Menuju Ramadhan di Tengah Lesunya Daya Beli, Pedagang Lasem Bertahan - NU Online
Rembang, NU Online
Kenaikan harga bahan baku menjelang Ramadhan mulai dirasakan pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM), khususnya pedagang kaki lima di wilayah Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Kondisi tersebut berdampak pada penyesuaian harga jual dan penurunan omzet di tengah melemahnya daya beli masyarakat.
Didin, pedagang siomay dan batagor yang biasa berjualan di samping bengkel motor, mengaku terpaksa menaikkan harga satu porsi dari Rp10 ribu menjadi Rp12 ribu. Kenaikan ini dipicu melonjaknya harga telur, kentang, dan ikan sebagai bahan utama.
“Sekarang satu porsi Rp12 ribu. Bahan-bahan naik semua,” ujarnya.
Meski harga naik 20 persen, Didin menegaskan tetap mempertahankan kualitas rasa dan resep lama demi menjaga kepercayaan pelanggan. Ia memilih menekan pengeluaran lain ketimbang mengurangi kualitas produk.
Untuk mengelola keuangan, Didin masih mencatat pemasukan dan pengeluaran secara manual. Ia juga belum memanfaatkan penjualan daring karena keterbatasan pemahaman teknologi, sehingga sepenuhnya mengandalkan pembeli yang datang langsung.
Sebelum Ramadan, omzet bersihnya mencapai sekitar Rp2 juta per bulan. Namun tiga pekan terakhir, pendapatan turun menjadi sekitar Rp1,5 juta per bulan. Penurunan sekitar 25 persen ini terasa berat karena ia juga menanggung biaya hidup di kos setelah merantau dari Bandung ke Lasem.
Sementara itu, pedagang pentol keliling yang dikenal sebagai Pak To menyebut daya beli relatif stabil, meski ia mengakui ada penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Untuk menarik pembeli, ia memanfaatkan siaran langsung melalui TikTok sebagai strategi promosi.
Ia berjualan keliling sebelum mangkal di depan MI An-Nashriyyah Lasem hingga sore, lalu melanjutkan ke sekitar Alun-Alun Lasem hingga malam. Menjelang Ramadan, jumlah produksi ia tingkatkan. Pentol kecil yang biasanya 1.500 butir per hari menjadi 3.000 butir, sedangkan pentol besar dari 500 menjadi 550 butir.
“Kalau tidak habis, disimpan di lemari es supaya tetap segar,” katanya.
Pak To berharap Ramadan dapat mendongkrak omzet dari rata-rata Rp2 juta per bulan menjadi Rp5-6 juta per bulan. Namun ia mengakui penurunan daya beli mulai terasa sejak akhir Desember akibat cuaca hujan berkepanjangan yang membatasi aktivitas masyarakat.
Ia juga kerap mendengar keluhan pelanggan terkait sulitnya memperoleh pekerjaan dengan upah sesuai UMR Rembang. Menurutnya, upah sekitar Rp2 juta umumnya hanya berlaku di sektor pabrik dan ritel, sementara sektor lain masih di bawah standar tersebut.
Para pedagang berharap Ramadan menjadi momentum pemulihan ekonomi, sehingga aktivitas jual beli kembali menggeliat dan usaha kecil dapat bertahan di tengah tekanan harga bahan baku dan lemahnya daya beli.