0
News
    Home Berita Featured Fiqh Imam Al Ghozali Spesial

    Sudahkah Suami Paham Fikih Darah Wanita? Ini Standar Minimal dari Imam Al-Ghazali - Tebuireng

    4 min read

     

    Sudahkah Suami Paham Fikih Darah Wanita? Ini Standar Minimal dari Imam Al-Ghazali


    ilustrasi datang bulan atau menstruasi

    Menjalani kehidupan rumah tangga yang nyaman, tenang, dan bahagia menjadi cita-cita dari setiap pasangan suami istri, terlebih umat muslim. Dalam keluarga muslim, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pasangan suami istri, salah satunya ialah perihal siapa yang paling bertanggung jawab dalam permasalahan haid, nifas, dan istikhadloh.

    Umumnya sebelum perempuan menikah, pembahasan haid dan istikhadloh menjadi hal yang harus diketahui dan dipelajari oleh perempuan, karena ia pasti akan mengalaminya. Lantas, ketika perempuan telah menjalin hubungan rumah tangga dengan suami, siapakah yang paling bertanggung jawab dalam mengajari permasalahan darah yang dikelurkan perempuan (haid, nifas, dan istikhadloh)?.

    Suami Wajib Mengajari Ilmu Haid

    Hujjah al Islam, Abi Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, atau yang lebih kita kenal dengan Imam al-Ghazali dengan menguraikan jawaban dari pertanyaan di atas dalam kitab Masterpicenya yang berjudul Ihya al-Ulum al-Diin, berikut diksinya:

    أَنْ يَتَعَلَّمَ الْمُتَزَوِّجُ مِنْ عِلْمِ الْحَيْضِ وَأَحْكَامِهِ مَا يَحْتَرِزُ بِهِ الِاحْتِرَازَ الْوَاجِبَ وَيُعَلِّمَ زوجته أحكام الصلاة وما يقضى منها في الحيض وما لا يقضى فإنه أمر بأن يقيها النار بقوله تعالى {قوا أنفسكم وأهليكم ناراً} فعليه أن يلقنها اعتقاد أهل السنة ويزيل عن قلبها كل بدعة إن استمعت إليها ويخوفها في الله إن تساهلت في أمر الدين ويعلمها من أحكام الحيض والاستحاضة ما تحتاج إليه وعلم الاستحاضة يطول فأما الذي لا بد من إرشاد النساء إليه في أمر الحيض بيان الصلوات التي تقضيها فإنها مهما انقطع دمها قبيل المغرب بمقدار ركعة فعليها قضاء الظهر والعصر وإذا انقطع قبل الصبح بمقدار ركعة فعليها قضاء المغرب والعشاء وهذا أقل ما يراعيه النساء, فَإِنْ كَانَ الرَّجُلُ قَائِمًا بِتَعْلِيمِهَا فَلَيْسَ لَهَا الْخُرُوجُ لِسُؤَالِ الْعُلَمَاءِ.

    Imam Ghazali menyebutkan bahwa orang pertama yang bertanggung jawab adalah sang suami. Standar yang ditetapkan untuk seorang suami dalam rumah tangga perihal permasalahan darah adalah sang suami diharapkan mengajari istrinya permasalahan terkait haid dan hukum-hukumnya, begitu juga permasalahan istikhadloh. Dan juga, yang tidak kalah penting adalah, sang suami diharapkan mengajari istrinya tentang permasalahan shalat yang ada kaitannya dengan urusan darah. Imam Ghazali mencontohkah ketika ada darah yang mampet menjelang maghrib dengan kadar mampu untuk shalat satu rakaat, maka shalat yang wajib di-qodlo’ adalah Dluhur dan Ashar. Sama halnya ketika mampetnya sebelum shubuh dengan kadar mampu untuk shalat satu rakaat, maka shalat yang harus di-qodlo’ adalah maghrib dan isya’. Demikian standar yang harus dipenuhi oleh suami ketika berumah tangga perihal permasalahan darah. Ketika suami mampu untuk mengajarkannya, maka istri tidak diperkenankan untuk keluar menanyakan perihal darah kepada ulama’.

    Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

    Jika Suami Tidak Punya Ilmu tentang Haid

    Lantas, bagaimana kemudian dengan suami yang memiliki keterbatasan pengetahuan perihal permasalahan darah?, Imam al-Ghazali menyebutkan:

    وَإِنْ قَصُرَ عِلْمُ الرَّجُلِ وَلَكِنْ نَابَ عَنْهَا فِي السُّؤَالِ فَأَخْبَرَهَا بِجَوَابِ المفتي فليس لها خروج فَإِنْ لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ فَلَهَا الْخُرُوجُ لِلسُّؤَالِ بل عليها ذلك ويعصي الرجل بمنعها ومهما تعلمت ما هو من الفرائض عليها فليس لها أن تخرج إلى مجلس ذكر ولا إلى تعلم فضل إلا برضاه ومهما أهملت المرأة حكماً من أحكام الحيض والاستحاضة ولم يعلمها الرجل حرج الرجل معها وشاركها في الإثم.

    Ketika sang suami memiliki keterbatasan pengetahun perihal permasalahan darah, maka suami harus mencarikan jawaban kepada orang yang memberikan fatwa (Mufti) kemudian mengabarkan hasil jawabannya kepada istrinya. Dan ketika suami tidak mampu atau enggan mencarikan jawaban, maka diharuskan kepada si istri untuk bertanya dan mencari jawaban atas hal tersebut melalui tempat belajar, dengan catatan atas ridlo dari suaminya. Dan si suami terhitung bermaksiat ketika melarangnya. Dan ketika si suami memiliki keterbatasn pengetahun dan enggan untuk mencarikan jawaban, serta si istri juga enggan untuk mempelajarinya, maka keduanya terbilang berdosa.

    Dari penjelasan Imam al-Ghazali tersebut dapat disimpulkan bahwa suami menjadi orang pertama yang bertanggung jawab perihal permasalahan darah dalam rumah tangganya. Namun tidak menutup kemungkinan bagi pihak perempuan untuk tetap mempelajarinya bahkan sebelum berumah tangga. Karena kita tidak akan pernah tahu, dengan siapa kita akan menjalin rumah tangga di kemudian hari.

    Baca Juga: Darah Haid Berhenti di Waktu Ashar, Wajibkah Qodho’ Shalat Dzuhur?

    Penulis: Muhammad Habib Al Ansori

    Komentar
    Additional JS