Saat Hati Dihuni Selain Allah - Tebuireng Online
Saat Hati Dihuni Selain Allah
Hati sering kali terasa penuh, namun entah mengapa tetap gelisah dan mudah lelah. Banyak hal silih berganti singgah di dalamnya: harapan pada manusia, ketakutan akan penilaian, ambisi yang tak kunjung usai, dan keinginan untuk selalu dipahami. Tanpa disadari, hati perlahan menjadi rumah bagi terlalu banyak hal, hingga ruang untuk tenang semakin sempit. Di titik inilah muncul pertanyaan yang lembut namun penting: siapa sebenarnya yang paling sering kita izinkan tinggal dalam hati?
Baca Juga: Kenapa Masih Galau Setelah Healing? Cek di Mana Hatimu Bersandar
Imam Ibnu ‘Arabi melalui karya monumentalnya al-Futūḥāt al-Makkiyyah menuturkan pesan-pesan spiritual yang indah, mendalam, dan tetap relevan hingga lintas zaman:
الْقَلْبُ كَالْبَيْتِ، إِذَا سَكَنَهُ غَيْرُ اللهِ خَرِبَ
“Hati itu seperti rumah, jika dihuni selain Allah, maka ia akan menjadi rusak.”
Hati diibaratkan seperti sebuah rumah yang diciptakan untuk menjadi tempat paling aman dan tenang. Ketika ia dihuni oleh kehadiran Allah, ketenteraman perlahan dirasakan dan arah hidup menjadi lebih jernih. Namun saat ruang hati dipenuhi oleh ketergantungan berlebihan pada manusia, ambisi duniawi, atau rasa takut yang terus dipelihara, ketenangan itu perlahan memudar. Bukan karena hati menjadi lemah, melainkan karena ia tidak lagi ditempati oleh sumber ketenangan sejatinya.
Baca Juga: Patah Hati Ternyata Plot Twist Terbaik dari Allah
Kerusakan hati sering kali tidak disadari, sebab ia terjadi secara halus. Hati tetap berfungsi, tetap merasakan, tetapi mudah gelisah dan rapuh. Ketika pujian menjadi sandaran, ia akan runtuh saat celaan datang. Ketika harapan digantungkan sepenuhnya pada makhluk, ia akan kecewa saat kenyataan tak sesuai harapan. Dalam kondisi seperti ini, hati seakan ramai, tetapi kehilangan rasa pulang.
Ketika Allah kembali dijadikan penghuni utama hati, perbaikan itu berlangsung perlahan namun nyata. Beban yang sebelumnya terasa berat mulai diringankan, dan kegelisahan yang lama menetap mulai menemukan jalan keluar. Bukan berarti masalah menghilang, tetapi hati menjadi lebih lapang dalam menghadapinya. Di sanalah hati kembali menjadi rumah yang utuh, bukan karena kosong dari ujian, melainkan karena dihuni oleh Yang Maha Menenangkan.
Satu ayat Al-Qur’an yang sangat relevan dengan gagasan bahwa hati hanya akan utuh jika dihuni oleh Allah adalah QS. Ar-Ra‘d ayat 28:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Baca Juga: Mengenal Tazkiyatun Nafs, Kunci Penyucian Hati dan Mendekatkan Diri kepada Allah
Ayat di atas menegaskan bahwa ketenteraman hati tidak lahir dari kepemilikan, pengakuan manusia, atau terpenuhinya keinginan duniawi, melainkan dari kehadiran Allah dalam hati. Ketika hati dipenuhi oleh dzikir dan kesadaran akan Allah, ia menjadi tenang meski keadaan hidup tidak selalu ideal. Sebaliknya, jika hati dihuni oleh selain-Nya sebagai sandaran utama, kegelisahan mudah tumbuh. Dengan demikian, ayat ini memperkuat makna bahwa hati adalah “rumah”, dan ketenangan hanya akan terjaga ketika Allah dijadikan penghuni utamanya.
Hati hanya perlu diajak kembali pulang. Bukan dengan paksaan, bukan pula dengan rasa bersalah yang berlebihan, melainkan dengan kesadaran yang pelan-pelan tumbuh. Ketika satu per satu hal yang selama ini memenuhi hati mulai diletakkan pada porsinya, ruang untuk Allah pun kembali terbuka. Dari sanalah ketenangan yang sederhana namun jujur bisa dirasakan, bukan karena hidup telah sempurna, tetapi karena hati akhirnya berada di tempat yang seharusnya.
Penulis: Silmi Adawiya
Editor: Rara Zarary
