0
News
    Home Featured Kisah Spesial Ummu Sulaim

    Kisah Ummu Sulaim yang Berhasil Menjadi Rumah bagi Suaminya -

    6 min read

      

    Kisah Ummu Sulaim yang Berhasil Menjadi Rumah bagi Suaminya

    Malam sering kali menjadi saksi paling jujur dari kegelisahan rumah tangga. Ketika lelaki pulang larut tanpa alasan jelas, dan wanita menatap jam dinding tanpa daya, dua hati yang seharusnya bersatu justru semakin jauh, meski tinggal di bawah atap yang sama.

    Baca juga: Ayat Shalawat Turun di Bulan Sya’ban: Ini Penjelasan Lengkap Ulama

    Realitas sosial: Banyak yang gagal dalam menjalin hubungan

    Mayoritas perceraian tak pernah lahir dari satu peristiwa besar, melainkan dari ribuan percakapan yang gagal, dari ribuan tatapan yang tak lagi saling meneduhkan. Suami tidak bisa berbicara, istri tidak lagi mau mendengar. Maka yang tersisa hanyalah diam.

    “Suami sering keluar malam.” Mungkin ini salah satu keluhan beribu-ribu istri di muka bumi.

    Tak dijelaskan ke mana ia pergi, apa yang dilakukan, atau siapa yang menemaninya. Namun bagi sang istri, setiap langkah suami yang menjauh di malam hari terasa seperti bukti bahwa rumah tak lagi menjadi tempat yang ingin ia pulang.

    Sementara di sisi lain, ada alasan yang jarang ia utarakan dengan jujur: mungkin, rumah itu memang tak lagi menenangkan.

    Bukan karena miskin harta, tapi miskin sambutan. Tak ada lagi senyum yang menunggu di pintu, tak ada aroma masakan kesukaan, tak ada obrolan ringan yang dulu membuat waktu terasa cepat berlalu. Yang ada hanya wajah lelah, nada tinggi, dan keluhan yang menumpuk.

    Baca juga: Saat Langit Menjawab Doa Nabi: Kisah Agung Perpindahan Kiblat di Bulan Sya’ban

    Ummu Sulaim: Muslimah dengan Ribuan Perhatian kepada Suaminya

    Wahai Muslimah Indonesia, angkatlah pandanganmu pada bintang yang bersinar paling terang di Madinah ribuan tahun lalu, ialah Rumaisha binti Malhan, yang kita kenal sebagai Ummu Sulaim—ibunda dari sahabat mulia, Anas bin Malik. Kisahnya bukan sekadar catatan sejarah, melainkan sebuah peta jalan tentang bagaimana seorang istri seharusnya memprioritaskan kehormatan dan kenyamanan suaminya. Bahkan di tengah badai duka yang paling menghancurkan.

    Baca juga: Inilah Syarat-Syarat Agar Sebuah Peristiwa Dinamai Mukjizat

    Sabar, meskipun berbagai cobaan menerpa

    Suaminya, Abu Thalhah, seorang saudagar kaya yang mengarungi padang pasir menuju Syam dan Mesir, meninggalkan rumah dalam keadaan putranya yang masih balita terbaring sakit keras. Takdir Ilahi berkehendak lain; di saat Abu Thalhah hampir kembali, nyawa sang putra tercinta telah kembali kepada Pemiliknya. Duka itu menyeruak, merobek batin Ummu Sulaim. Namun, dalam keheningan rumah yang berbau kesedihan, wanita agung ini membuat keputusan yang mengubah dukanya menjadi kemuliaan abadi. Ia menepis isak tangis, menyeka air mata, dan memilih untuk tidak egois dalam kesedihan.

    Ia segera bersiap. Bukan untuk menghadiri pemakaman atau meratapi nasib, melainkan untuk menyambut panglimanya yang kembali dari medan jihad ekonomi. Ia berhias secantik mungkin, mengenakan wewangian terbaik yang ia miliki—semuanya untuk satu laki-laki yang paling berhak atas kecantikannya. Sungguh ia tidak pernah berdandan secantik ini sebelumnya.

    Baca juga: Kisah Tsa’labah bin Hatib: Ketika Kaya Justru Menjauhkan dari Agama

    Sikap dan dialog yang penuh makna

    Ia hidangkan santapan terlezat, dan menyambut Abu Thalhah dengan senyum riang tanpa gurat kesedihan sedikit pun. Ketika suaminya bertanya tentang keadaan sang anak, dengan hati yang teguh dan lidah yang bijaksana, Ummu Sulaim menjawab: “Ia sedang tidur nyenyak.” Malam itu, ia memastikan suaminya mendapatkan segala haknya: kenyamanan hidangan, kehangatan perbincangan, dan kemesraan dalam ikatan suci hubungan biologis. Ia menunaikan semua itu, sementara ia memanggul sendiri beban jenazah anaknya di lubuk hatinya.

    Setelah suaminya kenyang dan jiwanya tentram, Ummu Sulaim melancarkan strategi hikmahnya. Ia bertanya. “Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu jika ada seseorang yang dititipi sesuatu, lalu suatu saat pemilik titipan itu mengambil kembali haknya?” Abu Thalhah, dengan ringan menjawab. “Ia wajib rela!” Seketika, Ummu Sulaim mengukirkan kalimat bersejarah. “Wahai Abu Thalhah, anak kita yang dititipkan Allah Ta’ala kepada kita telah diambil-Nya…”

    Meskipun Abu Thalhah sempat terkejut dan kesal karena merasa “ditipu” oleh kebisuan istrinya, ia segera mengadu kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Rasulullah, Sang Pemimpin Agung, bukannya mencela, justru mendoakan secara khusus atas hubungan badan mereka semalam! “Semoga di rahim Ummu Sulaim ditumbuhkan anak yang mulia dari hubungan badan kalian semalam…”

    Lihatlah, Muslimah! Barakah dari kesabaran yang strategis, pengorbanan diri, dan mendahulukan hak suami di atas duka pribadi, menghasilkan doa Nabi yang paling mustajab. Dari rahim Ummu Sulaim lahirlah Abdullah bin Abu Thalhah, yang kelak menjadi ayah dari sembilan orang putra yang semuanya adalah ahli Al-Qur’an dan penyebar dakwah di berbagai wilayah.

    Kisah ini adalah bukti nyata: Seorang istri yang mampu menjadikan dirinya “rumah” yang penuh kedamaian dan ketaatan akan menerima balasan yang tidak hanya bersifat materi, tetapi juga kemuliaan keturunan dan keberkahan yang tiada tara. Jadilah Ummu Sulaim, jadilah rumah yang teduh bagi suamimu, dan Barakah Allah akan melingkupimu! Bismillah.

    Referensi:

    Abu Nu’aym Aḥmad bin ‘Abdullāh al-Aṣbahānī, Ḥilyat al-Awliyā’ wa Ṭabaqāt al-Aṣfiyā’, Juz 2, hlm. 58. Mesir: Maṭbaat as-Sa‘ādah, cet. 1394 H / 1974 M.

    Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo


    Komentar
    Additional JS