0
News
    Home Featured Jejak Sejarah Madiun Sejarah Spesial

    Mengulik Jejak Islam di Masjid Tertua Kota Madiun, Miliki Dua Sendang Juga Jam Matahari dari Batu / Madiun Today

    3 min read

     

    Mengulik Jejak Islam di Masjid Tertua Kota Madiun, Miliki Dua Sendang Juga Jam Matahari dari Batu


    MADIUN – Nama Masjid Kuno Kuncen sudah melekat bagi masyarakat Kota Madiun. Masjid yang kini bernama Nur Hidayatullah itu diyakini sebagai masjid tertua di Kota Pendekar. Tak ayal, keberadaan masjid sarat akan nilai historis jejak awal penyebaran Islam sekaligus pemerintahan. Tak heran, Pemerintah Kota Madiun serius menjadikan Masjid Kuncen sebagai salah satu destinasi wisata religi di Kota Pendekar. 


    Masjid Kuno Kuncen diprediksi sudah ada sejak abad ke-16. Tepatnya pada masa pemerintahan Pangeran Timur atau Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno, Bupati Madiun pertama yang menjabat pada tahun 1568 hingga 1586. Sebagai muslim yang taat, Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno tak hanya memimpin pemerintahan. Namun, juga berdakwah menyebarkan Agama Islam. 


    ‘’Sebagai pemimpin sekaligus pendakwah, masjid tentu merupakan fasilitas penting. Karenanya, diyakini pembangunan masjid juga pada era kepemimpinan beliau,’’ kata Ketua Historia Van Madioen Septian Dwita Kharisma, Rabu (11/2).


    Septian menyebut ada banyak jejak peninggalan sejarah di dalam maupun luar masjid. Salah satunya, jam matahari berbahan batu. Jam itu masih ada sampai saat ini. Jam seperti itu lazim digunakan untuk menentukan waktu salat pada zaman dulu. Selain itu, juga ada batu berbentuk kotak yang merupakan dudukan arca. Keberadaan masjid memang masih terpengaruh peradapan Hindu-Budha. Hal itu juga dibuktikan dengan penggunaan atap Tajug berbentuk limas bujur sangkar yang bersusun tiga. Itu mengadopsi gaya arsitektur meru dari era Hindu-Buddha. Sementara, masjid khas Timur Tengah menggunakan kubah. 


    ‘’Di sana juga ada gentong bertuliskan 1283 hijriah menggunakan huruf arab gundul. Jika dimasehikan berarti tahun 1860. Memang jauh dari waktu pembangunan. Tetapi setidaknya membuktikan jika masjid itu sudah cukup tua,’’ ungkapnya. 


    Masjid Kuno Kuncen ini juga identik dengan keberadaan sendang. Septian menyebut terdapat dua sendang. Yakni, Toyo Sepuh dan Toyo Madiun. Toyo Sepuh berada di barat masjid masuk di kawasan makam. Sedang, Toyo Madiun berada lebih ke utara. Sayangnya, kini hanya tinggal Sendang Toyo Madiun yang masih menyimpan air dan dikeramatkan masyarakat. 


    ‘’Hal itu juga membuktikan adanya peradapan Hindu-Budha yang eksis di kawasan itu sebelum Islam. Karena sendang merupakan tempat suci era Hindu-Budha,’’ ujar alumnus Pendidikan Sejarah Unimpa itu.


    Septian menyebut Masjid Kuno Kuncen sudah sangat pas untuk wisata religi. Namun, tentu ada banyak yang harus dioptimalkan. Salah satunya, peningkatan ekosistem pendukung seperti perbaikan dan perluasan joglo, perbaikan akses jalan, dan lainnya. Selain itu juga perlu adanya keterbukaan dan kelengkapan informasi. Seperti identifikasi makam-makam, tata cara berziarah, hingga tour guide.


    ‘’Di sana tidak hanya makam-makam pemimpin. Tetapi juga ada makam sastrawan dan lainnya. Eyangnya Ira dan Ari Wibowo juga dimakamkan di sana,’’ pungkasnya. (ws hendro/agi/madiuntoday)


    Komentar
    Additional JS