untuk ditinggalkan, melainkan untuk diperluas. Akhirnya, wajah Ramadhan masyarakat NU Madura hari ini adalah wajah komunitas kultural yang berjejaring. Dari khobhung kampung hingga live streaming, dari bedug hingga notifikasi adzan, dari sahur keliling hingga unggahan media sosial—semuanya membentuk mozaik kesalehan yang membumi sekaligus terkoneksi. Inilah Ramadhan hibrid: tetap hangat, tetap komunal, tetapi juga adaptif terhadap zaman.